PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sebagai mahasiswa psikologi, sangat penting untuk memahami apa itu
emosi dan stres beserta komponen-komponennya, mengingat emosi dan stres
merupakan salah satu gejala-gejala jiwa. Emosi adalah hal yang tidak bisa
dipisahkan dari kehidupan manusia. Begitu pula stres yang seringkali dianggap
negatif yang sebenarnya ada fungsi dan manfaat tertentu dari adanya stres.
Emosi dan stres juga sangat berpengaruh pada kondisi kesehatan seseorang.
Emosi merupakan salah satu karunia Tuhan yang diberikan kepada
makhluk-Nya, khususnya pada manusia. Tanpa emosi manusia tidak akan bisa
menjalani kehidupannya dengan baik dan seimbang. Emosi sangat mempengaruhi
perilaku manusia dalam kesehariannya dan dalam menghadapi berbagai macam
peristiwa. Keberhasilan dalam mengatur emosi adalah salah satu kunci mencapai
kesuksesan dan kebahagiaan hidup.
Stres merupakan salah satu penyebab perubahan emosi. Stres adalah
saat di mana seseorang mengalami tekanan atas suatu stimulus atau kondisi
tertentu. Orang yang stres emosinya juga akan mengalami perubahan atau bisa
dikatakan emosinya sedikit terganggu.
Semua manusia pasti memiliki
emosi dan pernah merasakan stress entah stres ringan atau bahkan stres yang
tergolong berat. Oleh karena itu, tidak hanya mahaiswa psikologi saja yang
harus memahami emosi dan stres, akan tetapi semua orang kiranya juga perlu memahami bagaimana emosi dan stres itu,
apa komponen-komponenya, penyebab-penyebabnya, dan segala yang berkaitan dengan
emosi dan stres agar lebih memahami dan dapat mengelola emosi dengan baik,
begitu pula saat menghadapi stres. Jika kita memahami bagaimana emosi dan stres
itu besar kemungkinannya pula kita lebih bijaksana dalam mengelola emosi dan
mengatasi stres.
Berdasarkan paparan tersebut, ditulislah makalah dengan judul Emosi
dan Stres. Selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Umum 2,
makalah ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat bagi siapa saja yang
membacanya, khususnya para mahasiswa psikologi
yang memang harus benar-benar memahami konsep-konsep tentang emosi dan
stres.
B.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah
dalam makalah ini dipaparkan sebagai berikut.
1.
Bagaimanakah pengertian emosi dan komponennya?
2.
Bagaimanakah pengertian stres dan komponennya?
3.
Bagaimanakah pengaruh budaya dalam pembentukan emosi dan stres?
C.
Tujuan
Tujuan dalam makalah
ini dipaparkan sebagai berikut.
1.
Mengetahui pengertian serta komponen emosi dan stres.
2.
Mengetahui pengertian stres dan komponennya.
3.
Memahami bagaimana pengaruh budaya dalam pembentukan emosi dan
stres.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Emosi dan Komponennya
1.
Pengertian Emosi
Kebanyakan orang mengetahui bahwa emosi identik dengan marah. Namun
demikian, emosi bukan hanya marah, melainkan juga mencakup beberapa hal. Emosi
adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi juga
merupakan reaksi terhadap seseorang atau kejadian (Muhammad, 2011: 10). Emosi
merupakan suatu stimulasi yang melibatkan perubahan pada tubuh dan wajah,
aktivasi pada otak, penilaian kognitif, perasaan subjektif, dan kecenderungan
melakukan suatu tindakan, yang dibentuk seluruhnya oleh peraturan-peraturan
yang terdapat di suatu kebudayaan (Tavris & Wade, 2007: 106).
Kata emosi berasal dari bahasa Prancis, emotion yang berasal
dari kata emouvoir yang berarti “kegembiraan”. Emosi juga berasal dari
bahasa Latin emovere, dari e- (varian eks) yang berarti “luar” dan movere
yang artinya “bergerak” (Muhammad, 2011: 12). Menurut JP Du Preez, emosi
adalah reaksi tubuh dalam menghadapi situasi tertentu. Sifat dan intensitasnya
berkaitan erat dengan aktivitas kognitif manusia sebagai hasil persepsi
terhadap situasi. Emosii merupakan hasil reaksi kognitif terhadap situasi
spesifik.
Semua emosi berasal dari sistem limbik, yakni bagian otak yang
ukurannya kira-kira sebesar sebuah kacang walnut dan terletak di batang otak.
Orang cenderung merasa bahagia ketika sistem limbik secara relatif tidak aktif.
Sistem limbik yang lebih aktif terdapat pada orang yang depresi, khususnya
ketika seseorang memperoleh informasi negatif. Dalam The Expression of the
Emotion in Man and Animals, Charles Darwin menyatakan bahwa emosi
berkembang seiring dengan waktu untuk membantu manusia memecahkan masalah.
Untuk itu, emosi dalam diri sangat berguna karena dapat memotivasi untuk
terlibat dalam tindakan penting agar bisa bertahan hidup. Ada beberapa macam
sumber-sumber emosi, yaitu kepribadian, hari dalam seminggu dan waktu dalam
sehari, cuaca, stres, aktivitas sosial, kualitas tidur, olahraga, usia, dan
gender (Muhammad, 2011: 15-20).
2.
Komponen Emosi
Dalam mendefinisikan emosi, para psikolog berfokus pada tiga
komponen utama, yaitu perubahan fisiologis pada wajah, otak, dan tubuh; proses
kognitif seperti interpretasi suatu peristiwa; serta pengaruh budaya
yang membentuk pengalaman serta ekspresi emosi. Apabila kita ibaratkan emosi
manusia sebagai pohon, hubungan antara kapasitas biologis dengan emosi dapat
diumpamakan sebagai batang dan akar; pemikiran dan penjelasan sebagai
cabang-cabangnya; dan budaya adalah tukang kebun yang membentuk pohon tersebut,
memotong bagian tertentu dan menumbuhkan bagian lainnya (Tavris & Wade,
2007: 106).
1.
Perubahan Fisiologis
Penelitian mengenai aspek-aspek fisiologis dari emosi menunjukkan
bahwa manusia memiliki emosi primer sejak lahir. Emosi primer merupakan emosi
yang dianggap sebagai emosi yang berlaku secara umum dan memiliki dasar
biologis, seperti rasa marah, takut, sedih, senang, terkejut, dan jijik.
Emosi-emosi tersebut memiliki pola fisiologis yang berbeda-beda dan menghasilkan
ekspresi wajah yang berbeda-beda. Sebaliknya, emosi sekunder merupakan emosi
yang berkembang sejalan dengan pertambahan kedewasaan kognitif seseorang dan
berbeda-beda untuk tiap individu dan kebudayaan. Terdapat tiga aspek fisiologis atau biologs
utama dari emosi, yaitu ekspresi wajah, bagian-bagian sirkuit pada otak, dan
sistem saraf otonom (Tavris & Wade, 2007: 107).
a.
Ekspresi Wajah
Para psikolog modern bersepakat bahwa terdapat beberapa raut
ekspresi manusia yang dikenali di berbagai belahan dunia. Paul Ekman dan beberapa temannya telah
mengumpulkan bukti-bukti yang menunjukkan tujuh ekspresi emosi raut wajah yang
berlaku secara umum di dunia. Ekspresi-ekspresi tersebut mewakili emosi-emosi
primer, yakni marah, senang, takut, terkejut, jijik, sedih, dan tidak suka
(Ekman, 1997; Ekman dkk., 1987 dalam Tavris & Wade, 2007: 107). Masyarakat
yang tinggal di daerah yang terpencil dan terisolasi, seperti suku Fore di
Papua Nugini mampu mengidentifikasikan emosi dasar pada foto-foto orang asing. Sebaliknya, para
partisipan dari masyarakat Barat juga mampu mengenali ekspresi-ekspresi emosi
dasar yang ditunjukkan orang-orang suku tersebut dalam foto.
Ekspresi wajah tidak hanya merefleksikan perasaan seseorang, tetapi
juga dapat mempengaruhi perasaan orang tersebut. Proses ini disebut facial
feedback (umpan balik raut wajah) di mana otot-otot wajah mengirimkan pesan
mengenai emosi dasar yang sedang diekspresikan ke otak. Facial feedback akan
mempengaruhi kondisi emosi seseorang. Sebagai contoh, saat seseorang diminta
mengontraksikan otot-otot wajah yang terlibat dalam ekspresi marah, partisipan
benar-benar merasakan emosi marah.
Pada bayi, ekspresi wajah sangat penting bagi mereka untuk
berkomunikasi dengan orang dewasa. Melalui ekspresi wajah, bayi dapat
menunjukkan kepada orang dewasa apakah ia merasa senang, sedih, atau takut.
Bayi juga mengetahui perasaan orang dewasa dengan melihat ekspresi wajah
mereka.
b.
Otak
Para ilmuwan fisiologi telah mengidentifikasi bagian otak yang
mengatur emosi yang berbeda dan mengatur komponen spesifik terkait pengalaman
emosional. Area-area tertentu mengendalikan emosi-emosi tertentu, semisal jijik
dan mengendalikan beberapa aspek emosi
yang berbeda-beda, seperti mengenali ekspresi wajah pada orang lain dan
kemampuan mengekspresikan emosi.
Bagian amigdala memiliki peran penting dalam emosi, terutama rasa
takut. Amigdala bertugas mengevaluasi informasi sensorik yang kita terima, kemudian
dengan cepat menentukan kepentingan emosionalnya dan membuat keputusan untuk
mendekati atau menjauhi suatu objek atau situasi (Adolphs, 2001; LeDoux, 1996
dalam Tavris & Wade, 2007: 113). Amigdala bekerja dengan cepat dalam
mengevaluasi bahaya atau ancaman dan ini adalah hal yang baik.
Prefrontal cortex bertugas
menganalisis derajat kepentingan informasi emosional dari amigdala. Bagian kiri
prefrontal cortex terasosiasi dengan emosi ”mendekati” , seperti senang
dan marah, sedangkan bagian kanan terasosiasi dengan emosi “menjauhi”, seperti
takut dan sedih. Saraf cermin merupakan suatu kelompok sel yang terdistribusi
melalui berbagai bagian otak dan ditembakkan saat seseorang melihat atau
mendengar tindakan orang lain dan kemudian ia melakukan tindakan yang persis
sama. Sel-sel ini ditemukan pada berbagai bagian dari otak, dan berfungsi
meniru tindakan atau emosi orang lain, menimbulkan empati terhadap orang lain
terkait perasaan sakit atau emosi lainnya. Cerebral Hemisphere memiliki
spesialisasi berbeda-beda. Hemisfer kanan terlibat dalam identifikasi ekspresi
emosi dan memproses warna emosi, sedangkan hemisfer kiri terlibat dalam
pemrosesan makna emosional (Tavris & Wade, 2007: 118).
c.
Sistem Saraf Otonom
Sistem saraf otonom mengaktifkan hormon epinephrine dan norepinephrine
yang menghasilkan energi dan kesiagaan. Para pembawa pesan kimiawi ini akan
memberikan stimulasi yang kuat dan menyebabkan kita menjadi lebih siaga. Pupil
mata akan melebar sehingga memungkinkan mata menerima lebih banyak cahaya,
detak jantung akan meningkat sehingga kecepatan nafas pun meningkat dan tekanan
darah juga meningkat, sehingga menghasilkan energi tambahan agar tubuh dapat
lebih cepat bergerak (Tavris & Wade,
2007: 116).
2.
Proses Kognisi
Sejumlah psikolog telah mempelajari proses kognitif yang terlibat
dalam emosi, seperti atribusi seseorang terhadap perilaku orang lain dan cara
orang menginterpretasi dan mengevaluasi situasi. Kognisi terlibat dalam emosi,
mulai dari persepsi awal dari suatu peristiwa hingga filosofi kehidupan seseorang.
Persepsi berperan aktif dalam setiap emosi. Emosi dapat dihasilkan dan
dipengaruhi oleh keyakinan, persepsi terhadap situasi, harapan dan atribusi.
Inilah penjelasan bahwa orang menciptakan perilakunya sendiri dan perilaku
orang lain. Manusia merupakan satu-satunya spesies yang mampu mengatakan,
“Semakin saya memikirkan hal itu, semakin marah saya jadinya!” (Tavris
&Wade, 2007: 122).
3.
Pengaruh Budaya
Banyak psikolog yang meyakini bahwa semua manusia memiliki
kemampuan untuk mengalami emosi primer, sedangkan emosi sekunder sifatnya lebih
spesifik pada budaya. Namun mereka juga meyakini bahwa budaya mempengaruhi
semua aspek pengalaman emosional, termasuk jenis-jenis emosi yang dikategorikan
sebagai emosi dasar. Seluruh peneliti sepakat bahwa budaya mempengaruhi
jenis-jenis penyebab yang dapat menimbulkan emosi pada orang dalam budaya
tersebut (Tavris & Wade, 2007: 140).
B.
Stres dan Komponennya
1.
Pengertian Stres
Dalam pengertian umum, stres adalah suatu tekanan atau sesuatu yang
terasa menekan dalam diri individu. Sesuatu tersebut dapat terjadi disebabkan
oleh ketidakseimbangan antara harapan dan kenyataan yang diinginkan oleh
individu, baik keinginan yang besifat jasmaniah maupun rohaniah. Menurut
McGrath dalam Weinberg dan Gould (2003:81), stres didiefinisikan sebagai a
substantial imbalance between demand (physical and/or psychological) and
resonse capability, under condition where failure to meet that demand has
impotance consequences. Artinya, stres akan muncul pada individu bila
ketidakseimbangan atau kegagalan individu dalam memenuhi kebutuhannya baik yang
bersifat jasmani maupun rohani (Sukadiyanto, 2010:56).
Seyle (dalam Prabowo, 1998) mendefinisikan stres sebagai respon
yang tidak spesifik dari tubuh pada tiap tuntutan yang dikenakan padanya.
Sedangkan Korchin (dalam Prabowo, 1998) menyatakan bahwa keadaan stres muncul
apabila tuntutan-tuntutan yang luar biasa atau terlalu banyak mengancam
kesejahteraan atau integritas seseorang. Dari beberapa definisi, dapat
disimpulkan bahwa stres merupakan suatu keadaan psikologis individu yang
disebabkan oleh tuntutan-tuntutan yang terlalu banyak yang bersumber dari
kondisi internal maupun eksternal sehingga terancam kesejahteraannya.
Sebenarnya, stres tidak selalu memiliki nilai negatif. Sedikit
stres baik untuk kita. Jika kita dihadapkan pada tantangan atau disuruh
melakukan pekerjaan yang tidak kita sukai, seringkali kita dapati ternyata kita
bisa mencapai target yang sudah kita tetapkan. Kita akan merasa lebih baik
karena berhasil menyelesaikannya. Menghadapi tantangan dan mengatasinya
mencegah seseorang dari rasa kejenuhan. Akan tetapi, terlalu banyak stres dapat
mengganggu kesehatn, kesejahteraan, dan mengganggu pekerjaan serta kehidupan
sosial seseorang (Wilkinson, 2002: 7-8).
2.
Komponen Stres
Stres memiliki tiga komponen
(Musradinur, 2016: 187), yaitu sebagai berikut.
1.
Komponen Stimulus
Komponen
stimulus yaitu faktor-faktor penyebab adanya ketegangan atau stres itu sendiri.
Keadaan atau situasi dan peristiwa yang dirasakan mengancam atau membahayakan
yang menghasilkan perasaan tegang disebut sebagai stressor. Beberapa
ahli mengkategorikan stressor menjadi tiga hal, yaitu peristiwa katastropik,
misalnya tornado atau gempa bumi, peristiwa hidup yang penting, misalnya
kehilangan pekerjaan, dan keadaan kronis, misalnya hidup dalam kondisi bising.
2.
Komponen Respons
Respons
adalah reaksi seseorang terhadap stressor. Komponen respons terdiri atas
komponen fisiologis, seperti detak jantung, mulut yang mongering, dan sakit
perut, serta komponen psikologis seperti perilaku, pola berpikir dan emosi.
Kedua respons tersebut disebut dengan starin atau ketegangan.
3.
Komponen Proses
Stres
sebagai suatu proses terdiri dari stressor dan strain ditambah dengan satu
dimensi penting yaitu hubungan antara manusia dengan lingkungan. Proses ini
melibatkan interaksi dan penyesuaian diri yang kontinyu, yang disebut juga
dengan istilah transaksi antara manusia dengan lingkungan, yang di dalamnya termasuk
perasaan yang dialami dn bagaimana orang lain merasakannya.
3.
Sumber-sumber Stres
Stres bersumber dari frustasi dan konflik yang dialami individu
yang dapat berasal dari berbagai bidang kehidupan manusia. Dalam hal hambatan,
ada beberapa macam hambatan yang biasanya dihadapi individu. Pertama,
hambatan fisik seperti kemiskinan, kekurangan gizi, dan bencana alam. Kedua,
hambatan sosial seperti kondisi perekonomian yang tidak bagus dan
persaingan hidup yang keras. Ketiga, hambatan pribadi seperti cacat
fisik dan penampilan fisik yang kurang menarik. (Ardani, 2013: 78).
Perubahan yang terlalu besar dan cepat dibandingkan kemampuan kita
untuk menerimanya juga bisa menimbulkan stres. Secara umum, semakin banyak
peristiwa yang kita alami dalam kurun waktu tertentu dan semakin tinggi tingkat
stresnya, akan semakin banyak stres yang kit alami. Beratnya stres juga
dipengaruhi oleh pentingnya kejadian dan perubahan yang dialami. Stres juga
dapat timbul akibat peristiwa yang menyenangkan, seperti menikah, memenangkan
hadiah uang, mendapat bayi, atau peristiwa yang menyedihkan, seperti kehilangan
anggota keluarga. (Wilkinson, 2002:12).
Belum tentu semua individu yang mengalami suatu peristiwa atau
menerima stimulus peyebab stres akan menjadikannya stres. Suatu stimulus yang
sama akan direspon secara berbeda oleh individu yang berbeda. Artinya, tidak semua
stimulus akan direspon menjadi stres oleh semua individu. Hal ini dikarenakan
adanya perbedaan setiap individu dalam menyikapi situasi, kemampuan meredam
stimulus, pengalaman hidup, tingkat kepekaan atau sensivitas dan daya toleransi
individu terhdap stimulus. Pada dasarnya, setiap individu memiliki ambang
rangsang terhadap stres yang berbeda-beda dalam setiap situasi. Suatu stimulus
pada saat tertentu dapat menimbulkan stres, tetapi pada situasi yang berbeda
dapat juga tidak menimbulkan stres (Sukadiyanto, 2010:56).
4.
Tahapan Stres
Seyle (dalam Tavris & Wade, 2007:14-15) mengidentifikasikan 3
tahap dalam respon sistemik tubuh terhadap kondisi-kondisi penuh stres yang
disitilahkan General Adaptation Syndrome (GAS), Yaitu;
a.
Fase Alarm ( Alarm Phase)
Organisme berorientasi pada tuntutan yang diberikan oleh
lingkungannya dan mulai menghayatinya sebagai ancaman. Ini adalah fase saat
tubuh menggerakkan sistem saraf simpatetik untuk menghadapi ancaman langsung.
b.
Fase Penolakan (Resistance Phase)
Organisme memobilisasi sumber-sumbernya supaya mampu menghadapi tuntutan. Ini
merupakan fase saat tubuh berusaha menolak atau mengatasi stressor yang tidak
dapat dihindari.
c.
Fase Kelelahan (Exhaustion Phase)
Jika tuntutan berlangsung lama, maka sumber-sumber penyesuaian ini
mulai habis dan organisme akan kehabisan tenaga. Jika reaksi badan tidak cukup,
berlebihan atau salah maka reaksi badan itu sendiri dapat menimbulkan penyakit.
5.
Gejala Stres
Menurut Visisdes, Eddy dan Mozie (dalam Rice, 1998) secara umum,
gejala stres diidentifikasikan ke dalam empat tipe berbeda, yaitu perilaku,
emosi, kognitif dan fisik.
a.
Gejala Perilaku
Ada banyak perilaku yang menunjukkan stres, di antaranya yaitu
penundaan dan menghindar, menarik diri dari teman dan keluarga, kehilangan
nafsu makan dan tenaga, emosi yang meledak, memulai atau peningkatan penggunaan
obat-obatan secara dramatis, perubahan pola tidur, dan melalaikan tanggung
jawab.
b.
Gejala Emosi
Sebagian besar gejala emosi pada stres adalah kecemasan, ketakutan,
cepat marah dan depresi. Gejala lainnya yaitu frustasi, perasaan yang tidak
menentu dan kehilangan kontrol. Di dalam pekerjaan, stres ditunjukkan dengan
kehilangan semangat dan penurunan kepuasan kerja.
c.
Gejala Kognitif
Di antara sebagian besar gejala mental atau kejiwaan dari stres
adalah kehilangan motivasi dan konsentrasi. Hal ini terlihat pada seseorang
yang kehilangan kemampuan untuk memusatkan perhatian pada tugas yang diberikan
dan kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan tugas dengan baik. Gejala mental
lainnya adalah kehilangan ingatan, kesalahn persepsi, kebingungan, terjadi
penurunan kemampuan dalam pengambilan keputusan, dan lemah dalam menyelesaikan
maslah.
d.
Gejala Fisik
Di antara gejala fisik dari stres adalah kelelahan secara fisik dan
keadaan fisik yang lemah, migran dan kepala pusing, sakit punggung, ketegangan
otot yang ditandai gemetar dan kejang. Dalam sistem kardiovaskular, stres
ditandai dengan percepatan denyut jantung, dan hipertensi.
6.
Dampak Stres
Menurut Rini (2002), dampak stres bagi individu adalah munculnya
masalah-masalah yang berhubungan dengan kesehatan, psikologis dan interaksi
interpersonal.
a.
Kesehatan
Jika respon stres berlangsung dalam waktu lama, atau sering terjadi
pada waktu yang tidak tepat maka besar kemungkinannya akan timbul penyakit,
seperti tekanan darah tinggi, gangguan kekebalan tubuh, perubahan nafsu makan,
resiko serangan jantung, radang kandung kemih, diare, rambut rontok, dan lain
sebagainya. Meningkatnya produksi hormon adrenalin dan kortisol pada saat stres menyebabkan
perubahan dalam denyut jantung, tekanan darah, dan metabolism (Wilkinson, 2002:
19).
b.
Psikologis
Stres berkepanjangan akan menyebabkan ketegangan dan kecemasan yang
terus-menerus. Stres kronis umumnya terjadi seputar masalah kemiskinan,
kekecauan keluarga, atau ketidakpuasan dalam pekerjaan. Akibatnya orang akan
terus-menerus merasa tertekan dan kehilangan harapan. Dampak lain misalnya
merasa lelah secara mental, merasa tegang dan tidak bisa rileks, frustasi dan
ingin marah, dan berkurangnya kemampuan merasakan senang.
c.
Interaksi Interpersonal
Orang stres cenderung mengaitkan segala sesuatu dengan dirinya.
Pada tingkat stres yang berat, orang bisa menjadi depresi, kehilangan rasa
percaya diri dan harga diri. Akibatnya, ia lebih banyak menarik diri dari
lingkungan, tidak lagi mengikuti kegiatan yang biasa dilakukan, jarang
berkumpul dengan sesamanya, lebih mudah menyendiri, mudah tersinggung dan mudah
marah.
C.
Pengaruh Budaya dalam Pembentukan Emosi dan Stres
1.
Pengaruh Budaya dalam Pembentukan Emosi
Banyak psikolog meyakini bahwa semua manusia memiliki kemampuan
untuk mengalami emosi primer, seperti marah, senang, sedih, dan takut,
sedangkan emosi sekunder lebih bersifat spesifik pada budaya, suatu pandangan
yang didukung oleh penelitian pada prototip emosi. Namun, para psikolog
budaya meyakini bahwa budaya memepengaruhi semua aspek pengalaman emosional,
termasuk jenis-jenis emosi yang dikategorikan sebagai emosi-emosi dasar.
Seluruh peneliti sepakat bahwa budaya mempengaruhi jenis-jenis penyebab yang
dapat menimbulkan emosi pada orang dalam budaya tersebut (Tavris & Wade,
2007:140).
Sebagai contoh, kemampuan merasakan jijik berlaku secara universal,
namun penyebab timbulnya rasa jijik mengalami perubahan sejalan dengan tahapan
perkembangan, begitu pula pada penyebab rasa jijik tersebut di mana akan
berbeda-beda pada tiap budaya. Pada beberapa budaya, orang-orang merasa jijik
pada ulat. Namun, pada masyarakat suku Dani ulat dianggap sebagai makanan lezat
(Tavris & Wade, 2007:129-130).
Menurut Kitayama dan Markus (dalam Tavris & Wade, 2007:129),
pengaruh budaya pada emosi juga mempengaruhi penggolongan emosi primer dan
sekunder pada masing-masing budaya. Misalnya, pada masyarakat Barat yang
individualistis, rasa marah dianggap sebagai salah satu emosi primer. Namun,
pada msyarakat yang berorientasi pada kelompok, rasa malu dan kehilangan muka
merupakan emosi yang lebih utama.
Budaya juga sangat memperngaruhi aturan menampilkan emosi (display
rules), suatu peraturan yang mengatur seseorang untuk mengekspresikan
perasaannya dan cara pengekspresian emosi tersebut. Orang Jepang lebih sering
tersenyum daripada orang Amerika, untuk menyembunyikan rasa malu, marah, atau
emosi negatif lain, sebab
perasaan-perasaan tersebut dianggap tidak sopan dan tidak baik apabila
ditunjukkan pada orang banyak. Pada beberapa budaya, duka diekspresikan dalam
keheningan tanpa air mata, pada budaya lain duka justru diekspresikan melalui
tarian yang meriah, minuman, dan lagu (Tavris & Wade, 2007:131).
2.
Pengaruh Budaya terhadap Stres
Budaya tidak hanya berpengaruh pada pembentukan emosi seseorang,
akan tetapi juga memilki andil terhadap stres yang dialami seseorang yang hidup
dalam budaya tersebut. Lingkungan memiliki nilai positif dan negatif terhadap
perilaku masing-masing individu sesuai pemahaman kelompok dalam masyarakat
tersebut. Tuntutan inilah yang dapat membuat individu tersebut harus selalu
berperilaku positif sesuai pandangan masyarakat di lingkungan tersebut
(Musradinur, 2016: 193-194). Hal inilah yang tanpa disadari dapat memicu stres
bagi beberapa orang tertentu. Misalnya, seseorang yang hidup di lingkungan yang
agamis yang memiliki kesukaan bermain gitar. Lingkungan orang tersebut yang
sangat fanatik memandang apa yang dilakukan orang tersebut adalah kurang baik.
Seringkali orang tersebut mendapat teguran bahkan celaan dari orang-orang di
sekitarnya. Hal ini dapat menimbulkan stres pada orang tersebut mengingat
bermain gitar adalah hal yang disukainya akan tetapi mendapat penolakan dari
lingkungannya.
Bukan hanya tentang perilaku individu, budaya masyarakat di suatu
daerah juga berkenaan tentang standar hidup yang dicapai individu dalam
masyarakat tersebut. Di lingkungan perkotaan, orang yang dipandang sukses
adalah orang yang memiliki banyak uang, memiliki karir yang cemerlang, memiliki
kekuasaan, dan lain sebagainya. Akan tetapi, bagi masyarakat desa yang jauh
dari perkotaan dan masih memiliki budaya yang agamis, ukuran sukses yang
seperti itu tidak terlalu diunggulkan. Bagi mereka, hidup yang sukses adalah
hidup dengan baik, memiliki perilaku yang baik terhadap masyarakat, dan taat
beragama. Hal itu tentu saja sangat mempengaruhi kondisi kejiwaan individu di
dalamya di mana orang yang hidup di lingkungan perkotaan akan mudah mengalami
stres karena menghadapi persaingan hidup yang luar biasa, sedangkan masyarakat
desa cenderung hidup dengan damai karena standar hidup yang dijadikan acuan
bukan hal yang sulit untuk dicapai.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas, penulis dapat mengambil beberapa
kesimpulan akhir, yaitu sebagai berikut.
1. Emosi adalah situasi stimulasi yang melibatkan perubahan pada tubuh
dan wajah, aktivasi pada otak, penilaian kognitif, perasaa subjektif, dan kecenderungan
melakukan suatu tindakan, yang dibentuk seluruhnya oleh peraturan-peraturan
yang terdapat di suatu kebudayaan.Emosi
merupakan perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi
memiliki beberapa komponen. Pertama adalah perubahan fisiologis yang meliputi
ekspresi wajah, otak, dan sistem saraf otonom. Kedua, proses kogniti dan yang
ketiga adalah pengaruh budaya.
2.
Stres adalah suatu tekanan atau sesuatu yang terasa menekan dalam
diri individu. Sesuatu tersebut dapat terjadi disebabkan oleh ketidakseimbangan
antara harapan dan kenyataan yang diinginkan oleh individu, baik keinginan yang
besifat jasmaniah maupun rohaniah. Komponen-komponen stres meliputi komponen
stimulus, respon, dan proses. Komponen stimulus meliputi peristiwa katastropik,
peristiwa hidup yang penting dan keadaan kronis. Komponen respons meliputi
fisiologis dan psikologis.Proses merupakan interaksi dan penyesuaian diri yang
kontinyu, yang disebut juga dengan istilah transaksi antara manusia dengan
lingkungan, yang di dalamnya termasuk perasaan yang dialami dan bagaimana orang
lain merasakannya.
3.
Budaya mempengaruhi jenis-jenis penyebab yang dapat menimbulkan
emosi pada orang dalam budaya tersebut. Budaya juga mempengaruhi aturan
menampilkan emosi (display rules), suatu aturan yang mengatur seseorang
untuk mengekspresikan perasaannya dan cara pengekspresian emosi tersebut.
Budaya juga berpengaruh pada kondisi kejiwaan individu dalam lingkungan budaya
tersebut, termasuk terjadinya stres. Pandangan positif dan negatif terhadap
perilaku individu serta ukuran standar kehidupan yang layak merupakan contoh
dari budaya yang dapat mempengaruhi terjadinya stres pada individu dalam
masyarakat tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Ardani,
T.A. 2013. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Bandung : CV. Karya Putra
Darwati.
Muhammad,
As’adi. 2011. Cara Kerja Emoai & Pikiran Manusia. Yogyakarta : Diva
Press.
Musradinur.
2016. Stres dan Cara Mengatasinya dalam Perspektif Psikologi. Jurnal
Edukasi. Vol.2 No.2 : 187-194.
Prabowo, H. 1998. Pengantar Psikologi Lingkungan. Jakarta :
Gunadarma.
Rice,
P.L. 1998. Stress and Health, Third Edition. Moorhead Stale University :
Brooks/Cole Publishing Company.
Rini,
F.R. 2002. Dampak Stres terhadap Individu. http://e-psikologi.com/masalah/stress.html. (Diakses pada 11 Februari 2017).
Sukadiyanto.
2010. Stres dan Cara Menguranginya. Jurnal Cakrawala Pendidikan. Vol.1
No.1 : 56.
Tavris, C dan Wade, C. 2007. Psikologi, Edisi ke-9. Jakarta
: Penerbit Erlangga.
Wilkinson,
Greg. 2002. Seri Kesehatan, Bimbingan Dokter pada Stress. Jakarta : Dian
Rakyat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar