Sabtu, 18 November 2017

MAKALAH EMOSI DAN STRES-NURSAADAH



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sebagai mahasiswa psikologi, sangat penting untuk memahami apa itu emosi dan stres beserta komponen-komponennya, mengingat emosi dan stres merupakan salah satu gejala-gejala jiwa. Emosi adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Begitu pula stres yang seringkali dianggap negatif yang sebenarnya ada fungsi dan manfaat tertentu dari adanya stres. Emosi dan stres juga sangat berpengaruh pada kondisi kesehatan seseorang.
Emosi merupakan salah satu karunia Tuhan yang diberikan kepada makhluk-Nya, khususnya pada manusia. Tanpa emosi manusia tidak akan bisa menjalani kehidupannya dengan baik dan seimbang. Emosi sangat mempengaruhi perilaku manusia dalam kesehariannya dan dalam menghadapi berbagai macam peristiwa. Keberhasilan dalam mengatur emosi adalah salah satu kunci mencapai kesuksesan dan kebahagiaan hidup.
Stres merupakan salah satu penyebab perubahan emosi. Stres adalah saat di mana seseorang mengalami tekanan atas suatu stimulus atau kondisi tertentu. Orang yang stres emosinya juga akan mengalami perubahan atau bisa dikatakan emosinya sedikit terganggu.
 Semua manusia pasti memiliki emosi dan pernah merasakan stress entah stres ringan atau bahkan stres yang tergolong berat. Oleh karena itu, tidak hanya mahaiswa psikologi saja yang harus memahami emosi dan stres, akan tetapi semua orang kiranya juga  perlu memahami bagaimana emosi dan stres itu, apa komponen-komponenya, penyebab-penyebabnya, dan segala yang berkaitan dengan emosi dan stres agar lebih memahami dan dapat mengelola emosi dengan baik, begitu pula saat menghadapi stres. Jika kita memahami bagaimana emosi dan stres itu besar kemungkinannya pula kita lebih bijaksana dalam mengelola emosi dan mengatasi stres.
Berdasarkan paparan tersebut, ditulislah makalah dengan judul Emosi dan Stres. Selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Umum 2, makalah ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat bagi siapa saja yang membacanya, khususnya para mahasiswa psikologi  yang memang harus benar-benar memahami konsep-konsep tentang emosi dan stres.
B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini dipaparkan sebagai berikut.
1.      Bagaimanakah pengertian emosi dan komponennya?
2.      Bagaimanakah pengertian stres dan komponennya?
3.      Bagaimanakah pengaruh budaya dalam pembentukan emosi dan stres?
C.    Tujuan
Tujuan dalam makalah ini dipaparkan sebagai berikut.
1.      Mengetahui pengertian serta komponen emosi dan stres.
2.      Mengetahui pengertian stres dan komponennya.
3.      Memahami bagaimana pengaruh budaya dalam pembentukan emosi dan stres.











BAB II
PEMBAHASAN

A.    Emosi dan Komponennya
1.      Pengertian Emosi
Kebanyakan orang mengetahui bahwa emosi identik dengan marah. Namun demikian, emosi bukan hanya marah, melainkan juga mencakup beberapa hal. Emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi juga merupakan reaksi terhadap seseorang atau kejadian (Muhammad, 2011: 10). Emosi merupakan suatu stimulasi yang melibatkan perubahan pada tubuh dan wajah, aktivasi pada otak, penilaian kognitif, perasaan subjektif, dan kecenderungan melakukan suatu tindakan, yang dibentuk seluruhnya oleh peraturan-peraturan yang terdapat di suatu kebudayaan (Tavris & Wade, 2007: 106).
Kata emosi berasal dari bahasa Prancis, emotion yang berasal dari kata emouvoir yang berarti “kegembiraan”. Emosi juga berasal dari bahasa Latin emovere, dari e- (varian eks) yang berarti “luar” dan movere yang artinya “bergerak” (Muhammad, 2011: 12). Menurut JP Du Preez, emosi adalah reaksi tubuh dalam menghadapi situasi tertentu. Sifat dan intensitasnya berkaitan erat dengan aktivitas kognitif manusia sebagai hasil persepsi terhadap situasi. Emosii merupakan hasil reaksi kognitif terhadap situasi spesifik.
Semua emosi berasal dari sistem limbik, yakni bagian otak yang ukurannya kira-kira sebesar sebuah kacang walnut dan terletak di batang otak. Orang cenderung merasa bahagia ketika sistem limbik secara relatif tidak aktif. Sistem limbik yang lebih aktif terdapat pada orang yang depresi, khususnya ketika seseorang memperoleh informasi negatif. Dalam The Expression of the Emotion in Man and Animals, Charles Darwin menyatakan bahwa emosi berkembang seiring dengan waktu untuk membantu manusia memecahkan masalah. Untuk itu, emosi dalam diri sangat berguna karena dapat memotivasi untuk terlibat dalam tindakan penting agar bisa bertahan hidup. Ada beberapa macam sumber-sumber emosi, yaitu kepribadian, hari dalam seminggu dan waktu dalam sehari, cuaca, stres, aktivitas sosial, kualitas tidur, olahraga, usia, dan gender (Muhammad, 2011: 15-20).

2.      Komponen Emosi
Dalam mendefinisikan emosi, para psikolog berfokus pada tiga komponen utama, yaitu perubahan fisiologis pada wajah, otak, dan tubuh; proses kognitif seperti interpretasi suatu peristiwa; serta pengaruh budaya yang membentuk pengalaman serta ekspresi emosi. Apabila kita ibaratkan emosi manusia sebagai pohon, hubungan antara kapasitas biologis dengan emosi dapat diumpamakan sebagai batang dan akar; pemikiran dan penjelasan sebagai cabang-cabangnya; dan budaya adalah tukang kebun yang membentuk pohon tersebut, memotong bagian tertentu dan menumbuhkan bagian lainnya (Tavris & Wade, 2007: 106).

1.      Perubahan Fisiologis
Penelitian mengenai aspek-aspek fisiologis dari emosi menunjukkan bahwa manusia memiliki emosi primer sejak lahir. Emosi primer merupakan emosi yang dianggap sebagai emosi yang berlaku secara umum dan memiliki dasar biologis, seperti rasa marah, takut, sedih, senang, terkejut, dan jijik. Emosi-emosi tersebut memiliki pola fisiologis yang berbeda-beda dan menghasilkan ekspresi wajah yang berbeda-beda. Sebaliknya, emosi sekunder merupakan emosi yang berkembang sejalan dengan pertambahan kedewasaan kognitif seseorang dan berbeda-beda untuk tiap individu dan kebudayaan.  Terdapat tiga aspek fisiologis atau biologs utama dari emosi, yaitu ekspresi wajah, bagian-bagian sirkuit pada otak, dan sistem saraf otonom (Tavris & Wade, 2007: 107).


a.       Ekspresi Wajah
Para psikolog modern bersepakat bahwa terdapat beberapa raut ekspresi manusia yang dikenali di berbagai belahan dunia.  Paul Ekman dan beberapa temannya telah mengumpulkan bukti-bukti yang menunjukkan tujuh ekspresi emosi raut wajah yang berlaku secara umum di dunia. Ekspresi-ekspresi tersebut mewakili emosi-emosi primer, yakni marah, senang, takut, terkejut, jijik, sedih, dan tidak suka (Ekman, 1997; Ekman dkk., 1987 dalam Tavris & Wade, 2007: 107). Masyarakat yang tinggal di daerah yang terpencil dan terisolasi, seperti suku Fore di Papua Nugini mampu mengidentifikasikan emosi dasar  pada foto-foto orang asing. Sebaliknya, para partisipan dari masyarakat Barat juga mampu mengenali ekspresi-ekspresi emosi dasar yang ditunjukkan orang-orang suku tersebut dalam foto.
Ekspresi wajah tidak hanya merefleksikan perasaan seseorang, tetapi juga dapat mempengaruhi perasaan orang tersebut. Proses ini disebut facial feedback (umpan balik raut wajah) di mana otot-otot wajah mengirimkan pesan mengenai emosi dasar yang sedang diekspresikan ke otak. Facial feedback akan mempengaruhi kondisi emosi seseorang. Sebagai contoh, saat seseorang diminta mengontraksikan otot-otot wajah yang terlibat dalam ekspresi marah, partisipan benar-benar merasakan emosi marah.
Pada bayi, ekspresi wajah sangat penting bagi mereka untuk berkomunikasi dengan orang dewasa. Melalui ekspresi wajah, bayi dapat menunjukkan kepada orang dewasa apakah ia merasa senang, sedih, atau takut. Bayi juga mengetahui perasaan orang dewasa dengan melihat ekspresi wajah mereka.

b.      Otak
Para ilmuwan fisiologi telah mengidentifikasi bagian otak yang mengatur emosi yang berbeda dan mengatur komponen spesifik terkait pengalaman emosional. Area-area tertentu mengendalikan emosi-emosi tertentu, semisal jijik dan mengendalikan beberapa aspek emosi  yang berbeda-beda, seperti mengenali ekspresi wajah pada orang lain dan kemampuan mengekspresikan emosi.
Bagian amigdala memiliki peran penting dalam emosi, terutama rasa takut. Amigdala bertugas mengevaluasi informasi sensorik yang kita terima, kemudian dengan cepat menentukan kepentingan emosionalnya dan membuat keputusan untuk mendekati atau menjauhi suatu objek atau situasi (Adolphs, 2001; LeDoux, 1996 dalam Tavris & Wade, 2007: 113). Amigdala bekerja dengan cepat dalam mengevaluasi bahaya atau ancaman dan ini adalah hal yang baik.
Prefrontal cortex bertugas menganalisis derajat kepentingan informasi emosional dari amigdala. Bagian kiri prefrontal cortex terasosiasi dengan emosi ”mendekati” , seperti senang dan marah, sedangkan bagian kanan terasosiasi dengan emosi “menjauhi”, seperti takut dan sedih. Saraf cermin merupakan suatu kelompok sel yang terdistribusi melalui berbagai bagian otak dan ditembakkan saat seseorang melihat atau mendengar tindakan orang lain dan kemudian ia melakukan tindakan yang persis sama. Sel-sel ini ditemukan pada berbagai bagian dari otak, dan berfungsi meniru tindakan atau emosi orang lain, menimbulkan empati terhadap orang lain terkait perasaan sakit atau emosi lainnya. Cerebral Hemisphere memiliki spesialisasi berbeda-beda. Hemisfer kanan terlibat dalam identifikasi ekspresi emosi dan memproses warna emosi, sedangkan hemisfer kiri terlibat dalam pemrosesan makna emosional (Tavris & Wade, 2007: 118).

c.       Sistem Saraf Otonom
Sistem saraf otonom mengaktifkan hormon epinephrine dan norepinephrine yang menghasilkan energi dan kesiagaan. Para pembawa pesan kimiawi ini akan memberikan stimulasi yang kuat dan menyebabkan kita menjadi lebih siaga. Pupil mata akan melebar sehingga memungkinkan mata menerima lebih banyak cahaya, detak jantung akan meningkat sehingga kecepatan nafas pun meningkat dan tekanan darah juga meningkat, sehingga menghasilkan energi tambahan agar tubuh dapat lebih cepat bergerak  (Tavris & Wade, 2007: 116).

2.         Proses Kognisi
Sejumlah psikolog telah mempelajari proses kognitif yang terlibat dalam emosi, seperti atribusi seseorang terhadap perilaku orang lain dan cara orang menginterpretasi dan mengevaluasi situasi. Kognisi terlibat dalam emosi, mulai dari persepsi awal dari suatu peristiwa hingga filosofi kehidupan seseorang. Persepsi berperan aktif dalam setiap emosi. Emosi dapat dihasilkan dan dipengaruhi oleh keyakinan, persepsi terhadap situasi, harapan dan atribusi. Inilah penjelasan bahwa orang menciptakan perilakunya sendiri dan perilaku orang lain. Manusia merupakan satu-satunya spesies yang mampu mengatakan, “Semakin saya memikirkan hal itu, semakin marah saya jadinya!” (Tavris &Wade, 2007: 122).

3.      Pengaruh Budaya
Banyak psikolog yang meyakini bahwa semua manusia memiliki kemampuan untuk mengalami emosi primer, sedangkan emosi sekunder sifatnya lebih spesifik pada budaya. Namun mereka juga meyakini bahwa budaya mempengaruhi semua aspek pengalaman emosional, termasuk jenis-jenis emosi yang dikategorikan sebagai emosi dasar. Seluruh peneliti sepakat bahwa budaya mempengaruhi jenis-jenis penyebab yang dapat menimbulkan emosi pada orang dalam budaya tersebut (Tavris & Wade, 2007: 140).



B.     Stres dan Komponennya
1.      Pengertian Stres
Dalam pengertian umum, stres adalah suatu tekanan atau sesuatu yang terasa menekan dalam diri individu. Sesuatu tersebut dapat terjadi disebabkan oleh ketidakseimbangan antara harapan dan kenyataan yang diinginkan oleh individu, baik keinginan yang besifat jasmaniah maupun rohaniah. Menurut McGrath dalam Weinberg dan Gould (2003:81), stres didiefinisikan sebagai a substantial imbalance between demand (physical and/or psychological) and resonse capability, under condition where failure to meet that demand has impotance consequences. Artinya, stres akan muncul pada individu bila ketidakseimbangan atau kegagalan individu dalam memenuhi kebutuhannya baik yang bersifat jasmani maupun rohani (Sukadiyanto, 2010:56).
Seyle (dalam Prabowo, 1998) mendefinisikan stres sebagai respon yang tidak spesifik dari tubuh pada tiap tuntutan yang dikenakan padanya. Sedangkan Korchin (dalam Prabowo, 1998) menyatakan bahwa keadaan stres muncul apabila tuntutan-tuntutan yang luar biasa atau terlalu banyak mengancam kesejahteraan atau integritas seseorang. Dari beberapa definisi, dapat disimpulkan bahwa stres merupakan suatu keadaan psikologis individu yang disebabkan oleh tuntutan-tuntutan yang terlalu banyak yang bersumber dari kondisi internal maupun eksternal sehingga terancam kesejahteraannya.
Sebenarnya, stres tidak selalu memiliki nilai negatif. Sedikit stres baik untuk kita. Jika kita dihadapkan pada tantangan atau disuruh melakukan pekerjaan yang tidak kita sukai, seringkali kita dapati ternyata kita bisa mencapai target yang sudah kita tetapkan. Kita akan merasa lebih baik karena berhasil menyelesaikannya. Menghadapi tantangan dan mengatasinya mencegah seseorang dari rasa kejenuhan. Akan tetapi, terlalu banyak stres dapat mengganggu kesehatn, kesejahteraan, dan mengganggu pekerjaan serta kehidupan sosial seseorang (Wilkinson, 2002: 7-8).




2.      Komponen Stres
Stres memiliki tiga komponen (Musradinur, 2016: 187), yaitu sebagai berikut.
1.      Komponen Stimulus
Komponen stimulus yaitu faktor-faktor penyebab adanya ketegangan atau stres itu sendiri. Keadaan atau situasi dan peristiwa yang dirasakan mengancam atau membahayakan yang menghasilkan perasaan tegang disebut sebagai stressor. Beberapa ahli mengkategorikan stressor menjadi tiga hal, yaitu peristiwa katastropik, misalnya tornado atau gempa bumi, peristiwa hidup yang penting, misalnya kehilangan pekerjaan, dan keadaan kronis, misalnya hidup dalam kondisi bising.
2.      Komponen Respons
Respons adalah reaksi seseorang terhadap stressor. Komponen respons terdiri atas komponen fisiologis, seperti detak jantung, mulut yang mongering, dan sakit perut, serta komponen psikologis seperti perilaku, pola berpikir dan emosi. Kedua respons tersebut disebut dengan starin atau ketegangan.
3.      Komponen Proses
Stres sebagai suatu proses terdiri dari stressor dan strain ditambah dengan satu dimensi penting yaitu hubungan antara manusia dengan lingkungan. Proses ini melibatkan interaksi dan penyesuaian diri yang kontinyu, yang disebut juga dengan istilah transaksi antara manusia dengan lingkungan, yang di dalamnya termasuk perasaan yang dialami dn bagaimana orang lain merasakannya.

3.      Sumber-sumber Stres
Stres bersumber dari frustasi dan konflik yang dialami individu yang dapat berasal dari berbagai bidang kehidupan manusia. Dalam hal hambatan, ada beberapa macam hambatan yang biasanya dihadapi individu. Pertama, hambatan fisik seperti kemiskinan, kekurangan gizi, dan bencana alam. Kedua, hambatan sosial seperti kondisi perekonomian yang tidak bagus dan persaingan hidup yang keras. Ketiga, hambatan pribadi seperti cacat fisik dan penampilan fisik yang kurang menarik. (Ardani, 2013: 78).
Perubahan yang terlalu besar dan cepat dibandingkan kemampuan kita untuk menerimanya juga bisa menimbulkan stres. Secara umum, semakin banyak peristiwa yang kita alami dalam kurun waktu tertentu dan semakin tinggi tingkat stresnya, akan semakin banyak stres yang kit alami. Beratnya stres juga dipengaruhi oleh pentingnya kejadian dan perubahan yang dialami. Stres juga dapat timbul akibat peristiwa yang menyenangkan, seperti menikah, memenangkan hadiah uang, mendapat bayi, atau peristiwa yang menyedihkan, seperti kehilangan anggota keluarga. (Wilkinson, 2002:12).
Belum tentu semua individu yang mengalami suatu peristiwa atau menerima stimulus peyebab stres akan menjadikannya stres. Suatu stimulus yang sama akan direspon secara berbeda oleh individu yang berbeda. Artinya, tidak semua stimulus akan direspon menjadi stres oleh semua individu. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan setiap individu dalam menyikapi situasi, kemampuan meredam stimulus, pengalaman hidup, tingkat kepekaan atau sensivitas dan daya toleransi individu terhdap stimulus. Pada dasarnya, setiap individu memiliki ambang rangsang terhadap stres yang berbeda-beda dalam setiap situasi. Suatu stimulus pada saat tertentu dapat menimbulkan stres, tetapi pada situasi yang berbeda dapat juga tidak menimbulkan stres (Sukadiyanto, 2010:56).

4.      Tahapan Stres
Seyle (dalam Tavris & Wade, 2007:14-15) mengidentifikasikan 3 tahap dalam respon sistemik tubuh terhadap kondisi-kondisi penuh stres yang disitilahkan General Adaptation Syndrome (GAS), Yaitu;
a.       Fase Alarm ( Alarm Phase)
Organisme berorientasi pada tuntutan yang diberikan oleh lingkungannya dan mulai menghayatinya sebagai ancaman. Ini adalah fase saat tubuh menggerakkan sistem saraf simpatetik untuk menghadapi ancaman langsung.
b.      Fase Penolakan (Resistance Phase)
Organisme memobilisasi sumber-sumbernya  supaya mampu menghadapi tuntutan. Ini merupakan fase saat tubuh berusaha menolak atau mengatasi stressor yang tidak dapat dihindari.
c.       Fase Kelelahan (Exhaustion Phase)
Jika tuntutan berlangsung lama, maka sumber-sumber penyesuaian ini mulai habis dan organisme akan kehabisan tenaga. Jika reaksi badan tidak cukup, berlebihan atau salah maka reaksi badan itu sendiri dapat menimbulkan penyakit.

5.      Gejala Stres
Menurut Visisdes, Eddy dan Mozie (dalam Rice, 1998) secara umum, gejala stres diidentifikasikan ke dalam empat tipe berbeda, yaitu perilaku, emosi, kognitif dan fisik.
a.       Gejala Perilaku
Ada banyak perilaku yang menunjukkan stres, di antaranya yaitu penundaan dan menghindar, menarik diri dari teman dan keluarga, kehilangan nafsu makan dan tenaga, emosi yang meledak, memulai atau peningkatan penggunaan obat-obatan secara dramatis, perubahan pola tidur, dan melalaikan tanggung jawab.
b.      Gejala Emosi
Sebagian besar gejala emosi pada stres adalah kecemasan, ketakutan, cepat marah dan depresi. Gejala lainnya yaitu frustasi, perasaan yang tidak menentu dan kehilangan kontrol. Di dalam pekerjaan, stres ditunjukkan dengan kehilangan semangat dan penurunan kepuasan kerja.
c.       Gejala Kognitif
Di antara sebagian besar gejala mental atau kejiwaan dari stres adalah kehilangan motivasi dan konsentrasi. Hal ini terlihat pada seseorang yang kehilangan kemampuan untuk memusatkan perhatian pada tugas yang diberikan dan kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan tugas dengan baik. Gejala mental lainnya adalah kehilangan ingatan, kesalahn persepsi, kebingungan, terjadi penurunan kemampuan dalam pengambilan keputusan, dan lemah dalam menyelesaikan maslah.
d.      Gejala Fisik
Di antara gejala fisik dari stres adalah kelelahan secara fisik dan keadaan fisik yang lemah, migran dan kepala pusing, sakit punggung, ketegangan otot yang ditandai gemetar dan kejang. Dalam sistem kardiovaskular, stres ditandai dengan percepatan denyut jantung, dan hipertensi.

6.      Dampak Stres
Menurut Rini (2002), dampak stres bagi individu adalah munculnya masalah-masalah yang berhubungan dengan kesehatan, psikologis dan interaksi interpersonal.
a.       Kesehatan
Jika respon stres berlangsung dalam waktu lama, atau sering terjadi pada waktu yang tidak tepat maka besar kemungkinannya akan timbul penyakit, seperti tekanan darah tinggi, gangguan kekebalan tubuh, perubahan nafsu makan, resiko serangan jantung, radang kandung kemih, diare, rambut rontok, dan lain sebagainya. Meningkatnya produksi hormon adrenalin dan  kortisol pada saat stres menyebabkan perubahan dalam denyut jantung, tekanan darah, dan metabolism (Wilkinson, 2002: 19).
b.      Psikologis
Stres berkepanjangan akan menyebabkan ketegangan dan kecemasan yang terus-menerus. Stres kronis umumnya terjadi seputar masalah kemiskinan, kekecauan keluarga, atau ketidakpuasan dalam pekerjaan. Akibatnya orang akan terus-menerus merasa tertekan dan kehilangan harapan. Dampak lain misalnya merasa lelah secara mental, merasa tegang dan tidak bisa rileks, frustasi dan ingin marah, dan berkurangnya kemampuan merasakan senang.
c.       Interaksi Interpersonal
Orang stres cenderung mengaitkan segala sesuatu dengan dirinya. Pada tingkat stres yang berat, orang bisa menjadi depresi, kehilangan rasa percaya diri dan harga diri. Akibatnya, ia lebih banyak menarik diri dari lingkungan, tidak lagi mengikuti kegiatan yang biasa dilakukan, jarang berkumpul dengan sesamanya, lebih mudah menyendiri, mudah tersinggung dan mudah marah.

C.    Pengaruh Budaya dalam Pembentukan Emosi dan Stres
1.      Pengaruh Budaya dalam Pembentukan Emosi
Banyak psikolog meyakini bahwa semua manusia memiliki kemampuan untuk mengalami emosi primer, seperti marah, senang, sedih, dan takut, sedangkan emosi sekunder lebih bersifat spesifik pada budaya, suatu pandangan yang didukung oleh penelitian pada prototip emosi. Namun, para psikolog budaya meyakini bahwa budaya memepengaruhi semua aspek pengalaman emosional, termasuk jenis-jenis emosi yang dikategorikan sebagai emosi-emosi dasar. Seluruh peneliti sepakat bahwa budaya mempengaruhi jenis-jenis penyebab yang dapat menimbulkan emosi pada orang dalam budaya tersebut (Tavris & Wade, 2007:140).
Sebagai contoh, kemampuan merasakan jijik berlaku secara universal, namun penyebab timbulnya rasa jijik mengalami perubahan sejalan dengan tahapan perkembangan, begitu pula pada penyebab rasa jijik tersebut di mana akan berbeda-beda pada tiap budaya. Pada beberapa budaya, orang-orang merasa jijik pada ulat. Namun, pada masyarakat suku Dani ulat dianggap sebagai makanan lezat (Tavris & Wade, 2007:129-130).
Menurut Kitayama dan Markus (dalam Tavris & Wade, 2007:129), pengaruh budaya pada emosi juga mempengaruhi penggolongan emosi primer dan sekunder pada masing-masing budaya. Misalnya, pada masyarakat Barat yang individualistis, rasa marah dianggap sebagai salah satu emosi primer. Namun, pada msyarakat yang berorientasi pada kelompok, rasa malu dan kehilangan muka merupakan emosi yang lebih utama.
Budaya juga sangat memperngaruhi aturan menampilkan emosi (display rules), suatu peraturan yang mengatur seseorang untuk mengekspresikan perasaannya dan cara pengekspresian emosi tersebut. Orang Jepang lebih sering tersenyum daripada orang Amerika, untuk menyembunyikan rasa malu, marah, atau emosi negatif  lain, sebab perasaan-perasaan tersebut dianggap tidak sopan dan tidak baik apabila ditunjukkan pada orang banyak. Pada beberapa budaya, duka diekspresikan dalam keheningan tanpa air mata, pada budaya lain duka justru diekspresikan melalui tarian yang meriah, minuman, dan lagu (Tavris & Wade, 2007:131).

2.      Pengaruh Budaya terhadap Stres
Budaya tidak hanya berpengaruh pada pembentukan emosi seseorang, akan tetapi juga memilki andil terhadap stres yang dialami seseorang yang hidup dalam budaya tersebut. Lingkungan memiliki nilai positif dan negatif terhadap perilaku masing-masing individu sesuai pemahaman kelompok dalam masyarakat tersebut. Tuntutan inilah yang dapat membuat individu tersebut harus selalu berperilaku positif sesuai pandangan masyarakat di lingkungan tersebut (Musradinur, 2016: 193-194). Hal inilah yang tanpa disadari dapat memicu stres bagi beberapa orang tertentu. Misalnya, seseorang yang hidup di lingkungan yang agamis yang memiliki kesukaan bermain gitar. Lingkungan orang tersebut yang sangat fanatik memandang apa yang dilakukan orang tersebut adalah kurang baik. Seringkali orang tersebut mendapat teguran bahkan celaan dari orang-orang di sekitarnya. Hal ini dapat menimbulkan stres pada orang tersebut mengingat bermain gitar adalah hal yang disukainya akan tetapi mendapat penolakan dari lingkungannya.
Bukan hanya tentang perilaku individu, budaya masyarakat di suatu daerah juga berkenaan tentang standar hidup yang dicapai individu dalam masyarakat tersebut. Di lingkungan perkotaan, orang yang dipandang sukses adalah orang yang memiliki banyak uang, memiliki karir yang cemerlang, memiliki kekuasaan, dan lain sebagainya. Akan tetapi, bagi masyarakat desa yang jauh dari perkotaan dan masih memiliki budaya yang agamis, ukuran sukses yang seperti itu tidak terlalu diunggulkan. Bagi mereka, hidup yang sukses adalah hidup dengan baik, memiliki perilaku yang baik terhadap masyarakat, dan taat beragama. Hal itu tentu saja sangat mempengaruhi kondisi kejiwaan individu di dalamya di mana orang yang hidup di lingkungan perkotaan akan mudah mengalami stres karena menghadapi persaingan hidup yang luar biasa, sedangkan masyarakat desa cenderung hidup dengan damai karena standar hidup yang dijadikan acuan bukan hal yang sulit untuk dicapai.















BAB III
PENUTUP


A.    KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan di atas, penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan akhir, yaitu sebagai berikut.          
1.      Emosi adalah situasi stimulasi yang melibatkan perubahan pada tubuh dan wajah, aktivasi pada otak, penilaian kognitif, perasaa subjektif, dan kecenderungan melakukan suatu tindakan, yang dibentuk seluruhnya oleh peraturan-peraturan yang terdapat di suatu kebudayaan.Emosi merupakan perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi memiliki beberapa komponen. Pertama adalah perubahan fisiologis yang meliputi ekspresi wajah, otak, dan sistem saraf otonom. Kedua, proses kogniti dan yang ketiga adalah pengaruh budaya.
2.      Stres adalah suatu tekanan atau sesuatu yang terasa menekan dalam diri individu. Sesuatu tersebut dapat terjadi disebabkan oleh ketidakseimbangan antara harapan dan kenyataan yang diinginkan oleh individu, baik keinginan yang besifat jasmaniah maupun rohaniah. Komponen-komponen stres meliputi komponen stimulus, respon, dan proses. Komponen stimulus meliputi peristiwa katastropik, peristiwa hidup yang penting dan keadaan kronis. Komponen respons meliputi fisiologis dan psikologis.Proses merupakan interaksi dan penyesuaian diri yang kontinyu, yang disebut juga dengan istilah transaksi antara manusia dengan lingkungan, yang di dalamnya termasuk perasaan yang dialami dan bagaimana orang lain merasakannya.
3.      Budaya mempengaruhi jenis-jenis penyebab yang dapat menimbulkan emosi pada orang dalam budaya tersebut. Budaya juga mempengaruhi aturan menampilkan emosi (display rules), suatu aturan yang mengatur seseorang untuk mengekspresikan perasaannya dan cara pengekspresian emosi tersebut. Budaya juga berpengaruh pada kondisi kejiwaan individu dalam lingkungan budaya tersebut, termasuk terjadinya stres. Pandangan positif dan negatif terhadap perilaku individu serta ukuran standar kehidupan yang layak merupakan contoh dari budaya yang dapat mempengaruhi terjadinya stres pada individu dalam masyarakat tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Ardani, T.A. 2013. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Bandung : CV. Karya Putra Darwati.
Muhammad, As’adi. 2011. Cara Kerja Emoai & Pikiran Manusia. Yogyakarta : Diva Press.
Musradinur. 2016. Stres dan Cara Mengatasinya dalam Perspektif Psikologi. Jurnal Edukasi. Vol.2 No.2 : 187-194.
Prabowo, H. 1998. Pengantar Psikologi Lingkungan. Jakarta : Gunadarma.
Rice, P.L. 1998. Stress and Health, Third Edition. Moorhead Stale University : Brooks/Cole Publishing Company.
Rini, F.R. 2002. Dampak Stres terhadap Individu. http://e-psikologi.com/masalah/stress.html. (Diakses pada 11 Februari 2017).
Sukadiyanto. 2010. Stres dan Cara Menguranginya. Jurnal Cakrawala Pendidikan. Vol.1 No.1 : 56.
Tavris, C dan Wade, C. 2007. Psikologi, Edisi ke-9. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Wilkinson, Greg. 2002. Seri Kesehatan, Bimbingan Dokter pada Stress. Jakarta : Dian Rakyat.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar