BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam keilmuan Psikologi, ada
tahapan dimana manusia mengalami proses pembelajaran dan pengkondisian. Belajar
merupakan suatu proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah mampu yang
terjadi dalam waktu tertentu, perubahan-perubahan tersebut biasanya terjadi
karena pengalaman yang dapat mempengaruhi individu dalam segi kognitif.
Perubahan yang terjadi tersebut, harus secara relatif bersifat menetap
(permanen) dan tidak hanya terjadi pada perilaku yang tampak saat ini saja,
tetapi juga pada perilaku yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Salah
satu bentuk pembelajaran adalah Operant Conditioning, yaitu saat dimana
individu belajar dari akibat-akibat yang terjadi di lingkungannya.
Wade (2007: 266) mengatakan Pada akhir abad ke-19dalam
salah satu penelitian pertama mengenai rasa marah, G. Stanley Hall
(1899) meminta sejumlah orang untuk mendeskripsikan suatu peristiwa amarah yang
telah mereka alami atau telah mereka lihat. Seorang responden menceritakan
seorang gadis berusia tiga tahun yang mengeluarkan rasa marah dengan menangis
tanpa tercontrol ketika dia di hukum dengan cara ditinggalkan dirumah dan tidak
di ajak pergi jalan-jalan. Di tengah rasa amarahnya, anak ini tiba-tiba
berhenti menangis dan bertanya kepada pengasuhnya dalam suara yang sangat tenang,
apakah ayahnya ada dirumah?Ketika di jawab tidak, dia kemudian melanjutkan
isakanya.Anak-anak tentu saja, menangis untuk berbagai alasan yang sah, rasa
sakit, ketidak nyamanan, rasa takut, penyakit, dan rasa lelah.Dan tangisan ini
perlu dan layak untuk mendapatkan empati dan perhatian terhadap orang dewasa.
Namun demikian, anak dalam penelitian Stanley Hall ini menunjukkan bahwa
munculnya raungan dan tangisan ini akan memberikanya perhatian dan kemungkinan
ajakan dari orang tua untuk pergi keluar bersama seperti yang anak kecil
inginkan. Keadaan meledak-ledak seperti ini menunjukkan salah Satu hukum paling
mendasar dari pembelajaran.
Papalia
(2013: 49) mengatakan Penelitian serupa juga dilakukan pada seorang bayi bernama Terrel yang
dengan tenang di ranjangnya. Ketika kebetulan ia tersenyum, ibunya menghampiri
ranjang Terrel dan bermain dengannya. Kemudian, ayahnya melakukan hal yang
sama. Sebagaimana urutan ini diulang-ulang Terrel belajar bahwa perilakunya
(tersenyum) dapat menghasilkan akibat yang menarik perhatian orangtuanya. Suatu
perilaku tidak sengaja yang asli (tersenyum) telah menjadi sebuah respons yang
terkondisi.
Prinsip
ini ada pada inti dari Operant conditioning atau pengondisian instrumental,
merupakan jenis pengondisian kedua, dan operant conditioning ini di pelajari
bagi mereka yang mengikuti aliran behaviorisme. Dalam pengondisian klasik,
tidak peduli apakah perilaku manusia atau hewan memiliki konsekuensi tertentu
atau tidak. Dalam prosedur yang dilakukan Pavlov, anjing tersebut mempelajari
bahwa terdapat asosiasi antara dua kejadian yang berada di luar kendali anjing
tersebut (dalam hal ini adalah bunyi bel dan penyajian makanan) dan hewan
tersebut mendapatkan makanan entah dia
menghasilkan liur ataupun tidak menghasilkan liur. Namun dalam operant
conditioning, memerhatikan tindakan dan pengaruh terhadap lingkungan, pengaruh
dan dampak ini yang kemudian akan muncul lagi atau tidak.
B.F.
Skinner (seorang tokoh Psikologi)telah merumuskan prinsip-prinsip Operant
Conditioning. Ia menemukan bahwa suatu organisme akan cenderung mengulang
sebuah respons yang telah diperkuat dengan akibat-akibat yang baik.
Maka dari
itu, untuk mengetahui lebih detail mengenai materi Operant Conditioning,
makalah ini disusun dengan memberikan penjelasan yang lebih terperinci tentang Operant
Conditioning dan sejarah penemuan teorinya, serta contohnya dalam kehidupan
nyata.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa Definisi Operant
Conditioning?
2. Apa saja Eksperimen dalam Operant Conditioning?
3. Apa saja teori-teori dalam Operant
Conditioning?
4. Apa saja Prinsip dalamOperant Conditioning?
5. Bagaimana Operant Conditioning dalam
Kehidupan Nyata?
C.
Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan
makalah ini adalah ntuk menjelaskan tentang:
1. Definisi Operant Conditioning?
2. Eksperimen dalam Operant Conditioning
3. Teori-teori dalam Operant Conditioning
4. Prinsip dalamOperant Conditionin
5. Operant
Conditioning dalam Kehidupan Nyata
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Operant
Conditioning
Menurut Sylva & Lunt (1986)
dalam Sobur (2013: 232).Istilah conditioning operant (Operant Conditioning)
diciptakan oleh Skinner dan memiliki arti umum pengkondisian perilaku. Istilah
“operan” di sini berarti (operation) yang pengaruhnya mengakibatkan
organisme melakukan suatu perbuatan pada lingkungannya, misalnya: perilaku
motorik yang biasanya merupakan perbuatan yang dilakukan secara sadar.
Respon dalam conditioning operan
terjadi tanpa didahului stimulus, melainkan efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu
sendiri sesungguhnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya
sejumlah respons tertentu, akan tetapi tidak sengaja diadakan sebagai pasangan
stimulus lainnya seperti dalam classical respondent conditioning.
Penelitian conditioning operan
dimulai pada awal abad ini dengan sejumlah eksperimen oleh Thorndike (1898). Ia
yang dipengaruhi oleh teori evaluasi Darwin, mencoba menunjukkan bahwa proses
belajar pada hewan merupakan proses yang terus-menerus, sama seperti proses
belajar pada manusia.
Conditioning operant adalah nama
yang digunakan oleh Skinner (1938) untuk suatu prosedur yang menyebabkan
individu bisa mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian ganjaran yang
bijaksana dalam lingkungan yang relative bebas.
Conditioning operant dirumuskan
berdasarkan prosedurnya. Akan tetapi, program penyelidikan yang dikembangkannya
memiliki sejumlah corak khusus yang tidak menuruti prosedur. Prinsip-prinsip
yang penting itu ditata oleh Skinner dan sebagian dikembangkan oleh orang-orang
lain, yaitu mengenai persoalan-persoalan dasar yang berhubungan dengan bidang
belajar dan teori belajar. Keseluruhan istilah yang khusus, cara membuat
eksperimen, dan sikap terhadap persoalan-persoalan teoritis dan eksperimental,
demikian pula arah penyelidikan utama, disebut sebagai aspek-aspek analisis
eksperimental dari tingkah laku.
Secara harfiah, segala sesuatu
menjadi pengukuh sepanjang sesuatu itu meningkatkan kemungkinan tindakan
sebelumnya. Jika penyalaan lampu pada kandang burung dara membuat burung
tersebut lebih giat mematuk, cahaya itulah pengukuhnya. Jika tikus makin sering
menekan batang pengungkit ketika hal itu diikuti dengan terbukanya jalan masuk
ke roda untuk berlari-lari, jalan masuk itulah yang dianggap pengukuh. Skinner
mendefinisikan pengukuh sebagai objek atau peristiwa yang meningkatkan
kemungkinan bahwa respons yang mereka ikuti akan terjadi lagi. Misalnya, jika
seorang ibu memeluk bayinya setiap kali si bayi tersenyum, pelukan itulah yang
menjadi pengukuh karena mendorong dilakukannya senyum. Istilah itu mungkin
tampak mirip dengan gagasan Thorndike mengenai “keputusan”, namun pengukuh
didefinisikan lewat cara kerjanya; tidak ada asumsi mengenai rasa senang.
B. Eksperimen dalam
Operant Conditioning
Irwanto, dkk (2002: 120) mengatakan bahwa
sebelum adanya teori Operant Conditioning, Ada dua eksperimen yang telah
dilakukan oleh para peneliti, diantaranya:
1.
Eksperimen Thorndike
Operant conditioning telah di pelajari semenjak awal abad ke 20,
meskipun baru disebut sebagai operant conditioning pada masa-masa berikutnya.
Edward Thorndike (1898), yang pada saat itu adalah kandidat doctoral, melakukan
percobaan dengan mengobservasi kucing-kucing yang menghasilkan
beberapa prinsip belajar yang dikemukakannya mempunyai dampak yang cukup luas
dan masih digunakan hingga kini.
Thorndike memakai kucing dalam
percobaan-percobaannya.Kucing tidak diberi makan untuk jangka waktu tertentu,
kemudian dimasukkan kedalam kotak teka-teki (puzzle box).Kucing harus
belajar membuka salah satu pintu untuk dapat memperoleh seekor ikan yang
ditaruh di ruang kecil dalam kotak tersebut. Mula-mula kucing akan mencakar-cakar dan mendorong-dorong semua
sudut ruangan, kemudian lama kelamaan akan hilang sampai pada akhirnya hanya
ada tindakan tertentu yang berhasil membuka pintu. Berdasarkan pengamatan
tersebut Thorndike mengemukakan prinsip belajarnya The Law of Effect
yaitu apabila suatu tindakan memberikan hasil yang memuaskan, maka akan
cenderung diulang kembali di waktu yang akan datang, tetapi yang tidak
menghasilkan sesuatu akan yang ditinggalkan. Hukum belajar lain yang
dikemukakan oleh Thorndike adalah The Law of Readiness, yang menyatakan
tingkat kesiapan seseorang untuk mempelajari sesuatu akan sangat mempengaruhi
hasi belajarnya.
2.
Eksperimen Skinner
Prinsip umum Thorndike ini kemudian
dirinci dan di kembangkan kedalam bentuk yang lebih kompleks oleh B.F.(Burhus
Frederic) Skinner (1904-1990). Skinner menyebut pendekatan ini sebagai
“Behaviorisme radikal” untuk membedakanya dengan behaviorisme yang dianut oleh
john Watson, yang menekankan pada pengondisian klasik. Skinner mengatakan bahwa
untuk memahami perilaku, kita sebaiknya memusatkan perhatian pada penyebab
eksternal dari perilaku dan konsekuensi yang mengikuti perilaku tersebut.
Skinner menghindari penggunaan istilah yang digunakan thordinke seperti
“memuaskan” dan “mengganggu”, yang menggambarkan asumsi-asumsi mengenai apa
yang diinginkan dan dirasakan oleh organism. Menurut thordinke, untuk
menjelaskan perilaku, kita harus melihat hal diluar individu, bukan apa yang
terjadi di dalam diri individu.
Skinner membedakan antara perilaku operant
dan respondent. Perilaku respondent secara langsung
dikendalikan oleh suatu stimulus, seperti U.R. pada classical conditioning,
yaitu keluarnya air liur. Perilaku operant terjadi karena kehendak
individu/ organisme itu sendiri. Stimulus yang diberikan pada perilaku tertentu
tidak memaksakan individu/ organisme untuk berperilaku seperti itu. Perilaku operant
bukan hanya sekedar respons pada suatu stimulus tertentu. Oleh karena stimulus
dalam operant conditioning disebut sebagai discriminative stimulus.
Untuk menunjukkan proses operant
conditioning. Skinner melakukan eksperimen dengan sebuah kotak yang disebut
Skinner’s Box. Tikus percobaan tidak diberi makan selama jangka waktu
tertentu agar perilaku tikus didorong oleh keinginan untuk makan. Isi kotak
Skinner hanyalah sebuah lampu kecil yang menyala bila dikehendaki oleh
eksperimenter dan sebuah tombol pengungkit yang ditekan maka tempat makanan
dibawahnya akan terbuka.
Tikus dimasukkan ke dalam kotak
untuk waktu tertentu. Jumlah dan selang waktu tikus menekan tombol pengungkit
pada waktu pertama kali dimasukkan kedalam kotak akan menentukan preconditioned
operant level dari perilakunya. Setelah operant level ini diketahui,
maka eksperimenter menaruh tempat makanan dibawah tombol pengungkit. Dengan
demikian, setiap kali tikus menekan tombol pengungkit, makanan akan keluar dan
lambat laun jumlah perilaku menekan ini akan meningkat secara dramatis (dalam
hal ini makanan berfungsi sebagai penguat). Bila tempat makanan diambil, maka
perilaku menekan tombol akan menghilang.
Dalam kehidupan sehari-hari pujian
pada anak ketika melakukan hal yang terpuji dapat menjadi penguat dari berbagai
perilaku anak-anak, sehingga anak-anak akan terus melakukan kegiatan terpuji
tersebut.
C. Teori-Teori
dalam Operant Conditioning
Wade (2007:
267), Dalam analisis Skinner yang telah menginspirasi banyak orang untuk
melakukan penelitian, sebuah respons (operant) dapat menghasilkan dua macam
konsekuensi.
1.
Reinforcement memperkuat atau meningkatkan kemungkinan terjadinya
respons di masa yang akan datang
Reinforcement
adalah proses dimana sebuah stimulus atau kejadian memperkuat atau meningkatkan
kemungkinan terjadinya respons yang menyertainya.
Ketika anjing
anda mengharapkan makanan yang ada di meja dan kemudian anda berikan potongan
daging kepadanya, kemungkinan perilaku mengharapkan makanan ini semakin kuat.
Reinforcement
dapat dikatakan ekuivalen dengan penghargaan dan banyak psikolog yang
menggunakan istilah penghargaan dan reinforcement sebagai sesuatu yang
sama. Bagaimanapun juga, para penganut aliran behaviorisme yang tegas
menghindari penggunaan kata penghargaan karena kata ini menekankan pada
sesuatu yang di peroleh sebagai hasil kerja keras dan sifatnya menghasilkan
perasaan bahagia ataupun rasa puas.
Untuk para ahli behaviorisme, sebuah stimulus adalah reinforcement ketika
stimulus ini memperkuat prilaku yang sebelumnya, baik itu menyenangkan ataupun
tidak menyenangkan bagi yang bersangkutan.Demikian juga sebaliknya, seberapapun
menyenangkan atau tidaknya stimulus, tetapi bila stimulus ini tidak
meningkatkan kemungkinan munculnya respons maka hal ini tidak dapat disebut
sebagai reinforcement. Hal yang sangat menyenangkan untuk menerima gaji, tetapi
bila anda menerima gaji terlepas dari usaha yang anda berikan pada pekerjaan
anda, uang tersebut tidak akan memperkuat
2.
Hukuman memperlemah atau mengurangi kemungkian respons tertentu
muncul di masa yang akan datang
Hukuman adalah
proses dimana sebuah stimulus atau kejadian melemahkan atau mengurangi
kemungkinan terjadinya respons yang menyertainya.
Setiap stimulus
atau kejadian yang tidak menyenangkan dapat saja menjadi sebuah hukuman. Bila
anjing anda menginginkan potongan daging yang ada di piring anda dan anda
menyentil hidungnya atau berteriak tidak maka kemungkinan munculnya perilaku
mengharapkan makanan akan berkuarang selama anda tidak merasa bersalah dan
kemudian memutuskan memberikan potongan daging tersebut pada anjing.
Orangtua,
pemberi kerja, dan pemerintahan sering kali menggunakan reinforcement maupun
hukuman setiap saat untuk membentuk anak dapat berperilaku sopan, karyawan
bekerja keras, dan warga membayar pajak. Namun, mereka sering kali menunggu
terlalu lama untuk memberikan reinforcement atau hukuman atas perilaku
tertentu. Secara umum, semakin cepat konsekuensi suatu perilaku muncul, semakin
besar pula juga dampaknya terhadap perilaku tersebut. Anda akan cenderung
merespons dengan lebih baik ketika anda tidak harus menunggu lama untuk
mendapatkan kenaikan gaji, senyuman, atau sebuah pujian. Ketika respons lainnya
muncul pada jeda tersebut akan sulit untuk mempelajari hubungan antara respons
yang diharapkan ataupun tidak diharapkan dengan konsekuensinya.
a.
Reinforcement serta Hukuman Primer dan Sekunder
Reinforcemet primer adalah stimulus yang berhubungan erat dengan
reinforcement, umumnya memenuhi kebutuhan fisiologis, misalnya makanan,
minuman, cahaya, temperatur udara yang nyaman merupakan hal-hal yang secara
alami memperkuat suatu respons karena mereka menghasilkan pemenuhan kebutuhan
biologis kita.Sementara, Hukuman primer adalah Stimulus yang berhubungan erat
dengan hukuman, contohnya rasa sakit dan panas atau dingin yang ekstrim.
Reinforcement dan hukuman primer dapat berdampak sangat besar,
tetapi mereka memiliki kelemahan dalam penggunaannya dalam kehidupan nyata
maupun penelitian, misalnya, untuk reinforcement primer dapat menjadi tidak
efektif bila hewan atau manusia berada dalam keaadaan serba kekurangan.
Misalnya, suatu hadiah tidak akan menjadi penghargaan jika seseorang yang akan
diberi hadiah telah mempunyai sesuatu tersebut.
Namun, perilaku dapat diatur dengan sama efektifnya dengan
menggunakan reinforcement sekunder. Reinforcement sekunder adalah Stimulus yang
memiliki ciri khas reinforcemet melalui asosiasi dengan reinforcement lainnya,
seperti uang, pujian atau tepuk tangan.Sebaliknya kritik, cacian, atau denda
merupakan hukuman sekunder.Hukuman sekunder adalah Stimulus yang memiliki ciri
khas hukuman melalui asosiasi dengan hukuman lainnya.Reinforcement ataupun
hukuman sekunder seringkali disebut sebagai Reinforcement dan hukuman yang
terkondisi.
b.
Reinforcement dan Hukuman Positif dan Negatif
Reinforcement Positif adalah prosedur reinforcement, dimana sebuah
respons diikuti dengan presentasi atau peningkatan intensitas dari stimulus
reinforcement, akibatnya respons tersebut menjadi lebih kuat atau lebih mungkin
terjadi. Misalnya, bila seseorang pelajar memperoleh nilai yang baik setelah
belajar dengan keras, maka usaha pelajar tersebut akan terus dipertahankan
bahkan ditingkatkan.
Reinforcement negatif adalah dimana sebuah respons
diikuti oleh penghilangan, penundaan, atau penurunan intensitas stimulus yang
tidak menyenangkan, akibatnya respons menjadi lebih kuat atau lebih mungkin
terjadi, Misalnya, bila seseorang mengingatkan seorang anak untuk terus menerus
belajar dan dia akan berhenti cerewet ketika seorang anak tersebut mengikuti
sarannya, maka kemungkinan anak tersebut akan terus menerus untuk belajar,
karena berusaha menghindari kecerewatan orang tersebut.
Pembedaan positif dan negatif juga dapat diaplikasikan dalam
hukuman. Sesuatu yang tidak menyenangkan dapat saja terjadi mengikuti
suatu perilaku tertentu (Hukuman positif)
atau dapat saja sesuatu yang menyenangkan dihilangkan (Hukuman Negatif).
Misalnya, bila teman-teman anda mengolok-olok anda karena giat belajar (hukuman
positif) atau bila belajar membuat anda kehilangan waktu dengan teman-teman
anda (hukuman negatif).Hal tersebut mungkin saja membuat anda berhenti belajar.
Hukuman baik itu yang positif maupun negatif dapat menurunkan
kemungkinan munculnya respons serupa di masa yang akan datang. Sedangkan
reinforcement baik itu positif maupun negatif dapat meningkatkan kemungkinan
munculnya respons serupa di masa yang akan datang.
Menurut Syah (1995)
dalam Sobur (2013: 232),Teori-teori
pembelajaran Thorndike, Skinner, dan pengikut-pengikut mereka boleh dikatakan
sangat ilmiah. Teori-teori tersebut didasarkan pada eksperimen laboratorium
terkendali dengan gangguan minimum dalam interpretasi hasilnya.Karya mereka
dicobakan secara konsisten; hipotesis yang tidak didukung oleh data perilaku
dikesampingan; sedangkan yang baru, disusun dan di tes. Lebih jauh lagi,
berbagai pekerja dibidang ini saling menunjang karya yang satu dengan yang
lain, sehingga menghasilkan kumpulan investigasi yang seragam, berbagai istilah
yang sama.
Meskipun begitu, penekanan pada eksperimen laboratorium terkendali,
selain memiliki kekuatan, juga kelemahan. Diantara kelemahan-kelemahan teori
tersebut adalah sebagai berikut
Proses belajar dapat diamati secara langsung, padahal belajar
adalah proses kegiatan mental yang tidak dapat disaksiakn dari luar, kecuali
sebagai gejalanya.
1.
Proses belajar bersifat otomatis-mekanis sehingga terkesan seperti
gerakan mesin dan robot, padahal setiap individu memiliki self-direction (kemampuan
mengarahkan diri) dan self-control (pengendalian diri) yang bersifat
kognitif, sehingga ia bisa menolak untuk merespons jika ia tidak menghendaki,
misalnya karena lelah atau berlawanan dengan hati.
2.
Proses belajar manusia yang dianalogikan dengan perilaku hewan itu
sangat sulit diterima, mengingan mencoloknya perbedaan karakter fisik dan psikis
antara manusia dan hewan.
D. Prinsip Operant
Conditioning
Wade (2007: 271) mengatakan bahwa Ada 5
prinsip dalam Operant Conditioning, yaitu:
1.
Pemunahan
Dalam operant conditioning, seperti
juga dalam pengondisian klasik, pemunahan adalah prosedur yang
menyebabkan respons yang telah dipelajari sebelumnya untuk tidak lagi muncul.
Dalam operant conditioning, pemunahan terjadi ketika reinforcement yang
mempertahanhkan sesuatu dihilangkan atau tidak lagi disediakan. Pada mulanya,
akan tetap tetap muncul respons yang dipelajari, tapi kemudian respons-respons
ini secara bertahap akan berkurang dan pada akhirnya menghilang. Seandainya
anda meletakkan sekeping logam pada sebuah mesin penjual dan tidak mendapatkan
apapun, anda kemudian mencoba memasukkan kepingan lainnya, atau bahkan hingga
dua keeping, tetapi kemungkinan anda akan berhenti mencoba. Keesokan harinya,
anad mungkin akan mencoba untuk memasukkan sekeping logam lainnya, sebagai
contoh terjadinya pemulihan spontan. Meskipun demikian, bila hal ini berlanjut,
anda akan menyerah untuk memasukkan koin dalam koin tersebut. Respons anda
kemungkinan besar akan benar-benar hilang.
2.
Generalisasi Stimulus dan Diskriminasi Stimulus
Dalam operant
conditioning, seperti juga dalam pengondisian klasik, generalisasi stimulus
(stimulus generalization) mungkin saja terjadi.hal yang dimaksud disini adalah
respons-respon mungkin saja akan muncul (tergeneralisasikan) pada
stimulus-stimulus yang tidak hadir saat terjadinya proses belajar yang
sesungguhnya, tetapi tetapi memiliki kemiripan atau mengatkan organisme pada
stimulus yang asli. Contohnya, seekor burung dara yang telah dilatih yang
mematuk pada sebuah lingkaran dapat juga mematuk pada benda-benda yang
berbentuk oval. Akan tetapi, bila anda ingin melatih burung tersebut untuk
membedakan kedua bentuk tersebut, maka anda dapat menghadirkan kedua stimulus
(oval dan lingkaran) dan memberikan reinforcement hanya pada kemunculan setiap
patukan pada lingkaran saja dan tidak memberikan reinforcement yang sama
terhadap patukan pada bentuk oval. Pada akhirnya, yang terjadi adalah
diskriminasi stimulus (stimulus discrimination).
Terkadang,
ataupun juga manusia mempelajari untuk merespons pada satu stimulus atau ketika
stimulus lain hadir, atau atau disebut juga stimulus diskriminatif
(discriminative stimulus). Stimulus diskriminatif menjadi pertanda apakah
sebuah respons, bila dilkukan, akan menghasilkan sesuatu yang diharapkan atau
tidak.
3.
Pembelajaran Berdasarkan Jadwal
Ketika sebuah
respons baru muncul untuk pertama kalinya, pembelajaran biasanya akan
berlangsung dengan sangat cepat bila setiap respons yang diperkuat setiap kali
muncul; prosedur ini disebut sebagai reinforcement berkelanjutan (continuous
reinforcement). Namun, ketika sebuah respons telah muncul secara reliable,
respons ini akan lebih tahan terhadap pemunahan bila reinforcement diberikan
dengan menggunakan jadwal reinforcement parsial (intermittent/partial
reinforcement schedule), dimana reinforcement diberikan pada beberapa respons
saja dan tidak pada keseluruhan respons yang dihasilkan. Skinner (1956)
menemukan fakta ini ketika dia mulai kehabisan pellet makanan untuk
tikus-tikusnya dan terpaksa menurunkan frekuensi pemberian reinforcement. Bukan
melalui penemuan ilmiah yang direncanakan sama sekali! Pada jadwal
intermittent, sebuah reinforcrment disampaikan hanya setelah sejumlah respons
muncul atau setelah sejumlah waktu berselang sejak respons terakhir diperkuat;
pola tersebut mempengaruhi tingkat, bentuk, dan waktu sebuah perilaku.
Pemberian
reinforcement dalam cara yang tidak tetap ini membantu menjelaskan mengapa
banyak orang sering kali terikat pada topi ‘keberuntungan’, dan ritual-ritual
tertentu. Seorang pemukul baseball yang menarik topinya ke samping dan kemudian
berhasil melakukan homerun akan selalu
menarik topinya ke samping ke samping sebelum melakukan pukulan. Seorang
mahasiswa yang mendapatkan nilai ujian pada saat menjawab dengan menggunakan
pena berwarna ungu akan mengembangkan perilaku selalu mengerjakan ujian dengan
pena berwarna ungu. Ritual- ritual semacam ini bertahan karena terkadang
ritual-ritual ini diikuti oleh, murni secara kebetulan, reinforcement homerun,
nilai yang bagus dan karenanya menjadi sulit untuk dihilangkan.
4.
Pembentukan
Pembentukan
adalah prosedur operant conditioning, dimana perkiraan berturut- turut mengenai
respons yang diinginkan diperkuat.Dalam mekanisme pembentukan, akan dimulai
dengan memberikan reinforcement pada setiap kecenderungan munculnya respons
yang diharapkan, dan kemudian secara bertahap memancing munculnya
respons-respons yang lebih mendekati tujuan akhir, atau respons yang
diharapkan. Respons-respon yang diperkuat hingga terbentuknya respons terakhir
disebut sebagai perkiraan berturut-turut (successive approximation).
5.
Batasan Biologis pada Pembelajaran
Setiap prinsip
dari operant conditioning, seperti juga pada pengondisian klasik, terbatas atau
dibatasi oleh disposisi genetis hewan maupun juga karakteristik fisiknya. Oleh
karena itu, bila hendak menggunakan teknik pembentukan untuk mengajarkan seekor
ikan untuk menari samba, maka anda akan merasa frustasi (dan demikian juga
dengan ikan tersebut). Prosedur operant conditioning selalu bekerja dengan
sangat baik bila mempetimbangkan kecenderungan bawaan.
E. Operant
Conditioning dalam Kehidupan Nyata
Prinsip-prinsip Operant Conditioning
dapat menjelaskan banyak sekali misteri mengapa seseorang berlaku seperti apa
adanya dan penyebabnya. Untuk membantu orang mengubah perilaku dan kebiasaan
yang tidak diharapkan. Para ahli dalam aliran behaviorisme telah menggunakan
Prinsip-prinsip Operant Conditioning diluar konteks dan juga dalam dunia luas,
seperti dalam kelas, lapangan, dsb. Penggunaan teknik-teknik operant
conditioning dalam latar belakang dunia nyata ini sering kali disebut sebagai
modifikasi perilaku behavior modification atau dikenal sebagai analisis
perilaku terapan.
Modifikasi Perilaku atau analisis
perilaku terapan adalah teknik Operant Conditioning untuk melatih
rspons-respons baru atau untuk mengurangi atau menghilangkan perilaku yang
bermasalah atau problematis..
a.
Pro dan Kontra Penggunaan Hukuman
Dalam sebuah novel berjudul Walden
Two (1948/1976), Skinner membayangkan sebuah utopia dimana reinforcement
digunakan dengan begitu bijaksana sehingga perilaku yang tidak diharapkan
menjadi jarang muncul. Namun, kita tidak hidup dalam utopia seperti itu,
kebiasaan-kebiasaan buruk dan perilaku antisosial sering kali muncul di sekitar
kita. Tentu saja, dalam hubungan kita dengan orang lain, kita lebih sering
menghukum orang lain dengan berteriak, mencela, dan menunjukkan ketidak puasan
terhadap orang lain. Lalu, Apakah hukuman bekerja dengan efektif?
Dalam beberapa hal terkadang, tidak
perlu diragukan lagi bahwa hukuman dapat menjadi efektif. Misalnya, hukuman
dapat menghambat atau mencegah beberapa pelaku kriminalitas remaja untuk
mengulangi kembali tindak kriminalitas yang mereka perbuat. Namun, pada
penelitian laboratorium dan penelitian lapangan hukuman yang terjadi setiap
hari di dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan kerja sering kali gagal untuk alasan-alasan
berikut ini:
1.
Seseorang sering memberikan hukuman dengan cara yang tidak tepat
atau tanpa pikir panjang. Misalnya, memarahi balita.
2.
Penerima hukuman yang keras atau berkala sering kali merespons
dengan kecemasan, rasa takut, atau rasa marah. Misalnya, Seorang remaja yang
dihukum dengan keras mungkin saja melarikan diri.
3.
Efektivitas penggunaan hukuman sering kali bersifat sementara,
bergantung pada kehadiran orang yang memberikan hukuman ataupun situasi dan
kondisinya. Misalnya perilaku masa kecil yang tidak pernah berani dimunculkan
seorang anak ketika berada di sekitar orangtua, namun perilaku tersebut akan
dimunculkan ketika tidak ada orangtuanya.
4.
Kebanyakan perilaku yang tidak tepat tidak dapat dihukum dengan
segera.
5.
Hukuman mengandung sedikit sekali informasi. Misalnya, Memarahi
seorang siswa karena lambat menangkap materi tidak akan mengajarkannya untuk
belajar dengan lebih cepat.
6.
Perilaku yang ditujukan untuk menghukum malah mungkin dianggap
sebagai reinforcement karena hal ini memberikan perhatian. Misalnya, Ketika di
dalam ruang kelas, seorang guru yang menghina seorang anak dihadapan anak
lainnya, sering kali menjadi reinforcement perilaku yang tidak sengaja.
b.
Masalah dengan Penghargaan
Reinforcement tidak selalu bekerja
sesuai dengan harapan. Ada dua masalah yang akan muncul ketika orang
menggunakan reinforcement, yaitu:
1.
Ketidaktepatan penggunaan penghargaan
Selama ini guru akan selalu memberikan pujian dan stiker bergambar
wajah bahagia atau nilai yang tinggi sebagai harapan bahwa kinerja akademik
siswa tersebut meninggkat seiring dengan upaya mereka untuk belajar ‘’merasa
nyaman dengan diri sendiri’’ .namun secarah ilmiah, pendekatan ini keliru .
Berbagai penelitian menemukan harga diri yang tinggi tidak meningkatkan kinerja
akademik (baumeister et, al., 2003). Sebaliknya prestasi akademik membutuhkan
usaha dan ketekunan (duckworth et al., 2011). Hal ini dipupuk bukan dengan
penghargaan yang tidak patut, tetapi dengan apresiasi jujur seorang guru
tentang kandungan karya siswa dan umpan balik spesifik yang konstruktif tentang
bagaimana memperbaiki kesalahan atau memperbaiki kelemahan (damon, 1995).
2.
Penghargaan yang berdampak negatif
Penghargaan ekstrinsik terkadang dapat menurunkan kesenangan
instrinsik terhadap suatu aktivitas. Contoh ketika anak paud di janjikan sebuah
hadiah untuk menggambar menggunakan pena berujung runcing, perilaku tersebut
meningkat secara sementara. Namun setelah mereka mendapatkan hadiahnya, mereka
menghabiskan lebih sedikit bermain dengan pensil yang berujung runcing tersebut
daripada saat sebelumnya.
Reinforcement
ekstrinsik dapat mengurangi kadar kepuasan yang diperoleh dari suatu aktivis
tertentu. Dalam hal ini, psikolog telah memikirkan interpretasi alternative dari temuan ini.
Satu kemungkinan jawaban adalah ketika kita di bayar untuk melakukan sebuah
aktivitas tertentu, kita melihatnya sebagai pekerjaan, tapi ketika penghargaan
tersebut dihilangkan kita akan menolak untuk bekerja lebih banyak. Kesimpulan
dari reinforcement ekstrinsik adalah reinforcement ekstrinsik terkadang
meningkatkan kecepatan dalam merespons sampai kebatas yang melebihi batas
optimal yang dapat dinikmati.Pada saat itu aktivis tersebut benar-benar menjadi
sebuah pekerjaan.Jadi penghargaan ekstrinsik harus di gunakan dengan hati-hati
dan tidak boleh berkebihan sehingga kesenangn instrinsik dalam suatu kegiatan
dapat berkembang.
BAB IV
PENUTUP
A.
Simpulan
Operant
Conditioning diciptakan
oleh Skinner dan memiliki arti umum pengkondisian perilaku. Istilah “operan” di
sini berarti (operation) yang pengaruhnya mengakibatkan organisme
melakukan suatu perbuatan pada lingkungannya. Penelitian conditioning operan
dimulai pada awal abad ini dengan sejumlah eksperimen oleh Thorndike (1898). Ia
yang dipengaruhi oleh teori evaluasi Darwin, mencoba menunjukkan bahwa proses
belajar pada hewan merupakan proses yang terus-menerus, sama seperti proses
belajar pada manusia.
Dalam
analisis Skinner yang telah menginspirasi banyak orang untuk melakukan
penelitian, sebuah respons (operant) dapat menghasilkan dua macam konsekuensi,
yaitu a) Reinforcement memperkuat atau meningkatkan kemungkinan terjadinya
respons di masa yang akan datang, b) Hukuman memperlemah atau mengurangi
kemungkian respons tertentu muncul di masa yang akan datan.
Adapun
hubungan antara a) Reinforcement serta Hukuman Primer dan Sekunder.
Reinforcemet primer adalah stimulus yang berhubungan erat dengan reinforcement,
umumnya memenuhi kebutuhan fisiologis. Reinforcement dan hukuman primer dapat
berdampak sangat besar, tetapi mereka memiliki kelemahan dalam penggunaannya
dalam kehidupan nyata maupun penelitian. Reinforcement ataupun hukuman sekunder
seringkali disebut sebagai Reinforcement dan hukuman yang terkondisi b)
Reinforcement dan Hukuman Positif dan Negatif. Reinforcement Positif adalah
prosedur reinforcement, dimana sebuah respons diikuti dengan presentasi atau
peningkatan intensitas dari stimulus reinforcement. Hukuman baik itu yang
positif maupun negatif dapat menurunkan kemungkinan munculnya respons serupa di
masa yang akan datang. Sedangkan reinforcement baik itu positif maupun negatif
dapat meningkatkan kemungkinan munculnya respons serupa di masa yang akan
datang.
Ada 5 prinsip dalam Operant
Conditioning, yaitu: Pemunahan, Generalisasi Stimulus dan Diskriminasi
Stimulus, Pembelajaran Berdasarkan Jadwal, Pembentukan, dan Batasan Biologis
pada Pembelajaran sehingga Operant Conditioning dapat dipraktekkan dalam
kehidupan nyata.Penggunaan teknik-teknik operant conditioning dalam latar
belakang dunia nyata ini sering kali disebut sebagai modifikasi perilaku behavior
modification atau dikenal sebagai analisis perilaku terapan.
DAFTAR
PUSTAKA
Feldman, Papalia Olds. 2013. Human
Development. Jakarta: Salemba Humanika.
Irwanto dkk. 2002. Psikologi Umum.
Jakarta: PT Prenhallindo.
Kristianti, Lia Dewi. 2013. Teori Belajar Conditioning. Kristiantliadewi.blogspot.co.id
(Diakses pada 11 Maret 2017)
Psychoshare. 2014. Apa yang dimaksud Operant Conditioning. http://www.psychoshare.com
(Diakses pada 11 Maret 2017).
Sobur, Alex.
2013. Psikologi Umum dalam Lintas Sejarah. Bandung: Pustaka Setia.
Tavris, C dan Wade, C. 2007. Psikologi, Edisi ke-9. Jakarta
: Penerbit Erlangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar