Sabtu, 18 November 2017

MAKALAH PEMBELAJARAN DAN PENGKONDISIAN 2- NURSAADAH



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam keilmuan Psikologi, ada tahapan dimana manusia mengalami proses pembelajaran dan pengkondisian. Belajar merupakan suatu proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah mampu yang terjadi dalam waktu tertentu, perubahan-perubahan tersebut biasanya terjadi karena pengalaman yang dapat mempengaruhi individu dalam segi kognitif. Perubahan yang terjadi tersebut, harus secara relatif bersifat menetap (permanen) dan tidak hanya terjadi pada perilaku yang tampak saat ini saja, tetapi juga pada perilaku yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Salah satu bentuk pembelajaran adalah Operant Conditioning, yaitu saat dimana individu belajar dari akibat-akibat yang terjadi di lingkungannya.
Wade (2007: 266) mengatakan Pada akhir abad ke-19dalam  salah satu penelitian pertama mengenai rasa marah, G. Stanley Hall (1899) meminta sejumlah orang untuk mendeskripsikan suatu peristiwa amarah yang telah mereka alami atau telah mereka lihat. Seorang responden menceritakan seorang gadis berusia tiga tahun yang mengeluarkan rasa marah dengan menangis tanpa tercontrol ketika dia di hukum dengan cara ditinggalkan dirumah dan tidak di ajak pergi jalan-jalan. Di tengah rasa amarahnya, anak ini tiba-tiba berhenti menangis dan bertanya kepada pengasuhnya dalam suara yang sangat tenang, apakah ayahnya ada dirumah?Ketika di jawab tidak, dia kemudian melanjutkan isakanya.Anak-anak tentu saja, menangis untuk berbagai alasan yang sah, rasa sakit, ketidak nyamanan, rasa takut, penyakit, dan rasa lelah.Dan tangisan ini perlu dan layak untuk mendapatkan empati dan perhatian terhadap orang dewasa. Namun demikian, anak dalam penelitian Stanley Hall ini menunjukkan bahwa munculnya raungan dan tangisan ini akan memberikanya perhatian dan kemungkinan ajakan dari orang tua untuk pergi keluar bersama seperti yang anak kecil inginkan. Keadaan meledak-ledak seperti ini menunjukkan salah Satu hukum paling mendasar dari pembelajaran.
Papalia (2013: 49) mengatakan Penelitian serupa juga dilakukan pada seorang bayi bernama Terrel yang dengan tenang di ranjangnya. Ketika kebetulan ia tersenyum, ibunya menghampiri ranjang Terrel dan bermain dengannya. Kemudian, ayahnya melakukan hal yang sama. Sebagaimana urutan ini diulang-ulang Terrel belajar bahwa perilakunya (tersenyum) dapat menghasilkan akibat yang menarik perhatian orangtuanya. Suatu perilaku tidak sengaja yang asli (tersenyum) telah menjadi sebuah respons yang terkondisi.
Prinsip ini ada pada inti dari Operant conditioning atau pengondisian instrumental, merupakan jenis pengondisian kedua, dan operant conditioning ini di pelajari bagi mereka yang mengikuti aliran behaviorisme. Dalam pengondisian klasik, tidak peduli apakah perilaku manusia atau hewan memiliki konsekuensi tertentu atau tidak. Dalam prosedur yang dilakukan Pavlov, anjing tersebut mempelajari bahwa terdapat asosiasi antara dua kejadian yang berada di luar kendali anjing tersebut (dalam hal ini adalah bunyi bel dan penyajian makanan) dan hewan tersebut  mendapatkan makanan entah dia menghasilkan liur ataupun tidak menghasilkan liur. Namun dalam operant conditioning, memerhatikan tindakan dan pengaruh terhadap lingkungan, pengaruh dan dampak ini yang kemudian akan muncul lagi atau tidak.
B.F. Skinner (seorang tokoh Psikologi)telah merumuskan prinsip-prinsip Operant Conditioning. Ia menemukan bahwa suatu organisme akan cenderung mengulang sebuah respons yang telah diperkuat dengan akibat-akibat yang baik.
Maka dari itu, untuk mengetahui lebih detail mengenai materi Operant Conditioning, makalah ini disusun dengan memberikan penjelasan yang lebih terperinci tentang Operant Conditioning dan sejarah penemuan teorinya, serta contohnya dalam kehidupan nyata.






B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Definisi Operant Conditioning?
2.      Apa saja Eksperimen dalam Operant Conditioning?
3.      Apa saja teori-teori dalam Operant Conditioning?
4.      Apa saja Prinsip dalamOperant Conditioning?
5.      Bagaimana Operant Conditioning dalam Kehidupan Nyata?

C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah ntuk menjelaskan tentang:
1.      Definisi Operant Conditioning?
2.      Eksperimen dalam Operant Conditioning
3.      Teori-teori dalam Operant Conditioning
4.      Prinsip dalamOperant Conditionin
5.      Operant Conditioning dalam Kehidupan Nyata




















BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Operant Conditioning
Menurut Sylva & Lunt (1986) dalam Sobur (2013: 232).Istilah conditioning operant (Operant Conditioning) diciptakan oleh Skinner dan memiliki arti umum pengkondisian perilaku. Istilah “operan” di sini berarti (operation) yang pengaruhnya mengakibatkan organisme melakukan suatu perbuatan pada lingkungannya, misalnya: perilaku motorik yang biasanya merupakan perbuatan yang dilakukan secara sadar.
Respon dalam conditioning operan terjadi tanpa didahului stimulus, melainkan efek yang ditimbulkan  oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri sesungguhnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, akan tetapi tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical respondent conditioning.
Penelitian conditioning operan dimulai pada awal abad ini dengan sejumlah eksperimen oleh Thorndike (1898). Ia yang dipengaruhi oleh teori evaluasi Darwin, mencoba menunjukkan bahwa proses belajar pada hewan merupakan proses yang terus-menerus, sama seperti proses belajar pada manusia.
Conditioning operant adalah nama yang digunakan oleh Skinner (1938) untuk suatu prosedur yang menyebabkan individu bisa mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian ganjaran yang bijaksana dalam lingkungan yang relative bebas.
Conditioning operant dirumuskan berdasarkan prosedurnya. Akan tetapi, program penyelidikan yang dikembangkannya memiliki sejumlah corak khusus yang tidak menuruti prosedur. Prinsip-prinsip yang penting itu ditata oleh Skinner dan sebagian dikembangkan oleh orang-orang lain, yaitu mengenai persoalan-persoalan dasar yang berhubungan dengan bidang belajar dan teori belajar. Keseluruhan istilah yang khusus, cara membuat eksperimen, dan sikap terhadap persoalan-persoalan teoritis dan eksperimental, demikian pula arah penyelidikan utama, disebut sebagai aspek-aspek analisis eksperimental dari tingkah laku.
Secara harfiah, segala sesuatu menjadi pengukuh sepanjang sesuatu itu meningkatkan kemungkinan tindakan sebelumnya. Jika penyalaan lampu pada kandang burung dara membuat burung tersebut lebih giat mematuk, cahaya itulah pengukuhnya. Jika tikus makin sering menekan batang pengungkit ketika hal itu diikuti dengan terbukanya jalan masuk ke roda untuk berlari-lari, jalan masuk itulah yang dianggap pengukuh. Skinner mendefinisikan pengukuh sebagai objek atau peristiwa yang meningkatkan kemungkinan bahwa respons yang mereka ikuti akan terjadi lagi. Misalnya, jika seorang ibu memeluk bayinya setiap kali si bayi tersenyum, pelukan itulah yang menjadi pengukuh karena mendorong dilakukannya senyum. Istilah itu mungkin tampak mirip dengan gagasan Thorndike mengenai “keputusan”, namun pengukuh didefinisikan lewat cara kerjanya; tidak ada asumsi mengenai rasa senang.

B.       Eksperimen dalam Operant Conditioning
Irwanto, dkk (2002: 120) mengatakan bahwa sebelum adanya teori Operant Conditioning, Ada dua eksperimen yang telah dilakukan oleh para peneliti, diantaranya:

1.      Eksperimen Thorndike
Operant conditioning telah di pelajari semenjak awal abad ke 20, meskipun baru disebut sebagai operant conditioning pada masa-masa berikutnya. Edward Thorndike (1898), yang pada saat itu adalah kandidat doctoral, melakukan percobaan dengan mengobservasi kucing-kucing yang menghasilkan beberapa prinsip belajar yang dikemukakannya mempunyai dampak yang cukup luas dan masih digunakan hingga kini.
Thorndike memakai kucing dalam percobaan-percobaannya.Kucing tidak diberi makan untuk jangka waktu tertentu, kemudian dimasukkan kedalam kotak teka-teki (puzzle box).Kucing harus belajar membuka salah satu pintu untuk dapat memperoleh seekor ikan yang ditaruh di ruang kecil dalam kotak tersebut. Mula-mula kucing akan mencakar-cakar dan mendorong-dorong semua sudut ruangan, kemudian lama kelamaan akan hilang sampai pada akhirnya hanya ada tindakan tertentu yang berhasil membuka pintu. Berdasarkan pengamatan tersebut Thorndike mengemukakan prinsip belajarnya The Law of Effect yaitu apabila suatu tindakan memberikan hasil yang memuaskan, maka akan cenderung diulang kembali di waktu yang akan datang, tetapi yang tidak menghasilkan sesuatu akan yang ditinggalkan. Hukum belajar lain yang dikemukakan oleh Thorndike adalah The Law of Readiness, yang menyatakan tingkat kesiapan seseorang untuk mempelajari sesuatu akan sangat mempengaruhi hasi belajarnya.

2.      Eksperimen Skinner
Prinsip umum Thorndike ini kemudian dirinci dan di kembangkan kedalam bentuk yang lebih kompleks oleh B.F.(Burhus Frederic) Skinner (1904-1990). Skinner menyebut pendekatan ini sebagai “Behaviorisme radikal” untuk membedakanya dengan behaviorisme yang dianut oleh john Watson, yang menekankan pada pengondisian klasik. Skinner mengatakan bahwa untuk memahami perilaku, kita sebaiknya memusatkan perhatian pada penyebab eksternal dari perilaku dan konsekuensi yang mengikuti perilaku tersebut. Skinner menghindari penggunaan istilah yang digunakan thordinke seperti “memuaskan” dan “mengganggu”, yang menggambarkan asumsi-asumsi mengenai apa yang diinginkan dan dirasakan oleh organism. Menurut thordinke, untuk menjelaskan perilaku, kita harus melihat hal diluar individu, bukan apa yang terjadi di dalam diri individu.
Skinner membedakan antara perilaku operant dan respondent. Perilaku respondent secara langsung dikendalikan oleh suatu stimulus, seperti U.R. pada classical conditioning, yaitu keluarnya air liur. Perilaku operant terjadi karena kehendak individu/ organisme itu sendiri. Stimulus yang diberikan pada perilaku tertentu tidak memaksakan individu/ organisme untuk berperilaku seperti itu. Perilaku operant bukan hanya sekedar respons pada suatu stimulus tertentu. Oleh karena stimulus dalam operant conditioning disebut sebagai discriminative stimulus.
Untuk menunjukkan proses operant conditioning. Skinner melakukan eksperimen dengan sebuah kotak yang disebut Skinner’s Box. Tikus percobaan tidak diberi makan selama jangka waktu tertentu agar perilaku tikus didorong oleh keinginan untuk makan. Isi kotak Skinner hanyalah sebuah lampu kecil yang menyala bila dikehendaki oleh eksperimenter dan sebuah tombol pengungkit yang ditekan maka tempat makanan dibawahnya akan terbuka.
Tikus dimasukkan ke dalam kotak untuk waktu tertentu. Jumlah dan selang waktu tikus menekan tombol pengungkit pada waktu pertama kali dimasukkan kedalam kotak akan menentukan preconditioned operant level dari perilakunya. Setelah operant level ini diketahui, maka eksperimenter menaruh tempat makanan dibawah tombol pengungkit. Dengan demikian, setiap kali tikus menekan tombol pengungkit, makanan akan keluar dan lambat laun jumlah perilaku menekan ini akan meningkat secara dramatis (dalam hal ini makanan berfungsi sebagai penguat). Bila tempat makanan diambil, maka perilaku menekan tombol akan menghilang.
Dalam kehidupan sehari-hari pujian pada anak ketika melakukan hal yang terpuji dapat menjadi penguat dari berbagai perilaku anak-anak, sehingga anak-anak akan terus melakukan kegiatan terpuji tersebut.

C.    Teori-Teori dalam Operant Conditioning
Wade (2007: 267), Dalam analisis Skinner yang telah menginspirasi banyak orang untuk melakukan penelitian, sebuah respons (operant) dapat menghasilkan dua macam konsekuensi.
1.      Reinforcement memperkuat atau meningkatkan kemungkinan terjadinya respons di masa yang akan datang
Reinforcement adalah proses dimana sebuah stimulus atau kejadian memperkuat atau meningkatkan kemungkinan terjadinya respons yang menyertainya.
Ketika anjing anda mengharapkan makanan yang ada di meja dan kemudian anda berikan potongan daging kepadanya, kemungkinan perilaku mengharapkan makanan ini semakin kuat.
Reinforcement dapat dikatakan ekuivalen dengan penghargaan dan banyak psikolog yang menggunakan istilah penghargaan dan reinforcement sebagai sesuatu yang sama. Bagaimanapun juga, para penganut aliran behaviorisme yang tegas menghindari penggunaan kata penghargaan karena kata ini menekankan pada sesuatu yang di peroleh sebagai hasil kerja keras dan sifatnya menghasilkan perasaan bahagia ataupun  rasa puas. Untuk para ahli behaviorisme, sebuah stimulus adalah reinforcement ketika stimulus ini memperkuat prilaku yang sebelumnya, baik itu menyenangkan ataupun tidak menyenangkan bagi yang bersangkutan.Demikian juga sebaliknya, seberapapun menyenangkan atau tidaknya stimulus, tetapi bila stimulus ini tidak meningkatkan kemungkinan munculnya respons maka hal ini tidak dapat disebut sebagai reinforcement. Hal yang sangat menyenangkan untuk menerima gaji, tetapi bila anda menerima gaji terlepas dari usaha yang anda berikan pada pekerjaan anda, uang tersebut tidak akan memperkuat

2.      Hukuman memperlemah atau mengurangi kemungkian respons tertentu muncul di masa yang akan datang
Hukuman adalah proses dimana sebuah stimulus atau kejadian melemahkan atau mengurangi kemungkinan terjadinya respons yang menyertainya.
Setiap stimulus atau kejadian yang tidak menyenangkan dapat saja menjadi sebuah hukuman. Bila anjing anda menginginkan potongan daging yang ada di piring anda dan anda menyentil hidungnya atau berteriak tidak maka kemungkinan munculnya perilaku mengharapkan makanan akan berkuarang selama anda tidak merasa bersalah dan kemudian memutuskan memberikan potongan daging tersebut pada anjing.
Orangtua, pemberi kerja, dan pemerintahan sering kali menggunakan reinforcement maupun hukuman setiap saat untuk membentuk anak dapat berperilaku sopan, karyawan bekerja keras, dan warga membayar pajak. Namun, mereka sering kali menunggu terlalu lama untuk memberikan reinforcement atau hukuman atas perilaku tertentu. Secara umum, semakin cepat konsekuensi suatu perilaku muncul, semakin besar pula juga dampaknya terhadap perilaku tersebut. Anda akan cenderung merespons dengan lebih baik ketika anda tidak harus menunggu lama untuk mendapatkan kenaikan gaji, senyuman, atau sebuah pujian. Ketika respons lainnya muncul pada jeda tersebut akan sulit untuk mempelajari hubungan antara respons yang diharapkan ataupun tidak diharapkan dengan konsekuensinya.
a.       Reinforcement serta Hukuman Primer dan Sekunder
Reinforcemet primer adalah stimulus yang berhubungan erat dengan reinforcement, umumnya memenuhi kebutuhan fisiologis, misalnya makanan, minuman, cahaya, temperatur udara yang nyaman merupakan hal-hal yang secara alami memperkuat suatu respons karena mereka menghasilkan pemenuhan kebutuhan biologis kita.Sementara, Hukuman primer adalah Stimulus yang berhubungan erat dengan hukuman, contohnya rasa sakit dan panas atau dingin yang ekstrim.
Reinforcement dan hukuman primer dapat berdampak sangat besar, tetapi mereka memiliki kelemahan dalam penggunaannya dalam kehidupan nyata maupun penelitian, misalnya, untuk reinforcement primer dapat menjadi tidak efektif bila hewan atau manusia berada dalam keaadaan serba kekurangan. Misalnya, suatu hadiah tidak akan menjadi penghargaan jika seseorang yang akan diberi hadiah telah mempunyai sesuatu tersebut.
Namun, perilaku dapat diatur dengan sama efektifnya dengan menggunakan reinforcement sekunder. Reinforcement sekunder adalah Stimulus yang memiliki ciri khas reinforcemet melalui asosiasi dengan reinforcement lainnya, seperti uang, pujian atau tepuk tangan.Sebaliknya kritik, cacian, atau denda merupakan hukuman sekunder.Hukuman sekunder adalah Stimulus yang memiliki ciri khas hukuman melalui asosiasi dengan hukuman lainnya.Reinforcement ataupun hukuman sekunder seringkali disebut sebagai Reinforcement dan hukuman yang terkondisi.
b.      Reinforcement dan Hukuman Positif dan Negatif
Reinforcement Positif adalah prosedur reinforcement, dimana sebuah respons diikuti dengan presentasi atau peningkatan intensitas dari stimulus reinforcement, akibatnya respons tersebut menjadi lebih kuat atau lebih mungkin terjadi. Misalnya, bila seseorang pelajar memperoleh nilai yang baik setelah belajar dengan keras, maka usaha pelajar tersebut akan terus dipertahankan bahkan ditingkatkan.
Reinforcement negatif adalah dimana sebuah respons diikuti oleh penghilangan, penundaan, atau penurunan intensitas stimulus yang tidak menyenangkan, akibatnya respons menjadi lebih kuat atau lebih mungkin terjadi, Misalnya, bila seseorang mengingatkan seorang anak untuk terus menerus belajar dan dia akan berhenti cerewet ketika seorang anak tersebut mengikuti sarannya, maka kemungkinan anak tersebut akan terus menerus untuk belajar, karena berusaha menghindari kecerewatan orang tersebut.
Pembedaan positif dan negatif juga dapat diaplikasikan dalam hukuman. Sesuatu yang tidak menyenangkan dapat saja terjadi mengikuti suatu  perilaku tertentu (Hukuman positif) atau dapat saja sesuatu yang menyenangkan dihilangkan (Hukuman Negatif). Misalnya, bila teman-teman anda mengolok-olok anda karena giat belajar (hukuman positif) atau bila belajar membuat anda kehilangan waktu dengan teman-teman anda (hukuman negatif).Hal tersebut mungkin saja membuat anda berhenti belajar.
Hukuman baik itu yang positif maupun negatif dapat menurunkan kemungkinan munculnya respons serupa di masa yang akan datang. Sedangkan reinforcement baik itu positif maupun negatif dapat meningkatkan kemungkinan munculnya respons serupa di masa yang akan datang.
Menurut Syah (1995) dalam Sobur (2013: 232),Teori-teori pembelajaran Thorndike, Skinner, dan pengikut-pengikut mereka boleh dikatakan sangat ilmiah. Teori-teori tersebut didasarkan pada eksperimen laboratorium terkendali dengan gangguan minimum dalam interpretasi hasilnya.Karya mereka dicobakan secara konsisten; hipotesis yang tidak didukung oleh data perilaku dikesampingan; sedangkan yang baru, disusun dan di tes. Lebih jauh lagi, berbagai pekerja dibidang ini saling menunjang karya yang satu dengan yang lain, sehingga menghasilkan kumpulan investigasi yang seragam, berbagai istilah yang sama.
Meskipun begitu, penekanan pada eksperimen laboratorium terkendali, selain memiliki kekuatan, juga kelemahan. Diantara kelemahan-kelemahan teori tersebut adalah sebagai berikut
Proses belajar dapat diamati secara langsung, padahal belajar adalah proses kegiatan mental yang tidak dapat disaksiakn dari luar, kecuali sebagai gejalanya.
1.      Proses belajar bersifat otomatis-mekanis sehingga terkesan seperti gerakan mesin dan robot, padahal setiap individu memiliki self-direction (kemampuan mengarahkan diri) dan self-control (pengendalian diri) yang bersifat kognitif, sehingga ia bisa menolak untuk merespons jika ia tidak menghendaki, misalnya karena lelah atau berlawanan dengan hati.
2.      Proses belajar manusia yang dianalogikan dengan perilaku hewan itu sangat sulit diterima, mengingan mencoloknya perbedaan karakter fisik dan psikis antara manusia dan hewan.

D.      Prinsip Operant Conditioning
Wade (2007: 271) mengatakan bahwa Ada 5 prinsip dalam Operant Conditioning, yaitu:

1.      Pemunahan
Dalam operant conditioning, seperti juga dalam pengondisian klasik, pemunahan adalah prosedur yang menyebabkan respons yang telah dipelajari sebelumnya untuk tidak lagi muncul. Dalam operant conditioning, pemunahan terjadi ketika reinforcement yang mempertahanhkan sesuatu dihilangkan atau tidak lagi disediakan. Pada mulanya, akan tetap tetap muncul respons yang dipelajari, tapi kemudian respons-respons ini secara bertahap akan berkurang dan pada akhirnya menghilang. Seandainya anda meletakkan sekeping logam pada sebuah mesin penjual dan tidak mendapatkan apapun, anda kemudian mencoba memasukkan kepingan lainnya, atau bahkan hingga dua keeping, tetapi kemungkinan anda akan berhenti mencoba. Keesokan harinya, anad mungkin akan mencoba untuk memasukkan sekeping logam lainnya, sebagai contoh terjadinya pemulihan spontan. Meskipun demikian, bila hal ini berlanjut, anda akan menyerah untuk memasukkan koin dalam koin tersebut. Respons anda kemungkinan besar akan benar-benar hilang.

2.      Generalisasi Stimulus dan Diskriminasi Stimulus
Dalam operant conditioning, seperti juga dalam pengondisian klasik, generalisasi stimulus (stimulus generalization) mungkin saja terjadi.hal yang dimaksud disini adalah respons-respon mungkin saja akan muncul (tergeneralisasikan) pada stimulus-stimulus yang tidak hadir saat terjadinya proses belajar yang sesungguhnya, tetapi tetapi memiliki kemiripan atau mengatkan organisme pada stimulus yang asli. Contohnya, seekor burung dara yang telah dilatih yang mematuk pada sebuah lingkaran dapat juga mematuk pada benda-benda yang berbentuk oval. Akan tetapi, bila anda ingin melatih burung tersebut untuk membedakan kedua bentuk tersebut, maka anda dapat menghadirkan kedua stimulus (oval dan lingkaran) dan memberikan reinforcement hanya pada kemunculan setiap patukan pada lingkaran saja dan tidak memberikan reinforcement yang sama terhadap patukan pada bentuk oval. Pada akhirnya, yang terjadi adalah diskriminasi stimulus (stimulus discrimination).
Terkadang, ataupun juga manusia mempelajari untuk merespons pada satu stimulus atau ketika stimulus lain hadir, atau atau disebut juga stimulus diskriminatif (discriminative stimulus). Stimulus diskriminatif menjadi pertanda apakah sebuah respons, bila dilkukan, akan menghasilkan sesuatu yang diharapkan atau tidak.

3.      Pembelajaran Berdasarkan Jadwal
Ketika sebuah respons baru muncul untuk pertama kalinya, pembelajaran biasanya akan berlangsung dengan sangat cepat bila setiap respons yang diperkuat setiap kali muncul; prosedur ini disebut sebagai reinforcement berkelanjutan (continuous reinforcement). Namun, ketika sebuah respons telah muncul secara reliable, respons ini akan lebih tahan terhadap pemunahan bila reinforcement diberikan dengan menggunakan jadwal reinforcement parsial (intermittent/partial reinforcement schedule), dimana reinforcement diberikan pada beberapa respons saja dan tidak pada keseluruhan respons yang dihasilkan. Skinner (1956) menemukan fakta ini ketika dia mulai kehabisan pellet makanan untuk tikus-tikusnya dan terpaksa menurunkan frekuensi pemberian reinforcement. Bukan melalui penemuan ilmiah yang direncanakan sama sekali! Pada jadwal intermittent, sebuah reinforcrment disampaikan hanya setelah sejumlah respons muncul atau setelah sejumlah waktu berselang sejak respons terakhir diperkuat; pola tersebut mempengaruhi tingkat, bentuk, dan waktu sebuah perilaku.
Pemberian reinforcement dalam cara yang tidak tetap ini membantu menjelaskan mengapa banyak orang sering kali terikat pada topi ‘keberuntungan’, dan ritual-ritual tertentu. Seorang pemukul baseball yang menarik topinya ke samping dan kemudian berhasil melakukan  homerun akan selalu menarik topinya ke samping ke samping sebelum melakukan pukulan. Seorang mahasiswa yang mendapatkan nilai ujian pada saat menjawab dengan menggunakan pena berwarna ungu akan mengembangkan perilaku selalu mengerjakan ujian dengan pena berwarna ungu. Ritual- ritual semacam ini bertahan karena terkadang ritual-ritual ini diikuti oleh, murni secara kebetulan, reinforcement homerun, nilai yang bagus dan karenanya menjadi sulit untuk dihilangkan.



4.      Pembentukan
Pembentukan adalah prosedur operant conditioning, dimana perkiraan berturut- turut mengenai respons yang diinginkan diperkuat.Dalam mekanisme pembentukan, akan dimulai dengan memberikan reinforcement pada setiap kecenderungan munculnya respons yang diharapkan, dan kemudian secara bertahap memancing munculnya respons-respons yang lebih mendekati tujuan akhir, atau respons yang diharapkan. Respons-respon yang diperkuat hingga terbentuknya respons terakhir disebut sebagai perkiraan berturut-turut (successive approximation).

5.      Batasan Biologis pada Pembelajaran
Setiap prinsip dari operant conditioning, seperti juga pada pengondisian klasik, terbatas atau dibatasi oleh disposisi genetis hewan maupun juga karakteristik fisiknya. Oleh karena itu, bila hendak menggunakan teknik pembentukan untuk mengajarkan seekor ikan untuk menari samba, maka anda akan merasa frustasi (dan demikian juga dengan ikan tersebut). Prosedur operant conditioning selalu bekerja dengan sangat baik bila mempetimbangkan kecenderungan bawaan.

E.     Operant Conditioning dalam Kehidupan Nyata
Prinsip-prinsip Operant Conditioning dapat menjelaskan banyak sekali misteri mengapa seseorang berlaku seperti apa adanya dan penyebabnya. Untuk membantu orang mengubah perilaku dan kebiasaan yang tidak diharapkan. Para ahli dalam aliran behaviorisme telah menggunakan Prinsip-prinsip Operant Conditioning diluar konteks dan juga dalam dunia luas, seperti dalam kelas, lapangan, dsb. Penggunaan teknik-teknik operant conditioning dalam latar belakang dunia nyata ini sering kali disebut sebagai modifikasi perilaku behavior modification atau dikenal sebagai analisis perilaku terapan.
Modifikasi Perilaku atau analisis perilaku terapan adalah teknik Operant Conditioning untuk melatih rspons-respons baru atau untuk mengurangi atau menghilangkan perilaku yang bermasalah atau problematis..
a.       Pro dan Kontra Penggunaan Hukuman        
Dalam sebuah novel berjudul Walden Two (1948/1976), Skinner membayangkan sebuah utopia dimana reinforcement digunakan dengan begitu bijaksana sehingga perilaku yang tidak diharapkan menjadi jarang muncul. Namun, kita tidak hidup dalam utopia seperti itu, kebiasaan-kebiasaan buruk dan perilaku antisosial sering kali muncul di sekitar kita. Tentu saja, dalam hubungan kita dengan orang lain, kita lebih sering menghukum orang lain dengan berteriak, mencela, dan menunjukkan ketidak puasan terhadap orang lain. Lalu, Apakah hukuman bekerja dengan efektif?
Dalam beberapa hal terkadang, tidak perlu diragukan lagi bahwa hukuman dapat menjadi efektif. Misalnya, hukuman dapat menghambat atau mencegah beberapa pelaku kriminalitas remaja untuk mengulangi kembali tindak kriminalitas yang mereka perbuat. Namun, pada penelitian laboratorium dan penelitian lapangan hukuman yang terjadi setiap hari di dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan kerja sering kali gagal untuk alasan-alasan berikut ini:
1.    Seseorang sering memberikan hukuman dengan cara yang tidak tepat atau tanpa pikir panjang. Misalnya, memarahi balita.
2.    Penerima hukuman yang keras atau berkala sering kali merespons dengan kecemasan, rasa takut, atau rasa marah. Misalnya, Seorang remaja yang dihukum dengan keras mungkin saja melarikan diri.
3.    Efektivitas penggunaan hukuman sering kali bersifat sementara, bergantung pada kehadiran orang yang memberikan hukuman ataupun situasi dan kondisinya. Misalnya perilaku masa kecil yang tidak pernah berani dimunculkan seorang anak ketika berada di sekitar orangtua, namun perilaku tersebut akan dimunculkan ketika tidak ada orangtuanya.
4.    Kebanyakan perilaku yang tidak tepat tidak dapat dihukum dengan segera.
5.    Hukuman mengandung sedikit sekali informasi. Misalnya, Memarahi seorang siswa karena lambat menangkap materi tidak akan mengajarkannya untuk belajar dengan lebih cepat.
6.    Perilaku yang ditujukan untuk menghukum malah mungkin dianggap sebagai reinforcement karena hal ini memberikan perhatian. Misalnya, Ketika di dalam ruang kelas, seorang guru yang menghina seorang anak dihadapan anak lainnya, sering kali menjadi reinforcement perilaku yang tidak sengaja.

b.      Masalah dengan Penghargaan
Reinforcement tidak selalu bekerja sesuai dengan harapan. Ada dua masalah yang akan muncul ketika orang menggunakan reinforcement, yaitu:
1.      Ketidaktepatan penggunaan penghargaan
Selama ini guru akan selalu memberikan pujian dan stiker bergambar wajah bahagia atau nilai yang tinggi sebagai harapan bahwa kinerja akademik siswa tersebut meninggkat seiring dengan upaya mereka untuk belajar ‘’merasa nyaman dengan diri sendiri’’ .namun secarah ilmiah, pendekatan ini keliru . Berbagai penelitian menemukan harga diri yang tinggi tidak meningkatkan kinerja akademik (baumeister et, al., 2003). Sebaliknya prestasi akademik membutuhkan usaha dan ketekunan (duckworth et al., 2011). Hal ini dipupuk bukan dengan penghargaan yang tidak patut, tetapi dengan apresiasi jujur seorang guru tentang kandungan karya siswa dan umpan balik spesifik yang konstruktif tentang bagaimana memperbaiki kesalahan atau memperbaiki kelemahan (damon, 1995).
2.      Penghargaan yang berdampak negatif
Penghargaan ekstrinsik terkadang dapat menurunkan kesenangan instrinsik terhadap suatu aktivitas. Contoh ketika anak paud di janjikan sebuah hadiah untuk menggambar menggunakan pena berujung runcing, perilaku tersebut meningkat secara sementara. Namun setelah mereka mendapatkan hadiahnya, mereka menghabiskan lebih sedikit bermain dengan pensil yang berujung runcing tersebut daripada saat sebelumnya.
Reinforcement ekstrinsik dapat mengurangi kadar kepuasan yang diperoleh dari suatu aktivis tertentu. Dalam hal ini, psikolog telah memikirkan interpretasi alternative dari temuan ini. Satu kemungkinan jawaban adalah ketika kita di bayar untuk melakukan sebuah aktivitas tertentu, kita melihatnya sebagai pekerjaan, tapi ketika penghargaan tersebut dihilangkan kita akan menolak untuk bekerja lebih banyak. Kesimpulan dari reinforcement ekstrinsik adalah reinforcement ekstrinsik terkadang meningkatkan kecepatan dalam merespons sampai kebatas yang melebihi batas optimal yang dapat dinikmati.Pada saat itu aktivis tersebut benar-benar menjadi sebuah pekerjaan.Jadi penghargaan ekstrinsik harus di gunakan dengan hati-hati dan tidak boleh berkebihan sehingga kesenangn instrinsik dalam suatu kegiatan dapat berkembang.


















BAB IV
PENUTUP

A.    Simpulan
Operant Conditioning diciptakan oleh Skinner dan memiliki arti umum pengkondisian perilaku. Istilah “operan” di sini berarti (operation) yang pengaruhnya mengakibatkan organisme melakukan suatu perbuatan pada lingkungannya. Penelitian conditioning operan dimulai pada awal abad ini dengan sejumlah eksperimen oleh Thorndike (1898). Ia yang dipengaruhi oleh teori evaluasi Darwin, mencoba menunjukkan bahwa proses belajar pada hewan merupakan proses yang terus-menerus, sama seperti proses belajar pada manusia.
Dalam analisis Skinner yang telah menginspirasi banyak orang untuk melakukan penelitian, sebuah respons (operant) dapat menghasilkan dua macam konsekuensi, yaitu a) Reinforcement memperkuat atau meningkatkan kemungkinan terjadinya respons di masa yang akan datang, b) Hukuman memperlemah atau mengurangi kemungkian respons tertentu muncul di masa yang akan datan.
Adapun hubungan antara a) Reinforcement serta Hukuman Primer dan Sekunder. Reinforcemet primer adalah stimulus yang berhubungan erat dengan reinforcement, umumnya memenuhi kebutuhan fisiologis. Reinforcement dan hukuman primer dapat berdampak sangat besar, tetapi mereka memiliki kelemahan dalam penggunaannya dalam kehidupan nyata maupun penelitian. Reinforcement ataupun hukuman sekunder seringkali disebut sebagai Reinforcement dan hukuman yang terkondisi b) Reinforcement dan Hukuman Positif dan Negatif. Reinforcement Positif adalah prosedur reinforcement, dimana sebuah respons diikuti dengan presentasi atau peningkatan intensitas dari stimulus reinforcement. Hukuman baik itu yang positif maupun negatif dapat menurunkan kemungkinan munculnya respons serupa di masa yang akan datang. Sedangkan reinforcement baik itu positif maupun negatif dapat meningkatkan kemungkinan munculnya respons serupa di masa yang akan datang.
Ada 5 prinsip dalam Operant Conditioning, yaitu: Pemunahan, Generalisasi Stimulus dan Diskriminasi Stimulus, Pembelajaran Berdasarkan Jadwal, Pembentukan, dan Batasan Biologis pada Pembelajaran sehingga Operant Conditioning dapat dipraktekkan dalam kehidupan nyata.Penggunaan teknik-teknik operant conditioning dalam latar belakang dunia nyata ini sering kali disebut sebagai modifikasi perilaku behavior modification atau dikenal sebagai analisis perilaku terapan.




DAFTAR PUSTAKA

Feldman, Papalia Olds. 2013. Human Development. Jakarta: Salemba Humanika.
Irwanto dkk. 2002. Psikologi Umum. Jakarta: PT Prenhallindo.
Kristianti, Lia Dewi. 2013. Teori Belajar Conditioning. Kristiantliadewi.blogspot.co.id (Diakses pada 11 Maret 2017)
Psychoshare. 2014. Apa yang dimaksud Operant Conditioning. http://www.psychoshare.com (Diakses pada 11 Maret 2017).
Sobur, Alex. 2013. Psikologi Umum dalam Lintas Sejarah. Bandung: Pustaka Setia.
Tavris, C dan Wade, C. 2007. Psikologi, Edisi ke-9. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar