KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami hanturkan
kehadirat Allah SWT karena rahmat, taufiq dan hidayahNya kepada kami sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah
ini dengan lancar. Kedua kalinya sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada
nabi Muhammad SAW yang telah mengarahkan kita kepada agama yang diridloi Allah
SWT yakni agama Islam. Namun kami yakin tanpa adanya bimbingan, dorongan,
motivasi dan do’a, makalah
tidak akan terwujud. Selain itu ucapan terima kasih kami sampaikan kepada yang
terhormat Ibu Fina Hidayati, MA selaku
dosen pembimbing mata kuliah Psikologi
umum.
Akhir kata penulis menyadari makalah ini masih banyak
kesalahan, baik dalam penulisan maupun informasi yang terkandung didalam makalah ini, oleh karena itu
kami mengharapkan kritik maupun saran yang membangun demi perbaikan dan
kesempurnaan dimasa yang akan datang. Dan semoga observasi ini bisa membawa
manfaat bagi kita khususnya bagi penulis.Amin.
Malang,
02 Maret 2017
Nur Saadah
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Manusia
murupakan mahluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk melakukan
aktifitasnya, untuk dapat melakukan aktifitas kagiatan sosial kita sebagai
masyarakat diperlukan mengenal antara individu satu dengan yang lainya,atau
individu dengan kelompok – kelompok lainya, dengan adanya interaksi sosial
kegiatan kita akan bisa terpenuhi karna adanya orang lain yang membantu.
Interaksi sosial bisa dilakukan dengan melalui kontak langsung atau melalui
komunikasi secara tidak langsung. Faktor faktor yang mempengaruhi interaksi
sosial meliputi imitasi,sugesti, identifikasi, simpati dan empati.
Proses
sosial atau interaksi sosial adalah cara – cara berhubungan yanng dilihat jika
individu dan kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk
bentuk hubungan tersebut atau apa yang terjadi apabila ada perubahan yang
menyebabkan goyahnya pola pola kehidupan yang ada. Interaksi sosial merupakan
kegiatan manusia dengan manusi bukan manusia dan benda mati,binatang dan tumbuhan.
Oleh karena itu terjadinya interaksi sosial adalah adanya kesadaran masing
masing pihak sehingga dari kesadaran tersebut menyebabkan adanya perubahan-
perubahan di antara mereka.
1.2 Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam makalah ini dijelaskan
sebagai berikut :
1. Apa definisi dari intraksi sosial?
2. Apa syarat interaksi sosial?
3. Apa saja aspek interaksi sosial?
4. Bagaimana pengaruh sosialdan daya tarik
sosial?
1.3 Tujuan
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, maka tujuan dalam makalah ini dijelaskan sebagai
berikut.
1. Memaparkan apa definisi dari intraksi
sosial
2. Memeparkan apa saja syarat interaksi
sosial
3. Memaparkan apa saja aspek interaksi
sosial
4. Memaparkan bagaimana pengaruhsosial dan
daya tarik sosial
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Intraksi Social
Interaksi sosial
merupakan hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara
orang-orang, perorangan, antara kelompok dengan kelompok manusia, maupun antara
orang perorangan dengan kelompok.[4]Interaksi
sosial juga bisa diartikan sebagai hubungan dinamis yang terjadi antarindividu,
individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok.Dalam interaksi sosial juga
terdapat simbol, dimana simbol dapat diartikan sebagai sesuatu yang nilai atau
maknanya diberikan kepadanya oleh mereka yang menggunakannya.
Beberapa pendapat
para ahli :
1. Adham Nasution : interaksi sosial adalah proses
kelompok- kelompok dan individu saling berhubungan yang merupakan bentuk bentuk
dari aksi sosial, ialah bentuk bentuk yang nampak kalau kelompok-kelompok
manusia atau orang mengadakan hubungan satu sama lain.
2. Abu Ahmadi
: dengan proses sosial kita maksudkan cara cara interaksi (aksi dan reaksi)
yang dapat kita amati apabila perubahan- prubahan menganggu cara hidup yang
telah ada.
3. Soerdjo dirdjosisworo : mengartikan
proses sosial sebagai pengaruh timbal balik antra berbagai segi kehidupan
bersama.
4. Roucek dan Warren : interaksi
adalah suatu proses melalui tindak balas tiap tiap kelompok berurut-turut
menjadi unsur penngerak bagi tindak balas dari kelompok lain.
5. Robert MZ Lawang : mengemukakan definisi perubahan
sosial yaitu proses dimana dalam suatu sistem sosial terdapat perbedaan yang
dapat di ukur yang terjadi dalam kurun waktu tertentu.
Hubungan
yang menjadikan interaksi sosial pada awalnya merupakan proses penyesuaian
nilai – nilai sosial dalam kehidupan masyrakat. Kemudian meningkat menjadi
semacam pergaulan yang tidak hanya sekedar pertemuan fisik, melainkan merupakan
pergaulan yang ditandai adanya saling mengerti tentang maksud dan tujuan masing
masing pihak dalam hubungan tersebut.[5]
2.2 Syarat
Terjadinya Interaksi
a. kontak sosial
Kata kontak dalam bahasa Inggris “contack” dari bahasa lain con atau cum yang
artinya bersama sama dan tangere yang artinya menyentuh. Jadi,
kontak berarti sama sama menyentuh. Kontak sosial merupakan hubungan
sosial yang terjadi baik secara fisik maupun non fisik.Kontak sosial yang
terjadi secara fisik yaitu bertemunya individu secara langsung, sedangkan
kontak sosial yang terjadi secara non fisik yaitu pada percakapan yang
dilakukan tanpa bertemu langsung, misalnya berhubungan melalui media elektronik
seperti telepon, radio dan lain sebagainya.[6]
1. Berdasarkan sifat-sifat sebagai berikut:
a.
Kontak
antarindividu, misalnya tindakan seseorang anak mempelajari kebiasaan -
kebiasaan dalam keluarganya.
b.
Kontak
antara kelompok dengan kelompok, misalnya pertandingan bola voli antarsiswa SMA
se-Bandung.
c.
Kontak
antara individu dengan kelompok, misalnya tindakan seorang guru yang sedang
mengajar siswanya agar mereka mempunyai persepsi yang sama tentang sebuah
masalah. Contohnya guru tari yang melatih beberapa murid, sehingga terjadi
persamaan gerak di antara mereka.[7]
2. Berdasarkan Bentuk
Dilihat dari bentuknya, kita mengenal
dua macam kontak, yaitu kontak positif dan kontak negatif.
a.
Kontak
positif mengarah pada suatu kerja sama. Misalnya seorang pedagang melayani
pelanggannya dengan baik.[8]
b. Kontak negatif mengarah pada suatu
pertentangan atau konflik, bahkan berakibat putusnya interaksi sebagaimana
tampak dalam perang Lebanon dan Israel.[9]
Contohnya,
jika pedagang sayur menawarkan sayurnya pada nyonya rumah dan diterima dengan
baik sehingga memungkinkan terjadinya proses jual-beli, maka kontak sosial
tersebut bersifat positif. Lain halnya jika nyonya rumah hanya menggerutu
sewaktu ditawarkan yang kemungkinan besar tidak akan terjadi jual beli, maka
kontak tersebut bersifat negatif karena dapat menyebabkan tidak berlangsungnya
suatu interaksi sosial.[10]
3. Berdasarkan Sifat Hubungan
[11]Kontak
sosial dapat bersifat primer dan bersifat skunder.
a. Kontak sosial primer terjadi apabila
peserta interaksi bertemu muka secara langsung.
Misalnya, kontak antara guru
dengan murid. orang yang saling berjabat tangan, saling melempar senyum, dan
sebagainya.
b. Kontak skunder terjadi apabila interaksi
berlangsung melalui perantara, misal
percakapan melalui telepon, HP, dan sebagainya. Kontak sekunder memerlukan suatu
perantara atau media, bisa berupa orang atau alat.Selain itu juga dapat
dilakukan secara langsung dan tidak langsung.Kontak sekunder langsung misalnya
berbicara melalui telepon.
Contoh sekunder tidak langsung dapat
Anda pahami dari cerita berikut ini:
"Toni
berkata kepada Sigit bahwa Ani mengagumi permainannya sebagai pemegang peran
utama dalam pementasan sandiwara yang lalu.Ani mendapat ucapan terima kasih
dari Sigit atas pujiannya melalui Toni."
Dari cerita tersebut dapat diketahui bahwa walaupun Toni sama sekali
tidak bertemu dengan Ani, tetapi di antara mereka telah terjadi suatu kontak
karena masing - masing memberi tanggapan. Contoh yang hampir sama yaitu Bento
menyampaikan salamnya kepada Tina melalui Heni, Seseorang yang mengirimkan uang
kepada saudaranya melalui jasa Kantor Pos
2. Komunikasi
Syarat terjadinya interaksi sosial yang
kedua adalah adanya komunikasi Komunikasi adalah suatu proses penyampaian
informasi dari satu pihak ke pihak lain dalam rangka mencapai tujuan
bersama. Komunikasi adalah memberikan
tafsiran pada perilaku orang lain (yang berwujud pembicaraan, gerak-gerak tubuh
maupun sikap), perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang
tersebut. Individu yang bersangkutan kemudian memberikan reaksi terhadap
perasaan yang ingin disampaikan oleh individu lain tersebut. Jadi komunikasi
merupakan suatu proses dimana satu sama lainnya saling mengerti maksud atau
perasaan masing-masing, tanpa mengerti maksud atau perasaan satu sama
lainnya dapat dikatakan sebagai
komunikasi.[12]
Dalam interaksi sosial, suatu kontak
sosial dapat terjadi tanpa komunikasi. Misalnya pada orang Indonesia bertemu
dan berjabat tangan dengan orang Argentina, lalu dia bercakap-cakap dalam
bahasa Indonesia dengan orang Argentina tersebut padahal yang terjadi orang
Argentina tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Indonesia. Dalam hal ini
kontak sosial sebagai syarat terjadinya interaksi sosial yang utama telah
terjadi, namun komunikasi sebagai syarat terjadinya interaksi sosial yang kedua
tidak terjadi karena kedua orang itu tidak mengerti perasaan masing-masing.Apabila
dihubungkan dengan interaksi sosial, maka dapat dikatakan bahwa kontak sosial
tanpa komunikasi tidak mempunyai arti apapun.Dari kedua syarat terjadinya
interaksi sosial di atas, dapat disimpulkan bahwa terjadinya interaksi sosial
harus adanya kontak sosial dan komunikasi.Jika salah satu syarat tidak
dipenuhi, maka tidak dapat dikatakan sebagai interaksi sosial. Adanya kontak
sosial yang terjadi tanpa adanya saling mengerti maksud atau perasaan
masing-masing, maka bukan merupakan proses interaksi sosial.[13]
1. Encoding.
Pada tahap ini,gagasan atau program yang
akan dikomunikasikan diwujudkan dalam kalimat atau gambar. Pada tahap ini, komunikator harus memilih kata atau istilah, kalimat,
dan gambar yang mudah dipahami oleh komunikan. Komunikator harus menghindari penggunaan
kode-kode yang membingungkan komunikan.
2. Penyampaian
Pada tahap ini, istilah atau gagasan yang telah diwujudkan
dalam bentuk kalimat dan gambar disampaikan.
Penyampaian dapat berupa lisan dan dapat pula berupa tulisan atau
gabungan dari keduanya.
3. Decoding
Pada tahap ini, dilakukan proses mencerna dan memahami
kalimat serta gambar yang diterima menurut pengalaman yang dimiliki.
2.3 Faktor Interaksi Sosial
a. Imitasi
Imitasi adalah
tindakan sosial meniru sikap, tindakan, tingkah laku, atau penampilan fisik
seseorang secara berlebihan. sebagai suatu proses, adakalanya imitasi berdampak
positif apabila yang ditiru tersebut individu-individu yang baik menurut
pandangan umum masyarakat. Akan tetapi, imitasi bisa juga berdampak negatif
apabila sosok individu yang ditiru berlawanan dengan pandangan umum
masyarakat.contoh : seorang siswa meniru penampilan artis terkenal, seperti
rambut gondrong, memakai anting, dan kalung secara berlebihan. Tindakan seperti
itu akan mengundang reaksi dari lingkungan sosial yang menilai penampilan itu
sebagai urakan atau tidak sopan.
b.
Sugesti
Sugesti ini
berlangsung apabila seseorang memberikan pandangan atau sikap yang
dianutnya, lalu diterima oleh orang
lain. Biasanya sugesti muncul ketika si penerima sedang dalam kondisi yang
tidak netral, sehingga tidak dapat
berpikir rasional. Biasanya sugesti
berasal dari orang orang sebagai berikut:
orang
yang berwibawa, karismatik, dan punya pengaruh terhadap yang disugesti,
misalnya orang tua, dan
ulama/rohaniwan.orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi daripada yang
disugesti.Kelompok mayoritas terhadap minoritas.Reklame atau iklan media
massa.
Cepat
atau lambatnya proses sugesti ini sangat tergantung pada usia, kepribadian,
kemampuan intelektual, dan keadaan fisik seseorang. sebagai contoh Pimpinan
partai politik melakukan kampanye di hadapan pendukungnya agar memilih partai
politiknya.[16]Tindakan
itu dilakukan untuk meyakinkan dan memengaruhi orang banyak agar mengikuti
partainya.
c.
Identifikasi
Identifikasi yaitu
kecenderungan atau keinginan seseorang untuk menjadi sama dengan pihak
lain(meniru secara keseluruhan) Orang
lain yang menjadi sasaran identifikasi dinamakan idola ( kata idol berarti
sosok yang dipuja). Identifikasi merupakan bentuk lebih lanjut dari proses
imitasi dan proses sugesti yang pengaruhnya amat kuat. Misalnya, seorang remaja
mengidentifikasikan dirinya dengan seorang penyanyi terkenal yang ia kagumi.
Lalu, ia akan berusaha mengubah penampilan dirinya agar sama dengan penyanyi
idolanya, mulai dari model rambut, pakaian, gaya bicara, bahkan sampai makanan
kesukaan. Pada umumnya, proses identifikasi berlangsung secara kurang disadari
oleh seseorang. Namun, yang pasti sang idola yang menjadi sasaran identifikasi
benar-benar dikenal, entah langsung (bertemu, berbicara) ataupun tidak langsung
(melalui media informasi).
d.
Simpati
Simpati yaitu
suatu proses seseorang merasa tertarik kepada pihak lain. Rasa tertarik ini didasari atau
didorong oleh keinginan-keinginan untuk memahami pihak lain untuk memahami
perasaannya ataupun bekerja sama dengannya. Dibandingkan ketiga faktor
interaksi sosial sebelumnya, simpati terjadi melalui proses yang relatif
lambat.Namun, pengaruh simpati lebih mendalam dan tahan lama. Agar simpati
dapat berlangsung, diperlukan adanya saling pengertian antara kedua belah
pihak.Pihak yang satu terbuka mengungkapkan pikiran ataupun isi hatinya. Sedangkan
pihak yang lain mau menerimanya. Itulah sebabnya, simpati menjadi dasar
hubungan persahabatan. Melalui proses simpati, orang merasa seolah-olah dirinya berada dalam
keadaan orang lain.
e.
Empati
Empati yaitu
merupakan simpati yang mendalam yang dapat memengaruhi kejiwaan dan fisik
seseorang. Dimana proses kejiwaan
seorang individu untuk larut dalam perasaan orang lain. Baik suka maupun
duka.Contohnya, kalau kita melihat orang mendapat musibah sampai luka berat,
seolah-olah kita ikut menderita.kita tidak hanya merasa kasihan terhadap orang
yang terkena musibah itu tetapi juga ikut merasakan penderitaannya. Demikian
juga, kalau seorang teman dekat kita ada yang meninggal dunia, kita merasa
kehilangan seolah-olah saudara kita sendiri yang meninggal dunia[17]
2.4 Aspek Interaksi Sosial
Beberapa asepek iteraksi yang
dikemukakan oleh :
1.
Santoso(1992)
a.
Adanya hubungan Setiap interaksi sudah
tentu terjaadi ketika adanya hubungan baik antara individu dengan individu maupun
individu dalam hubungan kelompok.
b.
Adanya individu setiap interaksi sosial
menuntut tampilnya individu-individu yang melaksanakan suatu hubungan.
c.
Ada tujuan Setiap interaksi sosial
meniiliki tujuan tertentu seperti mempengaruhi individu lain.
d.
Ada hubungan dengan struktur dan fungsi
kelompok Interaksi sosial yang ada hubungan dengan struktur dan fungsi kelompok
ini terjadi karena individu dalam hidupnya tidak terpisah dari kelompok,
disamping itu tiap tiap individu memiliki fungsi didalam kelompoknya
2. G C. Homans(dalam Santoso, 1992)
a.
Adanya motif tujuan yang sama mempunyai
motif Artinya setiap individu yang mengadakan interaksi tujuan tetentu.
b.
Adanya suasana emosional yang sama
Artinya bahwa setiap individu didorong oleh perasaan masing-masing yang sama
dalam interaksi sosial.
c.
Adanya interaksi Artinya setiap individu
dalam keadaan demikian pasti berhubungan dengan individu lain yang disebut
dengan interaksi. Dipandang dari segi
individu, maka interaksi itu disebut
dengan aksi.
d.
Adanya pimpinan Artinya bahwa adanya
interaksi, aksi dan sentimen ini
menimbulkan suatu bentuk pimpinan dan umumnya berlangsung secara wajar serta
merupakan bentuk piramida.
e.
Adanya eksternal sistem Artinya bahwa
dengan adanya interaksi dan sentimen maka mereka tidak dapat melepaskan diri
dari pengaruh luar dan pengaruh dari luar ini disebut dengan eksternal sistem.
f.
Adanya internal sistem Artinya untuk
menanggulangi pengaruh dari luar, maka
masing-masing individu yang berinteraksi sosial semakin memperkuat dirinya
masing- masing seperti menciptakan
kesamaan pandangan, kesadaran, perbuatan yang ini semua menimbulkan internal
sistem. Sesuai dengan semua aspek-aspek
yang telah disebutkan diatas, baik dari
Santoso maupun Homans, sebuah interaksi
sosial harus dapat memenuhi semua aspek diatas agar proses interaksi sosial
dapat berjalan dengan baik.
2.5 Bentuk-bentuk Pengaruh Sosial
1.
Konformitas
Tidaklah mengherankan jika
kita hanya sekedar mengikuti pikiran dan tindakan teman – teman kita atau orang
– orang yang kita kenal. Dari berbagai hubungan yang dimiliki, kita mendapat
berbagai manfaat, termasuk standar atau norma untuk dapat menyesuaikan diri.
Penelitian klasik telah menguji dampak dari kehidupan orang lain, baik orang
asing ataupun teman, berdasarkan dua proses, yaitu pembentukan norma (norm
formation) dan tekanan kelompok (group pressure).
Berikut marilah kita simak dua proses tersebut dan berkaitan
dengan konformitas adalah faktor – faktor situasi yang mempengaruhi konformitas
dan perbedaan individual yang mempengaruhi kelompok.
2.
Kepatuhan
Setelah PD II banyak orang Amerika merasa yakin bahwa apa yang
terjadi di Jerman pada masa Nazi, tidak mungkin terjadi di Amerika karena orang
Jerman lebih patuh (dibandingkan orang Amerika pada umumnya) pada pemimpi
mereka walaupun pemimpin itu seorang diktator keras seperti Adolf Hitler.
Apakah ini benar? Psikolog sosial di Universitas Yale, Stanley Milgram membuat
suatu eksperimen yang kontroversial untuk menemukan dasar dari kepatuhan
(obedience) sejauh individu akan mematuhi perintah seseorang yang tidak
dikenal, tetapi memunyai wewenang. Kesimpulan penting dari penelitian Milgram
adalah bahwa situasi sosial dapat sangat berkuasa (berpengaruh).Dalam hal ini
terdapat konsep Experimental realism, yakni realitas terhadap pengalaman yang
dapat mempengaruhi kepatuhan, dimana individu menafsirkan situasi yang sangat
kuat, membuat kebanyakan individu sulit untuk melawan.
3.
Kekuasaan Sosial
Studi mengenai konformitas
dan kepatuhan ini tidak hanya berbeda dalam susunannya, tetapi juga sifat
kekuasaan atau power, yaitu tekanan untuk menyesuaikan diri yang timbul dari
power sebuah kelompok sosial, sementara tekanan untuk patuh datang dari power
seseorang yang berwenang.Power didefinisikan sebagai kekuatan dari pemberi
pengaruh yang menyebabkan perubahan sikap dan perilaku seseorang.[19]
Daya Tarik Sosial.
Dalam
berinteraksimanusia dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungannya. Penyesuaian ini mengakibatkan manusia lebih banyak mengubah diri
dibanding mengubah lingkungan. Dalam hal ini hubungan manusia dengan lingkungan
sosialnya yang ditandai dengan penerimaan diri terhadap oranglain dimana
Penerimaantersebutdiindikatorkansebagaidayatarikseseorangdalamberinteraksidilingkungansosial.Faktor
awal dalam proses ketertarikan adalah kita menjadi kenal dengan orang-orang
yang mengalami kontak dengan kita, respons awal kita (terhadap penampilan
misalnya) yang seringkali merupakan akibat dan resaksi emosional kita,
kemiripan itu penting dan interaksi yang menyenangkan sangatlah penting. Kita
dapat melakukan analisa terhadap fenomena ini dan dua hal yaitu perbandingan
sosial (social comparison) dan dukungan emosional (emotional support).
Berdasarkan analisa perbandingan sosial kita membutuhkan orang lain sebagai
standar untuk mengevaluasi perilaku kita, sedangkan hubungan dengan orang lain
akan memberikan dukungan emosional dalam bentuk perhatian dan kasih sayang.
Selain dua tipe
ganjaran (social reward) yang utama yang dapat diberikan orang lain terhadap
diri kita, hubungan dengan orang lain dapat memberikan tambahan ganjaran
lainnya yaitu dapat memberikan perasaan positif yang dihubungkan dengan
kedekatan (keintiman) hubungan antar pribadi, persahabatan, afeksi, komunikasi
dan cinta.
Kedua, orang lain
dapat memberikan berbagai tipe perhatian kepada kita dalam bentuk penghargaan,
pengakuan, status dan sebagainya.
Sementara itu dan
pendapat Henry Murray dan David McClelland serta McAdam (dalam Dayakisni,
2006:157) terdapat dua motif sosial yang mendorong seseorang untuk melakukan
hubungan dengan orang lain yaitu:
a. Need ofAffiliation
(kebutuhan untuk berafiliasi) adalah keinginan untuk membentuk dan
mempertahankan beberapa hubungan interpersonal yang memberi ganjaran.
b. Need of Intimacy
(kebutuhan untuk berhubungan intim) yaitu memilih hubungan yang hangat, dekat
dan komunikatif.
Dari pendapat HenryMurray dan David
McClelland dapat kita simpulkan bahwa daya tarik sosial akan muncul karena
adanya keinginan seseorang untuk memperoleh kebutuhanstimulasi positif (need
for positive stimulation), kebutuhan akan perhatian (need for attention),
kebutuhan akan dukungan sosial (need for social support) dan kebutuhan akan
perbandingan sosial (need for social comparison) (Baron & Byrne, 2004:
277-278).
Kebutuhan afiliasi
yang tinggi mendorong perilaku sosial yang aktif dan terkendali (controlling
social behaviour) dengan penekanan pada keleluasaan dan kuantitas hubungan
sosial.
dalam berkomunikasi
hal utama yangmemunculkan daya tarik seseorang untukberinteraksi dengan orang
lainadalah melihat kondisi fisik orang lain atau dalam artian daya tarik
interpersonal seseorang.
Brehn dan Kassin
(1993) menyatakan bahwa istilah daya tank interpersonal digunakan untuk merujuk
secara khusus keinginan seseorang untuk mendekati orang lain (dalam
Dayakisni,2006:158).
daya tarik
interpersonal ini sangat penting karena mempengaruhi reaksi pada tahap awal
pertemuan hubungan dengan orang lain. Pada dasarnya faktor-faktor yang
mendukung daya tarik inter-personal dapat dibedakan dalam konteks personal dan
situasional. Faktor personal adalah faktor-faktor yang berasal dan
karakteristik pribadi kita. Misalnya sesuatu yang menyebabkan individu tertarik
pada saat tertentu dengan orang lain adalah karena pada saat itu suasana hati
(mood) yang bersangkutan sedang kesepian. Sedangkan faktor sisituasional adalah
berasal dari sifat-sifat obyektif (karakteristik) persona stimuli. Misalnya
yang menyebabkan individu satu tertarik kepada individu yang lain adalah karena
yang bersangkutan berwajah tampan atau cantik.
Pada umumnya beberapa
faktor yang dianggap sangat penting dalam menentukan daya tarik interpersonal
adalah:
a. Kesamaan
(similarity)
Kita cenderung
menyukai orang yang sama dengan kita dalam sikap, minat, nilai, latar belakanga
dan kepribadian. Karena Menurut acuan teori Konsistensi Kognitif dan Heider,
jika kita menyukai orang lain kita ingin mereka memilih sikap yang sama dengan
kita. Hal ini supaya seluruh unsur kognitif kita konsisten. Kita menjadi tidak
nyaman ketika orang yang kita sukai atau orang terdekat kita ternyata menyukai
apa yang kita benci atau tidak sukai.Selain itu, Persepsi tentang adanya
kesamaan mendatangkan ganjaran dan perbedaan menimbulkan hal yang tidak
mengenakkan. Kesamaan sikap orang lain dengan kita meneguhkan kemampuan kita
dalam menafsirkan realitas social. Orang yang mempunyai kesamaan dengan kita
cenderung menyetujui gagasan kita dan mendukung keyakinan kita tentang
kebenaran pandangan kita.Pengetahuan bahwa orang lain adalah sama dengan kita,
menyebabkan kita mengantisipasi bahwa interaksi di masa datang akan positif dan
memberi ganjaran. Kita cenderung berinteraksi lebih akrab dengan orang yang
memiliki kesamaan dengan kita dan merekapun juga menjadi lebih kenal dengan
kita.
b. Kedekatan
(proximity)
Pada penelitian
mengenai ketertarikan, orang cenderung menyukai mereka yang tempat tinggalnya
berdekatan. Persahabatan lebih mudah timbul diantara tetangga yang berdekatan.
Atau diantara mahasiswa yang berdekatan. Semakin dekat jarak fisik, semakin
besar kemungkinan bahwa dua orang mengalami kontak secara berulang atau
mengalami repeated exposure. Repeated exposure adalah kontak yang terus menerus
dengan sebuah stimulus, dimana paparan berulang terhadap stimulus akan
berakibat pada evaluasi terhadap stimulus tersebut.
Dimana orang yang
dekat secara fisik lebih mudah dijangkau daripada orang yang berada di tempat
yang jauh. Kemudahan ini mempengaruhi keseimbangan ganjaran dan kerugian
interaksi. Hal ini sesuai dengan persepsi teori pertukaran sosial. Diperlukan
sedikit usaha untuk mengobrol dengan tetangga sebelah. Sebaliknya hubungan
jarak jauh membutuhkan waktu, perencanaan dan biaya yang relatif tinggi.
• Berdasarkan teori
konsistensi kognitif kita berusaha mempertahankan keseimbangan antara hubungan
perasaan dan hubungan kesatuan kita. Secara lebih spesifik, kita dimotivasi
untuk menyukai orang yang ada kaitannya dengan kita dan untuk mencari kedekatan
dengan orang yang kita sukai. Tinggal atau bekerja berdampingan dengan orang
lain yang tidak kita sukai akan menimbulkan tekanan psikologis, sehingga kita
akan mengalami tekanan kognitif untuk menyukai orang yang ada hubungannya
dengan kita.
C. Tekanan Emosional
(stress)
Bila individu berada
dalam situasi yang mencemaskan atau menakutkan ia cenderung menginginkan
kehadiran orang lain. Dan hal ini lama kelamaan akan menimbulkan rasa suka
kepada orang yang menemaninya tersebut. Hasil penelitian Schahter (dalam
Dayakisni, 2006:164) menunjukkan bahwa subyek dengan rasa takut tinggi lebih
ingin berafiliasi dibandingkan subyek dengan rasa takut rendah. Semakin besar
rasa takut maka semakin besar pula keinginan untuk berafiliasi dengan orang
lain.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Interaksi sosial adalah hubungan
antara individu satu dengan individu yang lain, individu satu dapat
mempengaruhi individu yang lain atau sebaliknya. jadi terdapat adanya hubungan
yang saling timbal balik. Hubungan tersebut dapat antara individu dengan
individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok.
Faktor yang mendasari terjadinya
interaksi sosial meliputi Imitasi, Sugesti, Identifikasi, Motivasi, Simpati dan
Empati.Interaksi sosial mensyaratkan adanya kontak sosial dan komunikasi
sosial. Kemudian membuat terjadinya proses sosial. Proses sosial dapat bersifat
asosiatif dan disasosiatif Asosiatif meliputi akomodasi, difusi, asimilasi,
akulturasi, kooperasi (kerjasama) (Intinya interaksi sosial yang baik-baik,
kerjasama, rukun, harmonis, serasa dll). Disasosiatif meliputi konflik,
kontravensi dan kompetensi. Orang lain akan tertarik untuk melakukan interaksi
sosial karena beberapa keinginan manusia untuk untukmengevaluasiperilakukita,sedangkanhubungandenganoranglainakanmemberikandukunganemosionaldalambentukperhatiandankasihsayang.
Selainduatipeganjaran(socialreward)yangutamayangdapatdiberikanoranglainterhadapdirikita,hubungandenganoranglaindapatmemberikantambahanganjaranlainnyayaitudapatmemberikanperasaanpositifyangdihubungkandengankedekatan(keintiman)hubunganantarpribadi,persahabatan,afeksi,komunikasidancinta.
Kedua,oranglaindapatmemberikanberbagaitipeperhatiankepadakitadalambentukpenghargaan,pengakuan,statusdansebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Punjabi, Enha. (2015).Shoshum
SMA.Solo.Genta Smart,Hlm 307-308
Kuswanto Dan Bambang Siswanto. (2003).
Sosiologi.Solo: Tiga Serangkai, Hlm 90
Hasyim,
Anang..(2001)..Sosiologi
Suatu Pengantar.Jakarta.PT
Raja Grafindo Persada.
Abdulsyani,Sistematika Teori Terapan,
Hlm 151
Effendi, Ridwan Dan Elly Malihah (2007).Pendidikan Lingkungan
Sosial Budaya Dan Tehnologi.Bandung.Yasindo Multi Aspek
Kuswanto Dan Bambang Siswanto.(2003).Sosiologi.Solo Tiga Serangkai
Pengetian
pengaruh sosial dan macam macamnya diakses dari http://rraditya43.blogspot.co.id/2013/01/pengaruh-sosial.html pada tanggal 26 february 2017 jam
10.45
[4] Gillin dan gillin cultural cultural sociology, hlm. 489.
[5]Abdulsyani,sistematika teori terapan, hlm 151
[6] Punjabi, enha. 2015. Shoshum
SMA. Solo : Genta Smart, hlm 303
[7]Sosiologi Suatu Pengantar.
Penerbit PT Raja Grafindo Persada : Jakarta.
[8] Punjabi, enha. 2015. Shoshum
SMA. Solo : Genta Smart, hlm 303
[9] Ibid, 303
[10]Kuswanto dan Bambang Siswanto. (2003). Sosiologi. Solo: Tiga
Serangkai, hlm 89
[11]Punjabi, enha. 2015. Shoshum
SMA. Solo : Genta Smart,hlm 303
[12] Ibid, hlm 305
[13]Kuswanto dan Bambang Siswanto. (2003). Sosiologi. Solo: Tiga
Serangkai, hlm 90
[14] Ibid, 306
[15] Punjabi, enha. 2015. Shoshum
SMA. Solo : Genta Smart,hlm 307
[16] Ibid, hlm 307
[17] Punjabi, enha. 2015. Shoshum
SMA. Solo : Genta Smart,hlm 307-308
[19]Pengetian pengaruh sosial dan macam macamnya diakses dari http://rraditya43.blogspot.co.id/2013/01/pengaruh-sosial.html pada tanggal 26 february 2017 jam 10.45
Tidak ada komentar:
Posting Komentar