PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Stres adalah gangguan mental yang dihadapi seseorang akibat adanya tekanan. Tekanan ini muncul dari kegagalan individu dalam memenuhi kebutuhan atau keinginannya. Tekanan ini bisa berasal dari dalam diri, atau dari luar. Stres tidak selalu buruk, walaupun biasanya dibahas dalam konteks negatif, karena stres memiliki nilai positif ketika menjadi peluang saat menawarkan potensi hasil. Sebagai contoh, banyak profesional memandang tekanan berupa beban kerja yang berat dan tenggat waktu yang mepet sebagai tantangan positif yang menaikkan mutu pekerjaan mereka dan kepuasan yang mereka dapatkan dari pekerjaan mereka. Stres bisa positif dan bisa negatif. Para peneliti berpendapat bahwa stres tantangan, atau stres yang menyertai tantangan di lingkungan kerja, beroperasi sangat berbeda dari stres hambatan, atau stres yang menghalangi dalam mencapai tujuan.Meskipun riset mengenai stres tantangan dan stres hambatan baru tahap permulaan, bukti awal menunjukan bahwa stres tantangan memiliki banyak implikasi yang lebih sedikit negatifnya dibanding stres hambatan.Sedangkan emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu.Emosi adalah reaksi terhadap seseorang atau kejadian.[2] Emosi dapat ditunjukkan ketika merasa senang mengenai sesuatu, marah kepada seseorang, ataupun takut terhadap sesuatu.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana fisiologi stres?
2. Bagaimana fisiologi emosi ?
3. Bagaimana gangguan-gangguan terkait stres?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui fisiologi stres
2. Mengetahui fisiologi emosi
3. Mengentahui gangguan-gangguan terkait stres
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Fisiologi Stres
Definisi Stres
Stres adalah suatu reaksi tubuh yang dipaksa, di mana ia boleh menganggu equilibrium (homeostasis) fisiologi normal (Julie K., 2005). Stres adalah reaksi/respons tubuh terhadap stresor psikososial (tekanan mental/beban kehidupan). Stres dewasa ini digunakan secara bergantian untuk menjelaskan berbagai stimulus dengan intensitas berlebihan yang tidak disukai berupa respons fisiologis, perilaku, dan subjektif terhadap stres; konteks yang menjembatani pertemuan antara individu dengan stimulus yang membuat stres; semua sebagai suatu sistem (WHO, 2003).
Menurut Morgan dan King, “…as an internal state which can be caused by physical demands on the body (disease conditions, exercise, extremes of temperature, and the like) or by environmental and social situations which are evaluated as potentially harmful, uncontrollable, or exceeding our resources for coping”(Morgan & King, 1986). Jadi stres adalah suatu keadaan yang bersifat internal, yang bisa disebabkan oleh tuntutan fisik (badan), atau lingkungan, dan situasi sosial, yang berpotensi merusak dan tidak terkontrol.
Kajian mengenai stres
Konsep milieu interieur (lingkungan internal tubuh), yang pertama kali diajukan oleh Fisiologis Perancis, Claude Bernard. Dalam konsep ini, ia menggambarkan prinsip-prinsip keseimbangan dinamis. Dalam keseimbangan dinamis, kekonstanan, kondisi mapan (situasi) di lingkungan badan internal, sangat penting untuk bertahan hidup. Oleh karena itu, perubahan dalam lingkungan eksternal atau kekuatan eksternal yang mengubah keseimbangan internal harus bereaksi dan mengkompensasi supaya organisme dapat bertahan hidup. Contoh kekuatan eksternal adalah seperti suhu, konsentrasi oksigen di udara, pengeluaran energi, dan keberadaan predator. Selain itu, penyakit juga stres yang mengancam keseimbangan lingkungan internal tubuh.
Ahli saraf Walter Cannon menciptakan istilah homeostasis untuk lebih menentukan keseimbangan dinamis yang telah dijelaskan Bernard. Dia juga adalah yang pertama untuk memperkenalkan bahwa stresors dapat berupa emosional maupun fisik. Melalui eksperimen, dia menunjukkan respons "fight or flight" yang timbul pada manusia dan binatang ketika terancam. Selanjutnya, Cannon juga mengatakan bahawa reaksi ini juga disebabkan oleh pelepasan neurotransmitters (neurotransmiter adalah bahan kimia dalam tubuh yang membawa pesan ke dan dari saraf) dari kelenjar adrenal, medula. Medula adrenal mengeluarkan dua jenis neurotransmiter, yaitu epinefrin atau disebut sebagai adrenalin dan norepinefrin (noradrenalin), dalam respon terhadap stres. Pelepasan neurotransmiter menyebabkan efek fisiologis terlihat pada respon "fight or flight", misalnya, denyut jantung yang cepat, peningkatan kewaspadaan, dan lain-lain.
Seterusnya, Hans Selye, seorang ilmuwan awal yang mempelajari stres, melanjut pengamatan Cannon. Beliau mengatakan bahawa selain daripada respons tubuh, semasa stres kelenjar pituitary juga memainkan peranan. Dia menggambarkan kontrol oleh kelenjar sekresi hormon (misalnya, kortisol) yang penting dalam respon fisiologis terhadap stres dengan bagian lain dari kelenjar adrenal yang dikenal sebagai korteks. Selain itu, Selye sebenarnya memperkenalkan istilah tegangan dari fisika dan rekayasa dan didefinisikan sebagai "respons bersama yang terjadi di setiap bagian tubuh, fisik atau psikologis.
Reaksi Fisiologi Stres
Hubungan yang tercipta di antara emosi dan stres bersifat fisiologis dan psikologis. Emosi negatif kronis dapat sangat menekan dan stres kronis dapat menciptakan emosi negatif.
Hans Selye (1956) menggambarkan respon tubuh terhadap segala jenis stresor sebagai sindrom adaptasi umum (general adaptation syndrome), yaitu serangkaian reaksi fisiologis yang terjadi di dalam tiga fase: (Carole dkk, 2014, 76-77).
1. Fase peringatan (the alarm phase), fase saat tubuh menggerakkan sistem saraf simpatik untuk menghadapi ancaman langsung. Seperti melarikan diri dari kejaran anjing. Pelepasan hormon adrenal, epinefrin dan norepinefrin, terjadi ketika suatu emosi yang intens muncul. Hormon-hormon ini menghasilkan lonkakan energi, ketegangan otot-otot, mengurangi sensivitas terhadap rasa sakit, menghentikan kerja sistem pencernaan (sehingga darah dapat mengalir dengan lebih efisien ke otak, otot, dan kulit), dan meningkatkan tekanan darah.
2. Fase penolakan (the resistance phase), fase saat tubuh berusaha menolak atau mengatasi stresor yang tidak dapat dihindari. Selama fase ini, respon fisiologis yang terjadi pada fase peringatan terus berlangsung, tetapi respon-respon tersebut membuat tubuh menjadi lebih rentan terhadap stresor-stresor lain. Seperti ketika tubuh seseorang berusaha mengatasi rasa sakit karena kaki yang patah, ia akan menyadari bahwa ia lebih mudah merasa terganggu oleh frustasi kecil. Akan tetapi dalam sebagian besar kasus, tubuh pada akhirnya akan beradaptasi terhadap stresor dan kembali ke kondisi normal.
3. Fase kelelahan (the exhaustion phase), fase saat stres berkelanjutan yang menguras energi tubuh sehingga meningkatkan kerentanan terhadap masalah fisik dan penyakit. Reaksi yang sama, memungkinkan tubuh merespon tantangan secara efektif pada fase peringatan dan penolakan akan merugikan apabila berlangsung dalam jangka panjang. Otot-otot yang tegang dapat mengakibatkan sakit kepala dan sakit leher. Peningkatan tekanan darah dapat mengakibatkan tekanan darah tinggi kronis. Jika proses pencernaan yang normal terganggu atau terhenti untuk waktu yang lama, akan muncul gangguan pencernaan.
Penelitian modern telah dilakukan untuk mendukung pendapat Selye. Saat seseorang sedang stres, hipotalamus di otak mengirimkan pesan pada kelenjar endoktrin dalam dua jalur utama. Jalur pertama mengaktifkan bagian sipatik pada sistem saraf otonom untuk menghasilkan respon untuk “berjuang atau melarikan diri”, menyekresikan epinefrin dan norepinefrin dari bagian dalam (medula) kelenjar adrenal. Selain itu hipotalamus memicu aktivitas di sepanjang aksis HPA (HPA axis). HPA adalah singkatan dari hipotalamus-pituitari-korteks adrenal. Aksis HPA merupak sebuah sistem yang diaktivasi untuk memberikan energi kepada tubuh untuk merespons stresor. Hipotalamus melepaskan pengantar pesan kimiawi yang berkomunikasi dengan kelenjar pituitari, selanjutnya akan mengirimkan pesan ke bagian luar (korteks) kelenjar adrenal. Korteks adrenal meyekresikan kortisol (cortisol) dan hormon-hormon lain yang meningkatkan kadar gula darah dan melindungi jaringan tubuh dari peradangan jika terjadi luka. Kortisol adalah suatu hormon yang disekresikan oleh korteks adrenal yang meningkatkan kadar gula darah dan melindungi jaringan tubuh jika terjadi cedera, jika terjadi peningkatan secara kronis karena stres, dapat berujung kepada hipertensi, gangguan imun, penyakit lainnya, dan mungkin depresi.
Dalam eksperimennya, Selye menginduksi stres pada tikus dalam berbagai cara. Pada tikus yang terkena tegangan konstan, berlakunya pembesaran kelenjar adrenal, ulkus gastrointestinal dan atrofi sistem imun. Beliau menerangkan ini sebagai suatu proses adaptasi umum (penyesuaian) atau sindrom stres. Ia menemukan bahwa proses ini adaptif, penyesuaian yang sesuai dan normal untuk organisme dalam menangkal stres. Proses adaptif yang berlebihan, dapat merusak tubuh. Overstres, bisa berbahaya.
Jenis-jenis stres
Quick dan Quick (1984) dan Hans Selye dalam Girdano (2005) mengatakan bahwa terdapat dua jenis stres, yaitu eustres dan distres. Eustres, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif, dan konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk kesejahteraan individu dan juga organisasi yang diasosiasikan dengan pertumbuhan, fleksibilitas, kemampuan adaptasi, dan tingkat performance yang tinggi. Ini adalah semua bentuk stres yang mendorong tubuh untuk beradaptasi dan meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi. Ketika tubuh mampu menggunakan stres yang dialami untuk membantu melewati sebuah hambatan dan meningkatkan performa, stres tersebut bersifat positif, sehat, dan menantang.
Di sisi lain, distres, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif, dan destruktif (bersifat merusak). Hal tersebut termasuk konsekuensi individu terhadap penyakit sistemik dan tingkat ketidakhadiran (absenteeism) yang tinggi, yang diasosiasikan dengan keadaan sakit, penurunan, dan kematian. Distres adalah semua bentuk stres yang melebihi kemampuan untuk mengatasinya, membebani tubuh, dan menyebabkan masalah fisik atau psikologis. Ketika seseorang mengalami distres, orang tersebut akan cenderung bereaksi secara berlebihan, bingung, dan tidak dapat berperforma secara maksimal.
Mekanisme stres
Empat variabel psikologi yang mempengaruhi mekanisme respons stres:
1) Kontrol: keyakinan bahwa seseorang memiliki kontrol terhadap stresor yang mengurangi intensitas respons stres.
2) Prediktabilitas: stresor yang dapat diprediksi menimbulkan respons stres yang tidak begitu berat dibandingkan stresor yang tidak dapat diprediksi.
3) Persepsi: pandangan individu tentang dunia dan persepsi stresor saat ini dapat meningkatkan atau menurunkan intensitas respons stres.
4) Respons koping: ketersediaan dan efektivitas mekanisme mengikat ansietas dapat menambah atau mengurangi respons stres.
Secara fisiologi, situasi stres mengaktivasi hipotalamus yang selanjutnya mengendalikan dua sistem neuroendokrin, yaitu sistem saraf simpatik dan sistem korteks adrenal. Sistem saraf simpatik berespons terhadap impuls saraf dari hipotalamus yaitu dengan mengaktivasi berbagai organ dan otot polos yang berada di bawah pengendaliannya, sebagai contohnya, ia meningkatkan kecepatan denyut jantung dan mendilatasi pupil. Sistem saraf simpatis juga memberi sinyal ke medula adrenal untuk melepaskan epinefrin dan norepinefrin ke aliran darah. Sistem korteks adrenal diaktivasi jika hipotalamus mensekresikan CRF, suatu zat kimia yang bekerja pada kelenjar hipofisis yang terletak tepat di bawah hipotalamus. Kelenjar hipofisis selanjutnya mensekresikan hormon ACTH, yang dibawa melalui aliran darah ke korteks adrenal. Dimana, ia menstimulasi pelepasan sekelompok hormon, termasuk kortisol, yang meregulasi kadar gula darah. ACTH juga memberi sinyal ke kelenjar endokrin lain untuk melepaskan sekitar 30 hormon. Efek kombinasi berbagai hormon stres yang dibawa melalui aliran darah ditambah aktivitas neural cabang simpatik dari sistem saraf otonomik berperan dalam respons fight or flight .
Gejala stres
Berikut ini adalah gejala-gejala psikologis stres : kecemasan, ketegangan, kebingungan dan mudah tersinggung, perasaan frustrasi, rasa marah, dan dendam (kebencian), sensitif dan hyperreactivity, memendam perasaan, penarikan diri depresi, komunikasi yang tidak efektif, perasaan terkucil dan terasing, kebosanan dan ketidakpuasan kerja, kelelahan mental, penurunan fungsi intelektual, dan kehilangan konsentrasi, kehilangan spontanitas dan kreativitas serta menurunnya rasa percaya diri.
Gejala-gejala fisiologis yang utama dari stres adalah : meningkatnya denyut jantung, tekanan darah, dan kecenderungan mengalami penyakit kardiovaskular, meningkatnya sekresi dari hormon stres (contoh: adrenalin dan noradrenalin), gangguan gastrointestinal (misalnya gangguan lambung), meningkatnya frekuensi dari luka fisik dan kecelakaan, kelelahan secara fisik dan kemungkinan mengalami sindrom kelelahan yang kronis (chronic fatigue syndrome), gangguan pernapasan, termasuk gangguan dari kondisi yang ada, gangguan pada kulit, sakit kepala, sakit pada punggung bagian bawah, ketegangan otot, gangguan tidur, rusaknya fungsi imun tubuh, termasuk risiko tinggi kemungkinan terkena kanker.
Gejala-gejala perilaku dari stres adalah: menunda, menghindari pekerjaan, dan absen dari pekerjaan, menurunnya prestasi (performance) dan produktivitas, meningkatnya penggunaan minuman keras dan obat-obatan, perilaku sabotaj dalam pekerjaan, perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan), mengarah ke obesitas, perilaku makan yang tidak normal (kekurangan) sebagai bentuk penarikan diri dan kehilangan berat badan secara tiba-tiba, kemungkinan berkombinasi dengan tandatanda depresi, meningkatnya kecenderungan berperilaku beresiko tinggi, seperti menyetir dengan tidak hati-hati dan berjudi, meningkatnya agresivitas, vandalisme,dan kriminalitas, menurunnya kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman serta kecenderungan untuk melakukan bunuh diri. Pengalaman stres sangat individual. Stres yang luar biasa untuk satu orang tidak semestinya dianggap sebagai stres oleh yang lain. Demikian pula, gejala dan tanda-tanda stres akan berbeda pada setiap individu.
Penentuan tahap stres
Tingkat stres adalah hasil penilaian terhadap berat ringannya stres yang dialami seseorang. Tingkatan stres ini bisa diukur dengan banyak skala. Antaranya adalah dengan menggunakan Depression Anxiety Stres Scale 42 (DASS 42) atau lebih diringkaskan sebagai Depression Anxiety Stres Scale 21 (DASS 21) oleh Lovibond & Lovibond (1995). Psychometric Properties of The Depression Anxiety Stres Scale 42 (DASS) terdiri dari 42 item dan Depression Anxiety Stres Scale 21 terdiri dari 21 item.
DASS adalah seperangkat skala subjektif yang dibentuk untuk mengukur status emosional negatif dari depresi, kecemasan dan stres. DASS 42 dibentuk tidak hanya untuk mengukur secara konvensional mengenai status emosional, tetapi untuk proses yang lebih lanjut untuk pemahaman, pengertian, dan pengukuran yang berlaku dimanapun dari status emosional, secara signifikan biasanya digambarkan sebagai stres. DASS dapat digunakan baik itu oleh kelompok atau individu untuk tujuan penelitian (Lovibond & Lovibond, 1995). Tingkatan stres pada instrumen ini berupa normal, ringan, sedang, berat, sangat berat. Psychometric Properties of The Depression Anxiety Stres Scale 42 (DASS) terdiri dari 42 item, mencakup 3 subvariabel, yaitu fisik, emosi/psikologis, dan perilaku. Jumlah skor dari pernyataan item tersebut, memiliki makna 0-29 (normal); 30-59 (ringan); 60-89 (sedang); 90-119 (berat); >120 (Sangat berat) (Lovibond & Lovibond, 1995). Selain itu, ada juga skala-skala lain yang bisa digunakan seperti Perceived Stres Scale(PSS) atau Profile Mood States(POMS). Alat-alat ini digunakan sebagai instrument untuk mendeteksi stres dan tahap stres dan bukannya sebagai alat untuk mendiagnosa (Cohen, 1983) .
2.2 Fisiologi emosi
Menurut Kamus Behavioral Science feelings diartikan sebagai: 1) penjelasan subjektif tentang kesadaran akan keadaan-keadaan tubuh (neural) yang tidak tergantung dari kejadian-kejadian dalam leingkungan individu; 2) tactile sensation; 3) menyadari sesuatu, misalnya perasaan bahwa kita diterima lingkungan; 4) emosi, misalnya bahagia, sedih, marah dan sebagainya. Emosi diartikan sebagai suatu reaksi yang kompleks yang terdiri dari perubahan fisiologis dari keadaan seimbang yang secara subyektif dialami sebagai feeling dan dimanifestasikan dalam perubahan-perubahan tubuh dan dapat dinyatakan dalam tindakan overt.
Semua emosi berasal dari sistem limbik otak yang kira-kira berukuran sebesar sebuah kacang walnut dan terletak di batang otak. Orang-orang cenderung merasa bahagia ketika sistem limbik mereka secara relatif tidak aktif. Sistem limbik orang tidaklah sama. Sistem limbik yang lebih aktif terdapat pada orang-orang yang depresi, khususnya ketika mereka memperoleh informasi negatif. Setiap orang memberikan respon yang berbeda-beda terhadap rangsangan pemicu emosi yang sama. Dalam sejumlah kasus, kepribadian menjadi penyebab perbedaan tersebut.
Perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh ketika manusia mengalami emosi, antara lain:
a. Galvanic Scin Response, yaitu di mana terjadi perubahan listrik pada kulit dan hal tersebut dapat dilihat.
b. Peredaran darah, di mana tekanan darah dan distribusi darah mengalami perubahan setelah seseorang mengalami emosi. Misalnya, muka memerah ketika seseorang marah. Hal itu dikarenakan terjadi perubahan karena pembuluh darah di kulit membesar dan ditemukan lebih banyak darah di permukaan kulit.
c. Denyut jantung.
d. Nafas.
e. Respon pupil mata. Misalnya, pupil mata membesar ketika seseorang marah.
f. Sekresi air liur yang muncul ketika perangsangan emosional.
g. Respon pilomotor.
h. Gerakan usus.
i. Ketegangan otot dan tremor.
j. Komposisi darah.
Mekanisme Fisiologi dalam Emosi
Perubahan-perubahan yang terjadi selama emosi saling berhubungan karena dipengaruhi susunan saraf dan kelenjar endokrin. WB Cannon, Woodworth & Schlossberg, menyatakan bahwa terdapat kelompok besar sinaps yang menonjol dalam keadaan marah untuk menyiapkan organisme untuk menghadapi keadaan-keadaan gawat dan membuat pertahanan terhadap penyerangan dan luka.
Misalnya, suatu ketika kucing makan dengan tenang dan tiba-tiba anjing datang menyalak. Perubahan fisiologis yang terjadi pada kucing yang diatur oleh simpatetik dari susunan saraf otonom tersebut antara lain, terhentinya gerakan pencernaan lambung, tekanan darah naik, detak jantung meningkat, dan adrenalin masuk melalui aliran darah. Pengeluaran adrenalin menyebabkan beberapa dampak antara lain, tekanan darah meningkat, peningkatan gula dalam darah sehingga memungkinkan untuk beraksi, dan pembekuan darah yang terjadi lebih cepat. Akhirnya yang terjadi adalah kucing tersebut menaikkan punggung dan berdesis, bulu berdiri dan siap menyerang anjing. Tambahan gula dalam darah memberi kucing kekuatan dan menambah ketahanan. Jika luka, darah akan membeku lebih cepat.
Divisi simpatetik dan parasimpatetik memberikan pengaruh yang berbeda terhadap organ yang sama. Simpatetik mempercepat detak jantung dan aktif dalam keadaan emosional. Sedangkan parasimpatetik memperlambat detak jantung dan berperan dalam keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan maupun keadaan terangsang.
Bila kita sedang bergairah, senang, atau marah kita mengalami beberapa hal yang terjadi dalam tubuh kita, tetapi kita biasanya tidak sadar bahwa semua itu sedang terjadi. Observasi langsung dengan menggunakan alat pencatat telah member informasi ilmiah tentang kajadian- kejadian secara fisik ketika dalam kedaan emosi. Para ahli psikologi, yang mempelajari kejadian- kejadian secara fisik dalam keadaan emosi. Para ahli fisologi, yang mempelajari kejadian- kejadian seperti ini, dapat mengukur detak jantung, tekanan darah, aliran darah ke berbagai bagian dalam tubuh, kegiatan dari perut dan enzim gastrointestinal, tingkat berbagai substansi, seperti hormone dalam darah, tingkat dan kedalaman dari pernafasan, dan kondisi- kondisi secara fisik lainnya ketika dalam keadaan emosi.
System sarafotomatis. Dari studi para ahli psikofisiologi, kita tahu bahwa banyak perubahan tubuh yang terjadi pada waktu tubuh dalam keadaan emosi dihasilkan oleh aktivitas dari bagian dari sistem saraf yang disebut sistem otonomik. System otonomi terdiri dari banyak saraf yang berasal dari otak dan tulang belakang ke otot-otot halus dari berbagai organ tubuh, ke hati, ke kelenjar- kelenjar tertentu, dan ke pembuluh darah yang melayani baik tubuh bagian dalam dan bagian luar. System saraf otonom memliki dua bagian, salah satunya adalah system simpatik,yang aktif selama keadaan terbangun dan menyiapkan tubuh untuk tindakan yang ekstensif dengan meningkatkan denyut jantung, menaikkan tekanan darah, menaikkan gula darah dan menaikkan tingkat hormon- hormon tertentu dalam darah.
Dalam emosi, sistem simpatetik menyebabkan berhentinya hormone epinephrine (adrenalin), dan norepinephrine (noradrenalin). Impuls-impuls saraf dalam system simpatetik yang mencapai bagian dalam dari kelenjar adrenalin, berlokasi di bagian atas ginjal, membangkitkan sekresi dari hormon ini, yang kemudian pergi ke dalam darah dan bersikulasi di seluruh tubuh. Epineprin mempengaruhi banyak struktur dalam tubuh. Dalam hati, epinephrine membantu menggerakkan glukosa (gula darah) ke dalam darah dan itu membuat energy mencapai otak dan otot. Epineprin juga menyebabkan jantung berdetak lebih keras. Jadi, epinephrine mengganti dan menguatkan banyak kegiatan dari system simpatetik dalam berbagai organ dalam. Dalam otot rangka, ephineprine membantu memobilisasi sumber- sumber gula otot dapat menggunakan gula itu lebih cepat. Pengaruh utama dari norepenephrine adalah untuk constrict pembuluh darah tep idan karena itu menaikkan tekanan darah.
Bagian lain dari system saraf otonom adalah saraf para simpatik, cenderung menjadi aktif ketika sedang kalem dan rileks. Kebalikan dengan system simpatetik, system saraf parasimpatetik melakukan banyak hal yang membantu membangun dan menghemat gudang energy tubuh. Contohnya system parasimpatik menurunkan detak jantung, mengurangi tekanan darah, mengalihkan darah ke alat pencernaan makanan. Jadi, banyak dari pengaruh kegiatan system parasimpatik berlawanan dengan pengaruh dari kegiatan system saraf simpatetik. Dalam kondisi yang aktif atau dalam keadaan emosional yang bangkit, kegiatan simpatetik menonjol. Sedangkan, dalam keadaan tenang aktivitas parasimpatetik menjadi dominan. Tetapi kedua system itu dapat menjadi aktif dalam banyak situasi emosional: pola dari ciri aktivitas secara fisik dari emosi bercampur dengan aktifitas parasimpatetik dan simpatetik. Contohnya, dalam keadaan marah, detak jantung meningkat (pengaruh simpatetik) dan aktivitas perut meningkat (pengaruh parasimpatetik).
Pola dari Respon Tubuh ketika Emosi.
Aktivitas terjadi dalam sistem hormonal tubuh dan terjadi baik dalam sistem syaraf tepi yang otomatis mapun bagian yang somatik selama situasi emosional kita telah menguraikan sistem syaraf otomatis. Sistem syaraf somatik adalah bagian dari sistem syaraf tepi yang mengaktifkan otot bergaris atau berbelang dari tubuh. Contohnya: otot tangan, lengan, dan otot pernafasan. Jadi, perubahan dalam pernapasan, tekanan otot, dan sikap badan yang nampak dalam emosi ditimbulkan karena aktivitas dari sistem syaraf somatik.
Pola perubahan yang mengikuti emosi, yaitu emosi takut dan marah. Perubahan tubuh yang mengikuti emosi ini sebagian besar karena meningkatnya aktivitas dalam sistem syaraf simpatetik; aktivitas ini membantu tubuh menghadapi situasi yang menakutkan, karena itu pola dari aktivitas dalam emosi ini dikenal sebagai reaksi darurat (emergency), atau flight-or-flight (respon lari atau lari). Contohnya, dalam dua situasi marah dan takut, denyut jantung biasanya meningkat, pembuluh darah dalam otot melebar sehingga tubuh lebih siap untuk bertindak, gula darah dimobilisasi dari hati, hormon epinephirine dan norepenephrin dikeluarkan dari kelenjar adrenal, pupil mata melebar, pembuluh darah tepi dari kulit merengut sehingga mengurangi kemungkinan pendarahan dan membuat darah lebih banyak digunakan otot. Ketegangan otot dan tingkat pernafasan yang diperantarai oleh sistem syaraf somatis cenderung meningkat dalam keadaan takut dan marah.
Kebalikan dengan reaksi darurat ketika ketakutan dan marah adalah reaksi tubuh ketika dalam keadaan tenang, yaitu suatu keadaan emosional yang meditatif. Reaksi ini mengulas apa yang disebut dengan respon relaksasi. Pola dari respon tubuh selama relaksasi termasuk menurunnya aktivitas pada sistem syaraf simpatetik dan somatik, bersamaan deng simpatetik dan somatik, bersamaan dengan naiknyan naiknya kegiatan sistem syarafnparasimpatetik. Sejauh aktivitas simpatetik dan somatik ini selaras, respon relaksasi hampir selalu berlawanan dengan reaksi darurat.
Otak dan Emosi.
Otak dilibatkan dalam persepsi dan evaluasi situasi yang meningkatkan emosi. Jika suatu situasi dihasilkan dalam suatu keadaan emosi, otak mengontrol pola somatik dan otonom sebagai ciri aktivitas emosi dengan kata lain, otak mengontrol ekspresi fisiologi dari emosi, tentu saja otak juga terlibat dalam mengarahkan perilaku yang didorong oleh keadaan emosi dan ini perlu untuk perasaan emosional yang kita miliki.
Sejumlah struktur dalam inti otak secara langsung melibatkan pengaturan dan pengkoordinasian pola- pola aktivitas ciri dari emosi yang lebih kuat, khusunya takut, marah, dan kesenangan. Inti ini bagian dari otak termasuk hipothalamusdan suatu kelompok yang kompleks yang dikenal dengan nama sistem limbik. Istilah limbih berasal dari bahasa latin yang artinya “batas”. Struktur dari sistem ini berbentuk cincin atau lingkaran diseputar batang otak dari otak bawah. Percobaan- percobaan telah menunjukkan bahwa kerusakan dalam struktur sistem limbik ini menghasilkan perubahan besar perilaku emosi binatang, membuat bintang buas menjadi jinak atau binatang jinak menjadi buas. Stimulasi pada bagian- bagian tertentu dari sistem limbik dan hipothalamus menghasilka pola- pola perilaku yang sangat mirip dengan emosi yang terjadi secara alamiah. Stimulus listrik di bagian sitem limbik dan hipothalamus, seperti halnya bagian otak lainnya, disenangi binatang dan menyenangkan bagi manusia.
Keadaan keterbangkitan bagian dari emosi dilakukan untuk meningkatkan kegiatan dari sel- sel otak dalam cerebral korteks, sistemlimbik, dan hypothalamus. Aktivitas sel-sel di daerah otak ini secara langsung atau tidak langsung dipengaruhi oleh sarabut- serabut syaraf yang menyebar dari daerah inti otak formasi retikuler mencapai semua daerah otak yang terlibat dalam pengaturan emosi. Ketika kegiatan serabut-serabut dari formasi retikuler harus naik atau mendaki, untuk mencapai daerah otak yang lebih tinggi terlibat emosi, pengaktifan bagian dari formasi retikuler disebut ARAS (ascending reticuler activating system). Suatu ketika anda tidak bisa rileks, arahkan ARAS anda, ARAS secara mendasar terlibat untuk membuat kita tetap terjaga, berjaga- jaga dan curiga.
Arousal (pembangkit).
Banyak emosi mempunyai komponen pembangkit, ketika kita emosional, kita sering merasa bergairah. Beberapa teori telah berpendapat bahwa semua emosi adalah hanya tingkat dimana seseorang atau binatang dihasut. Meski tidak semua orang setuju dengan gagasan ini, tingkat keterbangkitan adalah dalam kemarahan, ketakutan dan kenikmatan, sehingga tingkat keterbangkitan yang rendah adalah kesedihan dan depresi.
2.3 Jenis Gangguan
1. Gangguan terkait dengan stres
a. Pengertian
Menurut Lindsay, Carrieri-Kohlman, Stres adalah “Sebuah fenomena sosiopsikofisiologik, yang merupakan gabungan dari fungsi intelektual, perilaku, metabolisme, kekebalan tubuh dan respon fisiologis lainnya terhadap stressor (atau stres) baik yang berasal dari dalam tubuh (endogen) ataupun dari luar tubuh (eksogen). Stres mungkin juga melibatkan pikiran dan perasaan yang mungkin menjadi ancaman yang dirasakan atau beberapa kondisi lain seperti dingin. Tanggapan umumnya menyajikan pelindung fungsi adaptif.
Sedangkan menurut Hans Selye, Stress Adalah respon nonspesifik tubuh untuk permintaan apapun baik disebabkan oleh atau hasil dalam kondisi menyenangkan atau tidak menyenangkan.
Kesimpulannya stres merupakan respons, stimulus dan interaksi fisiologik, psikologik dan perilaku dari seseorang individu dalam menyesuaikan diri dan menyelesaikan tekanan-tekanan atau beban baik yang datang dari dalam dirinya maupun dari luar atau lingkungan sekitarnya.
b. Sumber stres
Sumber stres atau penyebab stres dikenali sebagai stresor. Antara penyebabnya adalah, fisik, psikologis, dan sosial. Stresor fisik berasal dari luar diri individu, seperti suara, polusi, radiasi, suhu udara, makanan, zat kimia, trauma, dan latihan fisik yang terpaksa. Pada stresor psikologis tekanan dari dalam diri individu biasanya yang bersifat negatif seperti frustasi, kecemasan (anxiety), rasa bersalah, kuatir berlebihan, marah, benci, sedih, cemburu, rasa kasihan pada diri sendiri, serta rasa rendah diri, sedangkan stresor sosial yaitu tekanan dari luar disebabkan oleh interaksi individu dengan lingkungannya. Banyak stresor sosial yang bersifat traumatic yang tak dapat dihindari, seperti kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, pension, perceraian, masalah keuangan, pindah rumah dan lain-lain.
c. Diagnostik
Gangguan jiwa yang terkait stres ada tiga macam, yaitu :
F43.0 Reaksi Stres Akut
Penatalaksanaan:
1. Terapi Farmakologi
Terapi farmakologi merupakan suatu jenis terapi yang menggunakan obat-obatan yang berkhasiat memulihkan fungsi gangguan neurotransmiter disusunan syaraf pusat otak yakni sistem limbik. Sebagaimana diketahui sistem limbik merupakan bagian otak yang berfungsi mengatur alam pikiran, alam perasaan dan perilaku seseorang. Obat yang sering dipakai adalah obat anti cemas (axiolytic) golongan benzodiazepine seperti diazepam, lorazepam, alprazolam dan anti depresi (anti depressant) golongan SSRI seperti fluoxetine, sertraline (Zoloft).
2. Psikoterapi
a. Pendekatan perilaku
Pendekatan perilaku dilakukan dengan mengubah perilaku yang menimbulkan stress akut, toleransi atau adaptabilitas terhadap stress akut yang dialami, menyeimbangkan antara aktivitas fisik dan nutrisi, serta manajemen perencanaan, organisasi dan waktu.
b. Pendekatan Kognitif
Pendekatan kognitif merupakan pendekatan yang bertujuan untuk mengubah pola pikir individu agar berpikir positif dan sikap yang positif, membekali diri dengan pengetahuan tentang stres, serta menyeimbangkan antara aktivitas otak kiri dan kanan. Pendekatan kognitif bisa juga dilakukan dengan menggunakan metode hipnoterapi.
c. Metode Coping Stres
Menggunakan Teknik Relaksasi Relaksasi dilakukan dengan tujuan untuk melepaskan semua ketegangan-ketegangan yang selama ini dialami oleh individu. Relaksasi yang dilakukan bisa berupa relaksasi otot-otot, relaksasi kesadaran indra dan relaksasi pikiran-pikiran.
F43.1 Gangguan Stres Paska Trauma
Penatalaksanaan:
Ketika seorang dokter dihadapkan dengan pasien yang telah mengalami trauma yang bermakna, pendekatan utama adalah dukungan, dorongan untuk membahas acara, dan edukasi tentang berbagai mekanisme koping (misalnya, relaksasi). Penggunaan obat penenang dan hipnotik juga dapat membantu. Ketika seorang pasien mengalami peristiwa traumatis di masa lalu dan sekarang memiliki PTSD, penekanan harus pada pendidikan tentang gangguan dan pengobatan, baik farmakologis dan psikoterapi. Dokter juga harus bekerja untuk destigmatisasi gagasan penyakit mental dan PTSD. Dukungan tambahan untuk pasien dan keluarga dapat diperoleh melalui kelompok dukungan lokal dan nasional untuk pasien dengan PTSD.
1. Farmakoterapi
Selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), seperti sertraline (Zoloft) dan paroxetine (Paxil), dianggap pengobatan lini pertama untuk PTSD, karena peringkat khasiat, tolerabilitas, dan keselamatan mereka. SSRI mengurangi gejala dari semua kelompok PTSD gejala dan efektif dalam meningkatkan gejala unik untuk PTSD, bukan hanya gejala yang mirip dengan mereka yang depresi atau gangguan kecemasan lainnya. Buspirone (BuSpar) adalah serotonergik dan juga mungkin digunakan.
Khasiat imipramine (Tofranil) dan amitriptyline (Elavil), dua obat trisiklik, dalam pengobatan PTSD didukung oleh sejumlah uji klinis yang terkendali dengan baik. Meskipun beberapa percobaan dari dua obat memiliki temuan negatif, kebanyakan dari uji coba ini memiliki cacat desain yang serius, termasuk terlalu pendek durasi. Dosis imipramine dan amitriptyline harus sama dengan yang digunakan untuk mengobati gangguan depresi, dan percobaan yang memadai harus berlangsung minimal 8 minggu. Pasien yang merespon dengan baik mungkin harus terus farmakoterapi untuk setidaknya 1 tahun sebelum dilakukan usaha untuk menarik obat. Beberapa studi menunjukkan bahwa farmakoterapi lebih efektif dalam mengobati depresi, kecemasan, dan hyperarousal dari dalam mengobati menghindari, penolakan, dan mati rasa emosional.
Obat lain yang mungkin berguna dalam pengobatan PTSD meliputi inhibitor monoamine oxidase (MAOIs) (misalnya, phenelzine [Nardil]), trazodone (Desyrel), dan antikonvulsan (misalnya, carbamazepine [Tegretol], valproate [Depakene]). Beberapa penelitian juga mengungkapkan peningkatan PTSD pada pasien yang diobati dengan reversibel inhibitor monoamine oxidase (Rimas). Penggunaan clonidine (Catapres) dan propranolol (Inderal), yang adalah agen antiadrenergic, disarankan oleh teori tentang hiperaktif noradrenergik di gangguan. Hampir tidak ada perhatian positif data penggunaan obat antipsikotik dalam gangguan, sehingga penggunaan obat-obatan seperti haloperidol (Haldol) harus disediakan untuk kontrol jangka pendek agresi parah dan agitasi.
2. Psikoterapi
Psikoterapi psikodinamik mungkin berguna dalam pengobatan banyak pasien dengan PTSD. Dalam beberapa kasus, rekonstruksi peristiwa traumatis dengan abreaksi terkait dan katarsis mungkin terapi, tetapi psikoterapi harus individual karena reexperiencing trauma menguasai beberapa pasien.
Intervensi psikoterapi untuk PTSD meliputi terapi perilaku, terapi kognitif, dan hipnosis. Banyak dokter menganjurkan psikoterapi waktu terbatas untuk korban trauma. Terapi seperti biasanya mengambil pendekatan kognitif dan juga memberikan dukungan dan keamanan. Sifat jangka pendek dari psikoterapi yang meminimalkan risiko ketergantungan dan kronisitas, tetapi isu-isu kecurigaan, paranoia, dan kepercayaan sering mempengaruhi kepatuhan. Terapis harus mengatasi penolakan pasien dari peristiwa traumatik, mendorong mereka untuk bersantai, dan menghapus mereka dari sumber stres. Pasien harus didorong untuk tidur, menggunakan obat jika diperlukan. Dukungan dari orang-orang di lingkungan mereka (misalnya, teman-teman dan kerabat) harus disediakan. Pasien harus didorong untuk meninjau dan abreact perasaan emosional yang terkait dengan peristiwa traumatik dan untuk merencanakan pemulihan di masa depan. Abreactionâ € "mengalami emosi yang terkait dengan eventâ €" dapat membantu untuk beberapa pasien. The amobarbital (Amytal) wawancara telah digunakan untuk memfasilitasi proses ini.
Psikoterapi setelah peristiwa traumatis harus mengikuti model intervensi krisis dengan dukungan, pendidikan, dan pengembangan mekanisme koping dan penerimaan acara. Ketika PTSD telah mengembangkan, dua pendekatan psikoterapi utama dapat diambil. Yang pertama adalah terapi pemaparan, di mana pasien reexperiences peristiwa traumatik melalui teknik pencitraan atau dalam paparan vivo. Eksposur dapat intens, seperti dalam terapi implosif atau dinilai, seperti dalam desensitisasi sistematis.
Pendekatan kedua adalah untuk mengajarkan metode pasien manajemen stres, termasuk teknik relaksasi dan pendekatan kognitif untuk mengatasi stres. Beberapa data awal menunjukkan bahwa, meskipun teknik manajemen stres yang efektif lebih cepat daripada teknik eksposur, hasil teknik eksposur bertahan lebih lama.
Teknik psikoterapi lain yang relatif baru dan agak kontroversial adalah gerakan mata desensitisasi dan pengolahan ulang (EMDR), di mana pasien berfokus pada gerakan lateral jari klinisi tetap menjaga citra mental dari pengalaman trauma. Kepercayaan umum adalah bahwa gejala dapat dikurangi sebagai pasien bekerja melalui peristiwa traumatis sementara dalam keadaan relaksasi yang mendalam. Para pendukung pengobatan ini menyatakan itu adalah sebagai efektif, dan mungkin lebih efektif, dibandingkan perawatan lain untuk PTSD dan yang lebih disukai oleh dokter dan pasien yang telah mencobanya.
Selain teknik terapi individu, terapi kelompok dan terapi keluarga telah dilaporkan efektif dalam kasus PTSD. Keuntungan dari terapi kelompok termasuk berbagi pengalaman traumatis dan dukungan dari anggota kelompok lainnya. Terapi kelompok telah sangat sukses pada veteran Vietnam dan korban bencana bencana seperti gempa bumi. Terapi keluarga sering membantu mempertahankan perkawinan melalui periode gejala diperburuk. Rawat inap mungkin diperlukan bila gejala sangat parah atau ketika risiko bunuh diri atau kekerasan lainnya ada.
F43.2 Gangguan Penyesuaian
Karakter kelima: F43.20= Reaksi depresi singkat
F43.21= Reaksi depresi berkepanjangan
F43.22= Reaksi campuran enxietas
F43.23= Dengan predominan gangguan emosi lain
F43.24= Dengan predominan ganguan perilaku
F43.25= Dengan gg campuran emosi dan perilaku
F43.28= Dengan gejala predominan lainnya YTD
Penatalaksanaan:
1. Psikoterapi
Psikoterapi tetap merupakan pengobatan pilihan untuk gangguan penyesuaian. Terapi kelompok dapat sangat bermanfat bagi pasien yang memiliki stress. Psikoterapi individu menawarkan kesempatan bagi pasien untuk mengeksplorasi makna stressor nya sehingga trauma sebelumnya dapat bekerja melalui. Setelah terapi berhasil, pasien kadang-kadang muncul dari gangguan penyesuaian lebih kuat dari pada periode premorbid, meskipun tidak ada patologi terbukti selama periode itu. Karena stressor dapat digambarkan dengan jelas pada gangguan penyesuaian, sering diyakini bahwa psikoterapi tidak diindikasikan dan bahwa gangguan ini akan sembuh secara spontan. Sudut pandang ini, bagaimanapun, mengabaikan fakta bahwa banyak orang terkena pengalaman stressor gejala yang berbeda, dan pada gangguan penyesuaian, respon patologis.
Psikoterapi dapat membantu orang beradaptasi dengan stres yang tidak reversibel dengan waktu yang terbatas dan dapat berfungsi sebagai intervensi pencegahan jika stressor tidak teratasi. Psikiater yang mengobati gangguan penyesuaian harus sangat menyadari masalah keuntungan sekunder. Peran penyakit mungkin bermanfaat untuk beberapa orang normal yang sehat yang memiliki sedikit pengalaman dengan kapasitas sakit untuk membebaskan mereka dari tanggung jawab.
Dengan demikian, pasien dapat menemukan terapis yang penuh perhatian, empati, dan dapat memahami, yang diperlukan untuk sukses, menguntungkan mereka sendiri, dan terapis yang demikian dapat memperkuat gejala pasien. Pertimbangan tersebut harus diperhatikan sebelum psikoterapi intensif dimulai. Pasien dengan gangguan penyesuaian mungkin memiliki kesulitan dengan hukum, otoritas, atau sekolah. Psikiater tidak harus berusaha untuk menyelamatkan pasien tersebut dari konsekuensi dari tindakan mereka. Terlalu sering, kebaikan tersebut hanya memperkuat dukungan social yang tidak dapat mengurangi ketegangan dan menghambat pertumbuhan emosional berikutnya. Dalam kasus ini, terapi keluarga dapat membantu.
2. Depresif
a. Pengertian
Gangguan depresif adalah gangguan psikiatri yang menonjolkan mood sebagai masalahnya, dengan berbagai gambaran klinis yakni gangguan episode depresif, gangguan distimik, gangguan depresif mayor dan gangguan depresif unipolar serta bipolar. Gangguan depresif merupakan gangguan medik serius menyangkut kerja otak, bukan sekedar perasaan murung atau sedih dalam beberapa hari. Gangguan ini menetap selama beberapa waktu dan mengganggu fungsi keseharian seseorang. Gangguan depresif masuk dalam kategori gangguan mood, merupakan periode terganggunya aktivitas sehari-hari, yang ditandai dengan suasana perasaan murung dan gejala lainnya termasuk perubahan pola tidur dan makan, perubahan berat badan, gangguan konsentrasi, anhedonia (kehilangan minat apapun), lelah, perasaan putus asa dan tak berdaya serta pikiran bunuh diri. Jika gangguan depresif berjalan dalam waktu yang panjang (distimia) maka orang tersebut dikesankan sebagai pemurung, pemalas, menarik diri dari pergaulan, karena ia kehilangan minat hampir disemua aspek kehidupannya.
b. Gejala
Pada episode depresif ini gejala utama pada derajat ringan,sedang dan berat, yaitu:
Efek depresif.
Kehilangan minat dan kegembiraan.
Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktifitas.
Gejala lainnya yaitu:
Konsentrasi dan perhatian berkurang.
Harga diri dan kepercayaan diri berkurang.
Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna.
Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis.
Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri.
Tidur terganggu.
Nafsu makan berkurang.
c. Pedoman Diagnosis
F32.0 episode depresi ringan
d.
F32.1 episode depresi sedang
F32.2 Episode depresi berat tanpa gejala psikotik
F32.3 Episode depresi berat dengan gejala psikotik
F33 Gangguan berulang
Diagnosis banding: episode depresi singkat berulang (F38.1)
F33.0 Ganguan depresi berulang, episode kini ringan
Karakter kelima: F33.00= tanpa gejala somatik
F33.01= dengan gejala somatik
F33.1 Gangguan depresi berulang, episode kini sedang
Karakter lima: F33.10= tanpa gejala somatik
F33.11= dengan gejala somatik
F33.2 Gangguan depresif berulang, episode kini berat tanpa gejala psikomatik
F33.3 Gangguan depresif berulang, episode kini berat dengan gejala psikotik
F33.4 Gangguan depresi berulang, kini dalam remisi
c. penatalaksanaan
Banyak jenis terapi, efektivitas akan berbeda dari orang ke orang dari waktu ke waktu. Psikiater memberikan medikasi dengan antidepresan dan medikasi lainnya untuk membuat keseimbangan kimiawi otak penderita. Pilihan terapi sangat bergantung pada hasil evaluasi riwayat kesehatan fisik dan mental penderita. Pada gangguan depresif ringan seringkali psikoterapi saja dapat menolong. Tidak jarang terapi memerlukan psikofarmaka antidepresan. Medikasi akan membantu meningkatkan suasana hati sehingga relatif penderita lebih mudah ditolong dengan psikoterapi dan simptomnya cepat menurun.
Setiap individu mempunyai kebutuhan dan latar belakang yang berbeda, sehingga terapinya disesuaikan dengan kebutuhannya. Terapi juga dipengaruhi oleh masalah pribadi kehidupan penderita. Jika mereka juga menggunakan napza atau mempunyai ketergantungan pada hal lain, seringkali tanda dan gejala gangguan depresif mengalami distorsi, atau menjadi diperbesar dan nampak tidak dapat dipulihkan.
Rujukan penderita ke layanan terapi profesional sangatlah diperlukan. Terapi yang dapat dipercaya oleh penderita memberikan dorongan kuat untuk pemulihan. Terapi diarahkan pada pemikiran positif penderita untuk membalikkan pikiran dan perasaan negatifnya. Pengobatan gangguan depresif tersedia dan gangguan depresif dapat diobati.
Jika penderita mengalami gangguan depresif berat, dan gejalanya sangat membuat tidak berdaya maka perlu diketahui bahwa anti depresan tidak menyembuhkan gangguan depresif, tetapi mengurangi sampai menghilangkan gejala. Psikoterapi akan membantu penderita belajar adaptasi diri menghadapi permasalahan yang muncul dalam kehidupannya yang berpotensi mencetuskan gangguan depresif. Pola pikir negatif dan sikap pesimistik perlu digantikan dengan perilaku yang diubah melalui pendekatan psikoterapi.
Penderita dengan gangguan depresif perlu didukung dengan empati, dengan menekankan bahwa mereka dapat ditolong dan diobati. Kebanyakan dari mereka merasa putus asa dan merasa tidak berdaya. Hindari ketidak-empatian seperti mengatakan kepada mereka untuk senyum, bergembira, jangan malas, bergaul dsb. Ini akan membuat mereka lebih terpuruk. Evaluasi dan observasi penderita akan kemungkinan bunuh diri, keluarga diminta bantuannya untuk mengawasi hal ini. Tujuannya adalah untuk mengamankan penderita dari tindak mengakhiri kehidupan.
1. Terapi Fisik dan Terapi Perubahan Perilaku
a. ELECTRO CONVULSIVE THERAPY ( ECT )
ECT adalah terapi dengan melewatkan arus listrik ke otak. Metode terapi semacam ini sering digunakan pada kasus depresif berat atau mempunyai risiko bunuh diri yang besar dan respon terapi dengan obat antidepresan kurang baik.
Pada penderita dengan risiko bunuh diri, ECT menjadi sangat penting karena ECT akan menurunkan risiko bunuh diri dan dengan ECT lama rawat di rumah sakit menjadi lebih pendek.
Pada keadaan tertentu tidak dianjurkan ECT, bahkan pada beberapa kondisi tindakan ECT merupakan kontra indikasi. ECT tidak dianjurkan pada keadaan:
• Usia yang masih terlalu muda ( kurang dari 15 tahun ).
• Masih sekolah atau kuliah
• Mempunyai riwayat kejang
• Psikosis kronik
• Kondisi fisik kurang baik
• Wanita hamil dan menyusui
Selain itu, ECT dikontraindikasikan pada: penderita yang menderita epilepsi, TBC milier, tekanan tinggi intra kracial dan kelainan infark jantung.
Depresif berisiko kambuh manakala penderita tidak patuh, ketidaktahuan, pengaruh tradisi yang tidak percaya dokter, dan tidak nyaman dengan efek samping obat. Terapi ECT dapat menjadi pilihan yang paling efektif dan efek samping kecil. Terapi perubahan perilaku meliputi penghapusan perilaku yang mendorong terjadinya depresi dan pembiasaan perilaku baru yang lebih sehat. Berbagai metode dapat dilakukan seperti CBT (Cognitive Behaviour Therapy) yang biasanya dilakukan oleh konselor, psikolog dan psikiater.
2. Psikoterapi
Psikoterapi merupakan terapi yang digunakan untuk menghilangkan atau mengurangikeluhan-keluhan dan mencegah kambuhnya gangguan psikologik atau pola perilaku maladaptif. Terapi dilakukan dengan jalan pembentukan hubungan profesional antara terapis dengan penderita.
Psikoterapi pada penderita gangguan depresif dapat diberikan secara individu, kelompok atau pasangan disesuaikan dengan gangguan psikologik yang mendasarinya. Psikoterapi dilakukan dengan memberikan kehangatan, empati, pengertian dan optimisme. Dalam pengambilan keputusan untuk melakukan psikoterapi sangat dipengaruhi oleh penilaian dari dokter atau penderitanya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Maka kesimpulan yang dapat kita tarik dari pemaparan yang telah kami sampaikan bahwa Stres dewasa ini digunakan secara bergantian untuk menjelaskan berbagai stimulus dengan intensitas berlebihan yang tidak disukai berupa respons fisiologis, perilaku, dan subjektif terhadap stres; konteks yang menjembatani pertemuan antara individu dengan stimulus yang membuat stres semua sebagai suatu sistem
Semua emosi berasal dari sistem limbik otak yang kira-kira berukuran sebesar sebuah kacang walnut dan terletak di batang otak. Orang-orang cenderung merasa bahagia ketika sistem limbik mereka secara relatif tidak aktif. Sistem limbik orang tidaklah sama. Sistem limbik yang lebih aktif terdapat pada orang-orang yang depresi, khususnya ketika mereka memperoleh informasi negatif. Setiap orang memberikan respon yang berbeda-beda terhadap rangsangan pemicu emosi yang sama.Gangguan-gangguan stress bersumber dari stresor penyebabnya dari fisik, psikologis, dan sosial. Juga berbagai penanganan gangguan-gangguan stres seperti farmakoterapi dan psikoterapi.
3.2 Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun agar dalam pembuatan makalah selanjutnya bisa lebih baik lagi, atas perhatiannya penulis ucapkan terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA
Guyton C. Arthur & Hall E. John., (2007), Buku Ajar FisiologiKedokteran :EdisiSebelas, Jakarta : PENERBIT BUKU KEDOKTERAN EGC.
Carlson Neil R., (2015) Fisiologi Perilaku : jilid 2, Jakarta : PENERBIT ERLANGGA
Muslim, Rusdi. 2003. Diagnosis gangguan jiwa, rujukan ringkas PPDGJ-III dan DSM-5. Jakarta. PT. Nuh Jaya
http:// tunggulpharmacist.files.wordpress.com
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/psikologi_umum2/bab2_emosi_dan_stress.pdf/
http://med.unhas.ac.id
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/21565/Chapter%20II.pdf?sequence=4/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar