Sabtu, 08 September 2018

OBSERVASI ANTROPOLOGI ''THEDAK SITEN''


BAB I
PENDAHULUAN

2.1 LATAR BELAKANG

Manusia adalah mahluk yang berbudaya, karena kebudayaan merupakan pendorong didalam tingkah laku manusia dalam hidupnya. Kebudayaan pun menyimpan nilai-nilai yang menjadi landasan pokok bagi penentu sikap terhadap dunia luar, Bahkan menjadi dasar setiap tingkah laku yang dilakukan sehubungan dengan pola hidup dimasyarakat. Nilai-nilai luhur dari kebudayaan inilah yang telah di wariskan secara turun temurun dari generasi kegenerasi berikutnya melalui berbagai adat istiadat yang khusus.
Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari banyak pulau dan memiliki berbagai macam suku bangsa, bahasa, adat istiadat atau yang sering disebut kebudayaan. Hal ini dapat dilihat dari sosiokultural, agama maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Keanekaragaman ini merupakan suatu bukti bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya. Keanekaragaman ini disebabkan karena perbedaan yang dimiliki seperti faktor lingkungan, faktor alam, manusia itu sendiri, dan berbagai faktor lainnya yang menimbulkan keberagaman budaya. Manusia ,kebudayaan, dan tradisi adalah satu hal yang tidak bisa dipisahkan karena dimana manusia itu hidup dan menetap maka manusia akan hidup sesuai dengan kebudayaan yang ada di daerah yang di tinggalinya.
Istilah tradisi secara umum dirumuskan sebagai kumpulan praktek dan kepercayaan yang secara sosial ditransmisikan dari masa lalu, atau pewarisan kebudayaan atau kebiasaan dari generasi yang satu kepada generasi selanjutnya. Praktek dan kepercayaan ini dipandang memiliki otoritas pada zaman sekarang karena berasal dari masa lalu. Sering kali konsep ini memiliki nuansan lisan dalam arti tradisi yang bersifat tidak tertulis.
Maka dalam hal ini masyarakat Jawa memiliki kebudayaan dan tradisi tersendiri yang mengedepankan warisan budaya dari leluhurnya. Masyarakat Jawa masih percaya  dengan tetap melaksanakan adat istiadat  didalam  kehidupan  sosialnya  maka  mereka  akan  selalu  diberi keselamatan. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Bratawidjaja (2000) bahwa, berbagai macam adat yang terdapat dalam masyarakat pada umumnya dan masyarakat Jawa khususnya adalah merupakan pencerminan bahwa semua perencanaan, tindakan dan perbuatan telah diatur oleh tata nilai luhur.
Tata nilai luhur tersebut diwariskan secara turun temurun dari generasi kegenarasi berikut. Perubahan tata nilai menuju perbaikan sesuai dengan tuntutan zaman. Yang jelas adalah bahwa tata nilai yang dipancarkan melalui tata cara adat merupakan manifestasi tata kehidupan masyarakat Jawa yang serba hati- hati agar dalam melaksanakan pekerjaan mendapat keselamatan baik lahir maupun batin.
Bagi orang tua, kelahiran seorang anak baik pria maupun wanita adalah anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa. Semenjak didalam kandungan hingga kelahirannya, setiap orang tua selalu berharap agar kelak anak tersebut menjadi manusia yang berguna bagi Nusa Bangsa dan Agamanya. Pengharapan orang tua kepada anaknya tersebut diwujudkan dalam bentuk upacara adat (adat Jawa) yang dimulai sejak bayi masih dalam kandungan Ibunya, hingga anak tersebut lahir.
Lingkungan sosial individu mulai terbentuk sejak ia masih dalam kandungan ibunya hingga akhirnya ia meninggal dunia. Lingkungan sosial yang harus dilalui dalam perjalanan hidup seseorang meliputi masa dalam rahim atau kandungan ibunya (kehamilan), kelahiran bayi, masa anak-anak, masa remaja, dewasa, tua dan mati (Koentjaraningrat:1985). Masa peralihan ini pada dasarnya akan di lalui oleh hampir semua manusia yang hidup di dunia,walaupun tidak semua masa peralihan itu sama, karena ada yang hanya melalui masa bayi hingga anak-anak saja kemudian meninggal dan ada pula yang melalui seluruh tahapan peralihan tersebut.
Pada berbagai kebudayaan ada anggapan bahwa masa peralihan manusia yaitu peralihan dari satu tingkat kehidupan atau lingkungan sosial ketingkat kehidupan atau lingkungan sosial yang lain merupakan saat-saat penuh bahaya, baik bahaya yang nyata maupun gaib. Oleh karena itu dalam beberapa kebudayaan sering di lakukan suatu upacara daur hidup (life cycle) yang di maksudkan untuk menghindari bahaya nyata maupun gaib yang mungkin datang. Upacara ini sering di sebut dengan upacara kritis hidup (Crities rites). Di dalam kebudayaan Jawa juga mengenal upacara-upacara daur hidup, yaitu mulai dari upacara masa hamil, upacara kelahiran, upacara perkawinan, hingga upacara kematian. Masyarakat Jawa percaya bahwa rentang waktu lahir hingga mati bagi manusia merupakan saat-saat mana kala dunia dan kehidupan nya tergelar dan terpapar, oleh karena itu beberapa ritus hidup mesti di laksanakan. Pelaksanaan upacara-upacara tersebut bagi masyarakat Jawa pada dasarnya untuk memenuhi krenteg dan karep (niat dan  kehendak) di dalam tanggapan dunia bahwa pada dasarnya kehidupan manusia itu  sakral (Yana,2010).
Perubahan status seseorang yaitu pertumbuhan kearah  kehidupan berikutnya menuju kearah kedewasaan, bagi masyarakat Jawa merupakan serangkaian babak yang rawan untuk di serang atau di rasuki oleh roh-roh jahat. Bagi masyarakat Jawa  Kehidupan di bumi dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa gaib dan mahluk halus yang menembus perjalanan sehari-hari manusia, dimana kekuatan mahluk gaib tersebut bisa merusak atau bermanfaat. Namun yang jelas kekuatan tersebut sangat mempengaruhi kehidupan nyata manusia. Untuk itu didalam tahapan peralihan manusia di perlukan suatu upacara khusus, agar kekuatan mahluk gaib tersebut tidak mengganggu atau merugikan manusia, namun di harapkan kekuatan tersebut dapat memberikan manfaat bagi manusia. Masyarakat Jawa meyakini bahwa upacara daur hidup yang mereka lakukan dipenuhi dengan nilai-nilai dan norma-norma kehidupan yang tumbuh secara turun temurun. Nilai-nilai dan norma-norma tersebut di gunakan untuk mencari keseimbangan tatanan kehidupan mereka (Mulder dalam Soekanto: 1990).
Disini saya akan menjelaskan tentang salah satu upacara yang di lakukan oleh masyarakat Jawa ketika memasuki babak baru dalam tingkat kehidupannya adalah upacara yang berkenaan dengan kelahiran seorang anak. Yaitu upacara adat turun tanah yang dilakukan apabila bayi telah mencapai usia 7 atau 8 bulan ketika anak mulai belajar berjalan yang di sebut Thedak Siten, sebenarnya ada sebutan lain bagi orang jawa untuk thedak siten seperti pitonan atau mitoni. Thedak siten berasal dari kata jawa yang berarti mendekat ke tanah. Tradisi ini menjadi symbol bagi kalangan masyarakat jawa mengisyaratkan dalam usia tersebut. Menginjakan kakinya ke tanah sebagai upaya pendekatan kepada dirinya sendiri yang berunsurkan tanah. Dan sekaligus merupakan usia anak untuk melatih dirinya untuk berjalan di tanah yang pertama kali. Ada ketentuan hari untuk melaksanakan upacara tedhak siten ini biasanya disesuaikan dengan weton (hari lahir) si anak.
Upacara ini dilakukan sebagai ucapan rasa  syukur  kepada  Tuhan  karena seorang bayi yang berumur 7-8 bulan mulai  menapakkan  kaki diatas  bumi.  Upacara  ini  biasanya  si bayi  akan  diangkat  oleh  ibu atau ayahnya menaiki  beberapa  buah  anak  tangga bambu,  kemudian  perlahan-lahan turun  kembali  menapaki  anak  tangga itu menuju tanah, prosesi inilah yang kemudian  terkenal  dengan  nama “Tedhak Siten”.
 Menurut pendapat lain Thedak Siten adalah upacara pada saat anak turun tanah untuk pertama kali, dan masyarakat beranggapan bahwa tanah mempunyai kekuatan gaib. Di samping itu adanya kepercayaan bahwa tanah dijaga oleh Bartharakala.  Menurut kepercayaan orang Jawa Bartharakala adalah penjaga tanah oleh karena itu si anak perlu dikenalkan kepada Bartharakala melalui upacara yang disebut tedhak siten, agar sang penjaga tanah tidak marah. Sebab apabila Bartharakala marah, akan menimbulkan suatu bencana bagi si anak.
Pengharapan tinggi terhadap seorang anak (terutama anak pertama) merupakan kebahagian tersendiri. Untuk itu setelah anak tersebut lahir selalu ada upacara-upacara yang di lakukan sebagai usaha  penjagaan terhadap anak, di antaranya adalah upacara ketika anak menginjakan tanah untuk yang pertama kalinya atau yang sering disebut dengan upacara Tedhak Siten. Upacara Tedhak Siten adalah suatu acara memperkenalkan anak untuk pertama kalinya pada bumi atau tanah dengan maksud anak tersebut mampu berdiri sendiri dalam menempuh kehidupannya kelak. Bagi masyarakat Jawa upacara ini merupakan wujud pengharapan orang tua terhadap buah hatinya agar kelak siap dan sukses dalam menapaki kehidupan yang penuh dengan rintangan dan hambatan dengan bimbingan orang tuanya (Bratawijaya : 1997).
Selain itu upacara ini juga sebagai bentuk penghormatan terhadap bumi sebagai tempat berpijak sekaligus yang telah memberikan banyak hal dalam kehidupan manusia. Di katakan bahwa manusia hidup dan mati berada di bumi, makan minum, rumah, kendaraan semua berasal dari bumi, maka manusia perlu menghormatinya. Sebab dengan cara seperti ini maka manusia akan mendapatkan keselarasan terhadap alam, karena dalam konsep masyarakat Jawa manusia menemukan hidupnya tergantung dari alam dan apabila hidupnya selaras akan memperoleh kebaikan.
Rangkaian tradisi ini memiliki keunikan dan makna tersendiri bagi masyarakat jawa.Bahkan ada pesan moral yang ingin disampaikan, salah satunya yakni sang bayi disuruh memilih beberapa pilihan dari buku, kitab, sisir, pulpen dan lain sebagainya. Dan pilihan pertama itulah yang akan menentukan pilihan terakhir yang memiliki urutan atau tahapan masing-masing. Didaerah lain di Indonesia juga di kenal upacara adat turun tanah ini dengan istilah berbeda.
Setiap anak yang baru dilahirkan pada awalnya akan merasakan bahwa dunia sekitarnya serba asing, aneh dan tidak dipahami sama sekali tetapi perlahan anak akan mengalami perkembangan. Perkembangan tersebut berlangsung atas bantuan orangtua dan lingkungannya untuk memberikan stimulasi sensorik yang akan mengontrol panca inderanya dan stimulasi motorik untuk mengontrol aktivitas geraknya. Kerjasama antara pola pikir dengan pancaindra anak, yang baru berfungsi dengan baik setelah diasah melalui kekayaan pengalaman hidup, baik yang positif maupun negatif atau dikenal dengan sensomotorik.
Menurut Piaget pada usia sensomotorik berlangsung mulai dari kelahiran sampai berusia 2 tahun, dalam tahap ini bayi membangun suatu pemahaman mengenai dunia dengan cara mengoordinasikan pengalaman-pengalaman sensoris (contohnya melihat dan mendengar) melalui tindakan-tindakan fisik-motorik oleh karenanya diberi istilah sensorismotor. Semakin banyak kesempatan serta pengalaman gerakan motorik anak semakin membuat pola gerak anak menjadi berkesinambungan maka anak menjadi cepat tanggap dan memiliki kesadaran akan pancaindranya dan lebih waspada terhadap rintangan yang mungkin menghambat dalam pencapaian tujuannya serta anak menjadi mampu mengatasi permasalahan yang datang(Santrock,2012).
Jika perkembangan sensomotoriknya kurang lancar atau kurang sempurna sekalipun anak bisa berjalan dan berlari dengan baik, cara kerja sistem indra anak menjadi kurang baik, akibatnya respon anak menjadi sangat lamban dan tidak seimbang dengan pikirannya (sering menangis atau marah-marah kepada orang lain dan dirinya sendiri, tidak bisa duduk diam, suka menabrak-nabrak, merobek-robek atau ingin merusak benda-benda yang dilihatnya tanpa alasan yang jelas). Terkadang anak terlihat berjalan sambil berputar-putar, menjinjit, menginjak benda-benda yang dilewatinya, senang melompat-lompat di tempat, senang mengganggu temannya, emosinya labil dan sering berpikir negatif.
Dengan pemikiran tersebut, memberikan motivasi kepada penulis untuk mengobservasi secara lebih lanjut tentang “Tradisi upacara Thedak Siten pada perkembangan sensorik dan motorik anak” sebagai tugas pada mata kuliah Antropologi yang di bina oleh Drs.H. Yahya MA.





2.2 RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana proses upacara tradisi tedhak siten pada masyarakat Jawa?
2.      Bagaimana makna yang terkandung dalam setiap prosesi tradisi thedak siten?
3.      Bagaimana pengaruh tradisi thedak siten pada perkembangan sensorik dan motorik anak?
2.3 TUJUAN
Laporan ini merupakan laporan observasi tentang “Tradisi Upacara Thedak Siten pada perkembangan sensorik dan motorik anak” yang bertujuan untuk mengetahui seperti apa Upacara Thedak Siten itu sendiri dengan berbagai prosesi yang dilakukan dan mengetahui bagaimana pengaruh tradisi tedhak siten pada perkembangan sensorik dan motorik anak.

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan  pustaka  dilakukan  untuk  menyeleksi  masalah-masalah  yang akan menjadi topik penelitian. Dimana dalam penelitian ini akan dicari konsep-konsep yang dapat dijadikan landasan teori bagi penelitian  yang akan dilakukan. Adapun tinjauan pustaka dalam penelitian :
3.1 Masyarakat suku Jawa
Menurut Sany (2007;30) masyarakat berasal dari kata musyarak (Arab), yang artinya bersama-sama, kemudian berubah menjadi Masyarakat, yang artinya berkumpul bersama hidup bersama dengan saling berhubungan dan saling mempengaruhi selanjutnya mendapatkan kesepakatan. Lebih lanjut menurut Shadily dalam Syani (2007;30) menerangkan bahwa masyarakat adalah  golongan  besar  atau  kecil  terdiri  dari  beberapa  manusia,  yang dengan  atau  karena  sendirinya  bertalian  secara  golongan  dan  pengaruhmempengaruhi satu sama lainnya.
Masyarakat  suku  Jawa  adalah  penduduk  terbanyak  dibandingkan  dengan penduduk  pulau  lain,  akan  tetapi  masyarakat  suku  Jawa  menyebar keseluruh wilayah kepulauan Indonesia. Menurut Yana (2010;15-16) “Orang Jawa adalah orang yang bahasa ibunya bahasa jawa dan merupakan penduduk asli bagian tengah dan timur  Pulau  Jawa.
 Berdasarkan  golongan  sosial  orang  Jawa dibedakan  menjadi,  golongan  pertama  adalah  Wong  cilik  (orang kecil)  terdiri  dari  petani  dan  mereka  yang  berpendapatan  rendah, Golongan kedua adalah kaum Priyayi terdiri dari pegawai dan orang-orang intelektual dan Golongan ketiga kaum Ningrat, gaya hidupnya tak jauh  dengan  kaum  priyayi.  Selain lapisan sosial ekonomi orang jawa dibedakan  atas  dasar  keagamaan  dalam dua kelompok yaitu jawa  kejawen  yang  sering  disebut  abanagan  yang  dalam  kesadaran dan  cara  hidupnya  ditentukan  oleh  tradisi  jawa  pra-islam.  Kaum priyayi tradisional hampir seluruhnya dianggap  jawa  kejawen, walaupun  mereka  secara  resmi  mengaku  islam.  Santri,  yang memahami  dirinya  sebagai  orang  islam  dan  berusaha  untuk  hidup menurut ajaran agama islam.
Berdasarkan dari kutipan diatas, masyarakat suku Jawa adalah sekumpulan orang  yang  hidup  bersama  dan  saling  behubungan  menjadi  sebuah masyarakat  yang  berasal  dari  pulau  Jawa  yakni  Jawa  Tengah  dan  Jawa Timur  yang  kemudian  menyebar  keseluruh  Indonesia.
3.2 Tradisi Tedhak Siten
Menurut  Soerjono  Soekanto,  tradisi  adalah  perbuatan  yang  dilakukan berulang-ulang didalam bentuk yang sama (Soerjono Soekanto, 1990). Lebih  lanjut  Purwadi  (2005)  menjelaskan  tradisi  merupakan salah  satu  wujud  peninggalan kebudayaan. Kebudayaan adalah warisan sosial yang hanya dapat  dimiliki warga masyarakat pendukungnya dengan jalan mempelajarinya. Ada cara-cara tertentu atau mekanisme tertentu dalam mekanisme masyarakat untuk  memaksa  tiap  warganya  untuk  mempelajari kebudayaan yang  didalamnya  terkandung  norma  -  norma  serta  nilai  -  nilai kehidupan  yang  berlaku  dalam  tata  pergaulan  masyarakat  yang bersangkutan. Mematuhi norma serta menjunjung tinggi nilai-  nilai itu  penting  bagi  warga  masyarakat  demi  kelestarian  hidup masyarakat.  Penyelenggaraan  tradisi  itu  penting  bagi  pembinaan sosial  budaya  warga  masyarakat  yang  bersangkutan.  Antara  lain salah satu fungsinya adalah pengokohan norma-  norma, serta nilai-nilai budaya yang telah berlaku turun temurun.
Kemudian Dahri (2009) menyederhanakan pengertian tradisi adalah “suatu  kebiasaan  yang  teraplikasikan  secara  terus  menerus dengan berbagai simbol dan aturan yang berlaku pada sebuah komunitas.” Tedhak Siten  menurut  Yana  (2010)  yaitu  Tedhak  Siten dalam bahasa Indonesia berarti turun tanah. Upacara ini dilakukan sebagai ucapan  rasa  syukur  kepada  Tuhan  karena  seorang  bayi  yang berumur 7-8 bulan (7 Lapan) mulai menapakkan kaki diatas bumi. Upacara  ini  biasanya  si  bayi  akan  diangkat  oleh  ibu/ayahnya menaikai beberapa buah anak tangga bambu, kemudian perlahan-lahan turun kembali  menapaki anak tangga itu menuju tanah, prosesi inilah yang kemudian terkenal dengan nama Tedhak Siten.
Kemudian menurut Murniatmo,dkk (2000) Tedhak Siten adalah upacara pada saat anak turun tanah untuk pertama kali, atau disebut juga  mudhun lemah hatau pitonan, masyarakat beranggapan bahwa tanah mempunyai kekuatan gaib, disamping itu juga adanya suatu anggapan kuno bahwa tanah ada yang menjaga yaitu  Batharakala. Maka  dari  itu  sianak  diperkenalkan  kepada  Batharakala  sang penjaga tanah agar tidak marah dan mengganggu si anak, apabila Batharakala sampai marah berarti bencana akan menimpa si anak. Berdasarkan pemaparan diatas maka Tedhak Siten merupakan  suatu upacara yang dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat suku Jawa  yakni  yang  dilakukan  oleh  orang  tua  untuk  sang  anak  pada  usia pitung lapan (8  bulan) agar mengenal tanah tempatnya  berpijak  untuk  pertama kali.
Menurut Durkheim, aktivitas yang di lakukan oleh masyarakat desa berkaitan dengan mata pencaharian hidup, berpegang pada tradisi yang dilandasi oleh kepercayaan yang diwariskan nenek moyangnya, kemudian di transformasikan dengan situasi yang berkembang dalam lingkungan sekitarnya. Upacara atau selametan adalah tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang untuk menegaskan dan memperingati kembali kebudayaan umum serta untuk menghilangkan kekuatan yang mengacau (Geertz, 1986). Untuk mencegah datangnya kekuatan yang datang mengganggu biasanya dilakukan beberapa ritual khusus yang dimaksudkan agar suatu bahaya yang berasal dari kekuatan diluar diri manusia tidak mengganggu kehidupannya.
Dalam beberapa kebudayaan ada anggapan bahwa manusia akan mengalami masa-masa bahaya terutama pada masa peralihan dari satu tingkat kehidupan ketingkat kehidupan yang lain. Yaitu mulai masa bayi, masa remaja, dewasa, hingga meninggal, baik berupa bahaya gaib ataupun nyata. Untuk menghindari bahaya tersebut maka diperlukan upacara-upacara (ritus) ataupun untuk memberitahukan kepada orang banyak bahwa seseorang telah memasuki tahapan kehidupan tertentu (Koentjaraningrat, 1998).
Van Gennep mengatakan bahwa dalam kehidupan manusia memerlukan regenerasi semangat kehidupan sosial yang menurun dalam masa-masa peralihan. Untuk menimbulkan kembali semangat kehidupan sosial antar masyarakat diperlukan ritus dan upacara religi. Lebih lanjut Van Gennep mengatakan bahwa dalam tahap-tahap peralihan manusia yaitu sejak dia lahir kemudian masa anak-anak, melalui proses menjadi dewasa dan menikah, hingga meninggal manusia mengalami proses-proses perubahan biologi serta pertumbuhan dalam lingkungan sosial budayanya yang dapat mempengaruhi jiwanya dan dapat menimbulkan krisis mental. Untuk menghadapi tahap pertumbuhannya yang baru maka dalam tahap perubahan itu diperlukan serangkaian ritus dan upacara peralihan, yang dimaksudkan untuk meregenerasi kembali semangat kehidupan masyarakat tersebut. Upacara ini merupakan rangkaian ritus dan upacara paling tua yang paling penting dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan (Daeng, 2000).
Van Gennep menyatakan bahwa upacara pergantian musim, upacara kelahiran dan upacara perkawinan di sebut sebagai upacara integrasi dan pengukuhan. Upacara ini juga merupakan bagian dari upacara relegi (Daeng,2000). Menurutnya upacara yang di lakukan merupakan keyakinan sosial yang melibatkan anggota masyarakat dalam usaha mencapai tujuan keselamatan bersama. Upacara itu merupakan bagian integral dari kebudayaan masyarakat pendukungnya, ini dikarenakan setiap upacara selalu memiliki makna tertentu yang berkaitan dengan masyarakat pendukungnya. Makna-makna dan gagasan tersebut di nyatakan dalam berbagai simbol-simbol upacara.

3.3 Konsep Perlengkapan Upacara Tedhak Siten
Setiap upacara adat istiadat dalam pelaksanaannya terdapat perlengkapan-perlengkapan yang di gunakan untuk menunjang terselenggara nya upacara adat tersebut, seperti halnya upacara  Tedhak  Siten  pun  memiliki
perlengkapan-perlengkapan dalam pelaksanaannya. Secara umum menurut  Bratawidjaja  (2000), adapun perlengkapan-perlengkapan yang digunakan dalam upacara ini adalah:
1.      Sesaji selamatan yang terdiri dari :
a.      Nasi tumpeng dengan sayur mayurnya
b.      Jenang ( bubur) merah dan putih
c.       Jenang boro-boro
d.      Jajan pasar lengkap
2.      Juwadah  (uli)  tujuh  macam  warna  yaitu  merah,  putih,  hitam, kuning, biru, jambon (jingga), ungu.
3.      Sekar  (bunga) setaman yang ditempatkan didalam bokor besar dan tanah.
4.      Tangga yang terbuat dari batang tebu merah hati.
5.      Sangkar  ayam  (kurungan  ayam)  yang  dihiasi  janur  kuning  atau kertas warna-warni.
6.      Padi, kapas, sekar telon (tiga macam bunga misalnya melati, mawar dan kenanga).
7.      Bermacam-macam  barang  berharga  seperti  gelang,  kalung, peniti dan lain-lain.
8.      Barang-barang  bermanfaat  (misalnya  buku,  alat  tulis,  dan sebagainya) yang dimasukkan kedalam bokor kencana.
Berdasarkan  kutipan  di atas perlengkapan yang digunakan  adalah barang-barang  yang  sudah  menjadi  ketentuan  dalam  pelaksanaan  upacara Tedhak Siten, akan tetapi kemudian perlengkapan-perlengkapan tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan Dusun Kriya, Desa Tambaksari Kecamatan Purwosari Kota Pasuruan sehingga terdapat kekurangan dalam perlengakapan ketika upacara diadakan.




2.1.4  Jalannya Upacara Tedhak Siten
Sebuah upacara adat memiliki rangkaian-rangkaian acara yang dilaksanakan. (Bratawidjaja 2000)Dalam upacara Tedhak Siten rangkaian upcara tersebut adalah :
1.      Anak  yang  bersangkutan  dibimbing  berjalan  (dititah)  dengan kakinya menginjak-injak juwadah yang berjumlah tujuh warna.
2.      Setelah selesai kemudian anak tersebut dinaikan ke tangga  yang terbuat dari tebu merah hati.
3.      Selanjutnya anak tersebut dimasukkan dalam kurungan ayam, di dalam  kurungan  ayam  tersebut  telah  dimasukkan  bokor  yang berisikan  padi,  gelang,  cincin,  alat-alat  tulis,  kapas  dan  lain sebagainya.
4.      Bokor  yang  berisi  macam-macam  tadi  didekatkan  kepada  anak, dengan  maksud  agar  anak  tersebut  mengambil  isi  yang  ada didalam bokor itu.
5.      Setelah sang anak mengambil salah satu benda dari dalam bokor misalnya  gelang  emas,  pertanda  sang  anak  kelak  akan  menjadi orang  kaya.  Apabila  sang  anak  tersebut  mengambil  alat  tulis pertanda bahwa sang anak akan menjadi pegawai kantor dan atau orang pandai.
6.      Setelah  sang  anak  mengambil  barang  yang  ada  dalam  bokor, kemudian  beras  kuning  dan  bermacam-macam  uang  logam ditabur-taburkan.  Para  tamu  pun  berebut  demi  menyemarakkan suasana.
7.      Setelah  selesai sang anak dimandikan dengan air bunga setaman agar  sang  anak  sehat  dan  membawa  nama  harum  bagi  keluarga dikemudian hari.
8.      Setelah  selesai  dimandikan  sang  anak  kemudian  dipakaikan dengan pakaian baru yang bagus sedap dan menyenangkan orang tua dan para undangan.
9.      Selanjutnya  bila  telah  selesai  memakai  pakaian,  sang  anak kemudian didudukkan didalam rumah diatas tikar atau karpet dan didekatkan  lagi  pada  bokor  berisi  beras  kuning,  uang,  barang-barang berharga dengan maksud agar diambil lagi isinya.
10.  Untuk menggairahakan agar anak mengambil barang-barang yang ada  didalam bokor maka orang tua sang anak memberi aba-aba dengan suara kur-kur-kur seperti memanggil ayam disertai dengan ditaburi beras kuning dan bermacam-macam uang serta barang-barang berharga.
Sesuai dengan kondisi lingkungan masyarakat yang ada saat ini maka rangkaian upacara tersebut pun ikut menyesuaikan situasi, kondisi lingkungan Dusun Kriya Desa Tambaksari yang terdiri dari masyarakat Jawa yang berbeda agama.
3.4  Konsep Makna dan Nilai
Penelitian ini akan mengungkapkan tentang makna dan nilai yang  terkandung dalam proses pelaksanaanya. Pada dasarnya setiap pelaksanaan  upacara di kalangan masyarakat menunjukan adanya kandungan makna di balik upacara itu sediri, dimana makna tersebut sangat berkaitan erat dengan kehidupan masyarakatnya. Biasanya hal itu diberikan melalui simbol-simbol dalam upacara, lambang atau simbol inilah yang sebenarnya mempunyai nilai cukup penting bagi kehidupan manusia. Demikian pula pelaksanaan upacara Tedhak Siten pada masyarakat Jawa, pelaksanaan upacara ini tidak hanya sebagai ungkapan terima kasih telah diberi anugerah oleh Tuhan berupa hadir nya seorang anak akan tetapi juga mempunyai makna tertentu baik bagi anak orang tua maupun bagi masyarakat.
Fungsi upacara tradisional pada masyarakat pendukungnya masa kini bisa dilihat pada fungsi sosial, termasuk pengendalian sosial (social standart), media sosial (social media), normasosial (social standard), dan pengelompokan sosial (social alligment). Upacara tradisional juga berfungsi spiritual,yakni berhubungan dengan pemujaan manusia untuk meminta keselamatan pada leluhur, roh halus atau Tuhannya.
Sedangkan Nilai menurut Poerwadarminta diartikan sebagai :
1.      Harga dalam arti taksiran harga.
2.      Harga sesuatu (uang misalnya), jika itu diukur atau ditukarkan dengan yang lain.
3.      Angka kepandaian.
4.      Kadar, mutu, banyak sedikitnya suatu isi.
5.      Sifat atau hal yang penting atau berguna bagi manusia.
Nilai adalah suatu bagian penting dari kebudayaan. Suatu tindakan  dianggap sah jika harmonis dengan nilai-nilai yang disepakati dan dijunjung oleh masyarakat dimana tindakan itu dilakukan. Dalam suatu kebudayaan  pasti terkandung nilai-nilai yang menjadi faktor pendorong bagi manusia  untuk bertingkah laku dalam segala aktivitasnya.
Nilai akan kelihatan bila sistem-sistem sosial dipakai sebagai alat konsepsi didalam menganalisa tindakan sosial. Nilai-nilai itu merupakan ciri sistem sebagai suatu keseluruhan, dan bukan merupakan sekedar salah satu  bagian komponennya belaka. Sedangkan konsep keyakinan merupakan  kumpulan pikiran dan kepercayaan terhadap suatu fakta yang boleh atau tidak untuk dibuktikan kebenarannya. (Syani,2007)
Nilai merupakan patokan (standar) perilaku sosial yang  melambangkan, baik, benar salahnya suatu objek dalam hidup bermasyarakat”. Nilai juga dapat dikatakan sebagai kumpulan perasaan mengenai apa yang diinginkan atau yang  tidak diharapkan, mengenai apa yang dilakukan atau apa yang tabu dilakukan. Lebih lanjut konsep mengenai nilai dibagi menjadi 3 bagian yaitu:
1.      Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur-unsur manusia.
2.      Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan aktifitas.
3.      Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi jiwa atau rohani manusia. Dalam hal ini nilai rohani terbagi lagi menjadi 4 macam nilai yaitu :
a.      Nilai kebenaran atau kenyataan yang bersumber dari unsur akal manusia.
b.      Nilai keindahan yang bersumber dari unsur rasa manusia.
c.       Nilai moral/kebaikan yang berunsur dari kehendak/kemauan.
d.      Nilai  religius, yaitu merupakan nilai Ketuhanan, kerohanian yang tinggi dan mutlak yang bersumber dari keyakinan/kepercayaan manusia (Narwoko dan Suyanto,2009).“
Selanjutnya nilai edukasi adalah nilai pendidikan (edukasi) merupakan batasan segala sesuatu yang mendidik ke arah kedewasaan, bersifat baik maupun buruk sehingga berguna bagi kehidupannya yang diperoleh melalui proses pendidikan. Proses  pendidikan  buka berarti hanya dapat dilakukan  dalam satu tempat dan suatu waktu. Dihubungkan dengan eksistensi dan kehidupan manusia, nilai-nilai pendidikan diarahkan pada pembentukan pribadi manusia sebagai makhluk individu, sosial, religius dan berbudaya.
Beradasarkan hal tersebut maka nilai merupakan sebuah patokan landasan, alasan, atau motivasi dalam segala tingkah laku dan perbuatannya dan dalam segala aktifitas masyarakat dilingkungan sekitar.

3.5 Perkembangan Sensorimotor (Peaget)
Sebuah teori pada hakikatnya merupakan hubungan antara dua fakta atau lebih, atau pengaturan fakta menurut cara-cara tertentu. Fakta tersebut adalah suatu hal yang dapat diamati dan pada umumnya dapat diuji secara empiris. Itulah sebabnya disini saya akan membahas teori-teori yang berkaitan dengan perkembangan anak, sosial dan budaya.
Menurut Piaget, anak dilahirkan dengan beberapa skemata sensorimotor, yang memberi kerangka bagi interaksi awal anak dengan lingkungannya. Pengalaman awal si anak akan ditentukan oleh skemata sensorimotor ini. Dengan kata lain, hanya kejadian yang dapat diasimilasikan ke skemata itulah yang dapat di respons oleh si anak, dan karenanya kejadian itu akan menentukan batasan pengalaman anak. Tetapi melalui pengalaman, skemata awal ini dimodifikasi.
Setiap pengalaman mengandung elemen unik yang harus di akomodasi oleh struktur kognitif anak. Melalui interaksi dengan lingkungan, struktur kognitif akan berubah, dan memungkinkan perkembangan pengalaman terus-menerus. Tetapi menurut Piaget, ini adalah proses yang lambat, karena skemata baru itu selalu berkembang dari skemata yang sudah ada sebelumnya. Dengan cara ini, pertumbuhan intelektual yang dimulai dengan respons refleksif anak terhadap lingkungan akan terus berkembang sampai ke titik di mana anak mampu memikirkan kejadian potensial dan mampu secara mental mengeksplorasi kemungkinan akibatnya (Santrock,2002).
Interiorisasi menghasilkan perkembangan operasi yang membebaskan anak dari kebutuhan untuk berhadapan langsung dengan lingkungan karena dalam hal ini anak sudah mampu melakukan manipulasi simbolis. Perkembangan operasi (tindakan yang diinteriorisasikan) memberi anak cara yang kompleks untuk menangani lingkungan, dan oleh karenanya, anak mampu melakukan tindakan intelektual yang lebih kompleks. Karena struktur kognitif anak lebih terartikulasikan. Demikian pula lingkungan fisik anak, jadi dapat dikatakan bahwa struktur kognitif anak mengkonstruksi lingkungan fisik. ( B.R. Hergenhahn and Matthew H. Olson, 2010:325).
Tahap sensorimotor berlangsung mulai dari kelahiran hingga usai 2 tahun. Dalam tahap ini bayi membangun suatu pemahaman mengenai dunia dengan cara mengoordinasikan pengalaman-pengalaman sensoris (contohnya melihat dan mendengar) melalui tindakan-tindakan fisik-motorik-oleh karenanya diberi istilah “sensorimotor”. Pada awal dari tahap ini, bayi-bayi baru lahir telah memiliki lebih dari sekadar refleks. Pada akhir tahap sensorimotor, bayi berusia 2 tahun telah dapat menghasilkan pola-pola sensorimotor yang kompleks dan menggunakan simnbol-simbol primitif.
Sepanjang tahap ini mulai dari lahir hingga berusia dua tahun, bayi belajar tentang diri mereka sendiri dan dunia mereka melalui indera mereka yang sedang berkembang dan melalui aktivitas motor. Aktivitas kognitif terpusat pada aspek alat dari (sensori) dan gerak (motor), artinya dalam peringkat ini, anak hanya mampu melakukan pengenalan lingkungan dengan melalui alat drianya dan pergerakannya. Keadaan ini merupakan dasar bagi perkembangan kognitif selanjutnya, aktivitas sensorimotor terbentuk melalui proses penyesuaian struktur fisik sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan. ( Mohd. Surya, 2003: 57).
Piaget membagi tahap sensorimotor kedalam 6 subtahap sebagai berikut:
a.      Refleks sederhana, sebagai subtahap sensorimotor yang pertama, berhubungan dengan satu bulan pertama sejak kelahiran. Dalam subtahap ini, koordinasi sensasi dan tindakan terutama berupa refleks, seperti mencari dan mengisap. Bayi tidak lama kemudian menampilkan perilaku yang menyerupai refleks tersebut tanpa adanya stimulus yang memicu refleks. Sebagai contoh, seorang bayi baru lahir akan menghisap puting atau botol susu yang diletakkan di mulutnya atau disentuh ke bibirnya. Namun tidak lama kemudian bayi akan mengisap-ispa meskipun botol susu atau puting ibu tidak berada didekatnya. Bahkan pada bulan pertama kehidupannya, bayi akan memulai tindakan mandiri dan secara aktif menstrukturi pengalaman-pengalamannya.
b.      Kebiasaan-kebiasaan pertama dan reaksi sirkuler adalah subtahap sensorimotor kedua, berkembang diantara usia 1 hingga 4 bulan. Dalam subtahap ini, bayi mencoba mengkoordinasikan sensasi dan kedua tipe skema: kebiasaan dan reaksi sirkuler primer. Kebiasaan (habit) adalah skema yang didasarkan pada refleks yang pada akhirnya akan menjadi reaksi yang sepenuhnya terpisah dari rangsangan asli yang membangkitkan refleks itu. Sebagai contoh, bayi dalam subtahap 1 akan menghisap apabila terdapat botol susu yang diletakkan di bibirnyaatau ketika bayi itu melihat botol susu itu. Bayi yang berada dalam pada subtahap 2 mungkin akan mengisap-isap meskipun tidak ada botol didekatnya. Reaksi sirkuler adalah tindakan yang diulang-ulang (repetitif).
c.       Reaksi sirkuler primer adalah skema yang didasarkan pada upaya untuk mereproduksi suatu peristiwa yang mulanya terjadi secara kebetulan. Sebagai contoh, seorang bayi secara kebetulan akan menghisap jari-jarinya apabila sengaja diletakkan didekat mulutnya. Selanjutnya ia mencari jari-jarinya untuk diisap lagi, namun jari-jarinya belum dapat dikoordinasikan sesuai keinginan karena ia belum dapat mengkoordinasi aksi visual dan manual.
Kebiasaan dan reaksi-reaksi sirkuler bersifat streotip artinya bayi akan mengulang-ulang dengan cara yang sama setiap kalinya. Selama subtahap ini, tubuh bayi akan  terus menjadi pusat perhatian bayi. Tidak ada peristiwa lingkungan yang menatik perhatiannya.
d.      Reaksi sirkuler sekunder adalah subtahap ketiga, berkembang antara usia 4 hingga 8 bulan. Dalam  subtahap ini, bayi lebih berorientasi pada objek, melampaui preokupasi diri. Skema bayi belum bersifat sengaja atau tearah pada sasaran, namun diulang-ulang karena persaan takjub. Secara kebetulan, seorang bayi mungkinj mengguncang-guncang mainan yang bergemerincing. Bayi mengulang-ulang tindakan ini karena perasaan takjub. Ini adalah suatu reaksi sirkuler sekunder: tindakan yang diulang-ulang karena konsekuensi dari tindakan tersebut. Bayi juga melakukan peniruan terhadap sejumnlah tindakan sederhana, seperti berceloteh dan sejumlah bahasa tubuh sederhana. Meskipun demikian bayi hanya melakukan peniruan terhadap tindakan-tindakan yang memang telah mampu dihasilkan sendiri.
e.      Koordinasi reaksi sirkuler sekunder adalah subtahap sensorimotoris yang keempat menurut Piaget, berkembang diantara usia 8 hingga 12 bulan. Ketika masuk subtahap ini, bayi mampu mengoordinasikan penglihatan dan sentuhan, subtahap ini, bayi mampu mengoordinasikan penglihatan dan sentuhan, yaitu tangan dan mata. Tindakan-tindakan menjadi lebih diarahkan keluar. Dalam subtahap ini terjadi perubahan besar yang melibatkan koordinasi skema-skema dan kesenjangan. Bayi siap mengombinasikan dan mengombinasi ulang secara terkoordinasi skjema-skema yang sebelumnya pernah dipelajari. Mereka dapat mengamati sebuah objek dan langsung menggenggamnya, atau mereka juga dapat menyelidiki sebuah mainan yang bergemerincing dengan segera menyentuhnya dan mengeksplorasinya dengan menggunakan jari-jarinya. Tindakan-tindakan bayi bahkan lebih terarah keluar dibandingkan sebelumnya. Kemampuan koordinasi ini merupakan prestasi kedua munculnya kesenjangan. Sebagai contoh bayi dapat menggunakan sebuah tongkat untuk mengambil mainan yang diinginkan atau mereka juga dapat menabrakkan sebuah balok agar dapat meraih dan bermain dengan balok lain.
f.        Reaksi sirkuler tersier, kesenangan terhadap hal baru (novelty), dan keingintahuan adalah subtahap sensorimotor yang kelima menurut Piaget, berkembang antara usia 12 hingga 18 bulan. Dalam subtahap ini, minat bayi semakin tergugah terhadap berbagai karakteristik objek ataupun segala tindakan yang dapat mereka lakukan terhadap objek itu. Sebuah kontak dapat dijatuhkan, diputarkan, ditabrakkan ke diobjek lain, dan di gelindingkan. Reaksi sirkuler tersier adalah skema dari eksplorasi kesenjangan oleh bayi terhadap kemungkinan-kemungkinan baru yaang dapat dilakukan paadaa objek tertentu dan mengamati hasilnya. Menurut Piaget. Tahap ini menandai titik awal perkembangan keingintahuan dan minat terhadap hal baru.
g.      Internalisasi skema adalah subtahap sensorimotor yang keenam dan terakhir menurut Piaget, berlangsung di antara usia 18 hingga 24 bulan. Dalam subtahap ini, bayi mengembangkan kemampuan untuk mengguanakan simbol-simbol primitif. Menurut Piaget simbol adalah gambaran sensoris atau kata yang diinternalisasi merepresentasikan sebuah peristiwa. Simbol-simbol primitif memungkin bayi untuk memikirkan persitiwa-peristiwa konkret tanpa harus secara langsung melakukan atau melihatnya. Selain itu simbol-simbol juga memungkinkan bayi memanipulasi atau mentransformasikan peristiwa-peristiwa dengan cara sederhana (Santrock,2002).
Perkembangan motorik merupakan perkembangan dari unsur kematangan dan pengendalian dari gerak tubuh yang erat kaitannya dengan perkembangan pusat motorik di otak. Hurlock (1998) mengatakan bahwa perkembangan motorik adalah perkembangan gerak jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot yang terkoordinasi. Jadi perkembangan motorik merupakan kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf, otot, otak dan spinal card. Perkembangan motorik adalah proses yang sejalan dengan bertambahnya usia secara bertahap dan berkesinambungan, dimana gerak individu meningkat dari keadaan sederhana,tidak teroganisir dan tidak terampil, kearah penguasaan keterampilan motorik yang kompleks dan terorganisir dengan baik.











BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, intinya dari penelitian kualitatif adalah untuk mengidentifikasi karakteristik dan struktur fenoma serta peristiwa dalam konteks alaminya.  Dimana peneliti membuat suatu usaha untuk memahami suatu realitas organisasi tertentu dan fenomena yang terjadi dari perspektif semua pihak yang terlibat (Jonker, dkk.2011).
Menurut  pendapat  Hadari Nawawi (1993; 64) metode deskriptif dapat  diartikan sebagai ”prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan  menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek/obyek penelitian (seseorang,  lembaga,  masyarakat  dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan  fakta  fakta  yang  tampak atau sebagai mana adanya”. Dapat dipahami bahwa metode deskriptif adalah suatu metode yang memberikan gambaran secermat mungkin  dan gambaran yang nyata tentang masalah yang diteliti berdasar fakta yang ada.
Penelitian mengenai makna Tedhak Siten bagi masyarakat Jawa ini di lakukan dengan menggunakan penelitian yang bersifat kualitatif untuk mendapatkan data primernya.
Untuk mendeskripsikan makna upacara Tedhak Siten tersebut maka di lakukan penelitian lapangan dalam mendapatkan data primer. Selain itu dalam penelitian ini peneliti juga memerlukan data sekunder yang di peroleh melalui studi kepustakaan, berupa jurnal buku-buku, dan hasil penelitian para ahli sebelumnya.
Dalam penelitian ini adalah metode wawancara mendalam yang dilakukan dengan informan. Wawancara ini di lakukan dengan cara tatap muka dalam bentuk dialog dan percakapan. Wawancara mendalam ini di lakukan guna mendapatkan sebanyak mungkin gambaran dan keterangan dari informan yang berkaitan dengan topik penelitian, hal ini khususnya mengenai makna Tedhak Siten. Wawancara ini dilakukan dengan menggunakan interview guide yaitu berupa daftar pertanyaan yang telah disusun sebelum di lakukan pengumpulan data lapangan. Interview guide ini di perlukan untuk mengantisipasi agar pertanyaan yang disampaikan tidak menyimpang dari topik penelitian.
Dalam melakukan wawancara penulis melakukan tiga tahap. Tahap pertama, penulis mengidentifikasi masyarakat Dusun Kriya Desa Tambaksari yang terlibat aktif sebagai pemimpin atau secara langsung memiliki pengetahuan mendalam terhadap upacara tersebut. Tahap kedua, peneliti melakukan wawancara mendalam kepada informan dengan menggunakan teknik mencari informan secara berjenjang. Informan pertama menentukan informan kedua dan seterusnya, berhenti jika data telah mencukupi. Tahap ketiga, penulis mencoba menggali lebih dalam lagi mengenai upacara Tedhak Siten pada saat wawancara dengan menganalisa makna pelaksanaan upacara Tedhak Siten bagi masyarakat Jawa.
Pada saat wawancara penulis menggunakan alat bantu semacam catatan lapangan. catatan lapangan di sini di gunakan untuk mencatat poin-poin penting dari hasil wawancara. Hal tersebut di maksudkan agar peneliti dapat lebih mudah dalam penyusunan data. Penelitian ini dilakukan pada pertengahan bulan April sampai awal Mei 2016. Lokasi penelitian berada di Dusun Kriya Desa Tambaksari Kecamatan Purwosari Kota Pasuruan. Ada beberapa narasumber yang berperan dalam proses pengumpulan informasi yang dimana semuanya termasuk orang-orang Jawa daerah sekitar lokasi penelitian yaitu (1) Sesepuh dusun Kriya Ibu Sarlin berusia 70 tahun sebagai subjek 1, (2) Guru PAUD dusun Kriya Ibu Masriah usia 40 tahun sebagai subjek ke 2, (3) Ibu rumah tangga di Dusun Kriya ibu Kastin usia 44 tahun sebagai subjek ke 3.







BAB IV
PEMBAHASAN

Secara harfiah upacara Tedhak Siten berasal dari dua kata yakni Tedhak artinya turun atau menapakkan kaki, dan Siten dari kata siti artinya tanah atau bumi. Jadi Tedhak Siten berarti menapakkan kaki ke bumi. Tedhak Siten menggambarkan persiapan sang anak untuk menjalani kehidupan yang  benar dan sukses di masa mendatang, dengan berkah Tuhan dan bimbingan orangtua sejak masa kanak-kanak, dengan menjalani kehidupan yang baik dan benar di bumi sekaligus tetap merawat dan menyayangi bumi, selain itu untuk mengingat bahwa bumi atau tanah telah memberikan banyak hal untuk menunjang kehidupan manusia.
Makna  dalam  kebudayaan  bersifat publik, dan  kembali  kepada  konteks masyarakat  pendukungnya,  karena mereka saling berbagi konteks makna dalam kebudayaan tersebut. Sehingga secara  sosial kebudayaan  terdiri  dari  struktur-struktur makna dalam tema-tema berupa sekumpulan tanda yang dimana  masyarakat melakukan suatu tindakan, mereka dapat hidup di dalamnya,  atau pun menerima celaan atas makna tersebut dan kemudian menghilangkannya.
Dengan demikian, kebudayaan menemukan artikulasinya melalui alur tingkah laku, atau melalui tindakan sosial. Hendaknya diingat bahwa tanah adalah salah satu elemen badan manusia dan yang tak terpisahkan dengan elemen-elemen yang lain, yaitu air, udara dan api, yang mendukung kiprah kehidupan di dunia ini.
Upacara ini dilakukan ketika seorang bayi berusia delapan bulan dan mulai belajar duduk dan berjalan di tanah. Secara keseluruhan, upacara ini di maksudkan agar ia menjadi mandiri di masa depan. Upacara seperti ini biasanya  di selenggarakan di serambi  rumah atau rumah bagian depan atau di pendopo, sedangkan keperluan lain yang ada rangkaiannya dengan upacara itu di  selenggarakan di gandhok rumah atau rumah  bagian belakang.
Tedhak Siten yang identik dengan tahapan perkembangan usia anak dalam siklus kehidupan biasanya dilakukan bagi seorang anak yang berusia delapan  bulan atau pitung lapan, karena pada usia ini seorang anak sudah berada pada  tahap belajar berjalan sehingga sang orang tua mengadakan suatu upacara untuk sang anak.
Seperti pernyataan dari informan bahwa Tedhak Siten merupakan upacara yang dilaksanakan untuk seorang anak yang berumur pitung lapan (7-8  bulan) dimana pada umur ini sang anak sudah memasuki tahap baru yaitu sudah mulai berjalan. Upacara Tedhak Siten dalam masyarakat Jawa, masih ada yang melaksanakan karena merupakan warisan dari nenek moyang yang sudah mengakar keberadaannya. Secara keseluruhan, upacara ini dimaksudkan agar ia menjadi mandiri.
Tedak Siten juga sebagai bentuk pengharapan orang tua terhadap buah hatinya agar sang anak kelak siap dan sukses menapaki kehidupan yang penuh  dengan rintangan dan hambatan dengan bimbingan orang tuanya. Ritual ini sekaligus sebagai wujud penghormatan terhadap siti (bumi) yang memberi  banyak hal dalam kehidupan manusia. Berdasarkan hasil penelitian dapat di pahami bahwa upacara. Tedhak Siten adalah upacara yang khusus di laksanakan bagi seorang anak yang berumur tujuh dan delapan bulan (pitung lapan), dimana upacara  ini  adalah sebuah ritual  peringatan  yang  dilakukan orangtua  karena  sang  anak mulai belajar berjalan.
Tedhak Siten dalam bahasa Indonesia berarti turun tanah. Upacara ini dilakukan sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan karena seorang bayi yang berumur 7- 8 bulan (7 Lapan) mulai menapakkan kaki di atas bumi. Upacara ini biasanya si bayi akan diangkat oleh ibu atau ayahnya memakai beberapa buah anak tangga bambu, kemudian perlahan- lahan turun kembali menapaki anak tangga itu menuju tanah, prosesi inilah yang kemudian terkenal dengan nama Tedhak Siten. (Yana:2010).
Tedhak Siten adalah upacara pada saat anak turun tanah untuk pertama kali, atau disebut juga mudhun lemah atau unduhan, masyarakat beranggapan bahwa tanah mempunyai kekuatan gaib, disamping itu juga adanya suatu anggapan kuno bahwa tanah ada yang menjaga yaitu Batharakala.
Di Dusun Kriya Desa Tambaksari Kecamatan Purwosari Kota Pasuruan, apabila usia bayi telah mencapai 7-8 bulan (pitung lapan), maka dirayakan dengan upacara Tedhak Siten, yang oleh sementara orang disebut pitonan/mitoni. Upacara Tedhak Siten biasanya ada ketentuan hari untukmelaksanakannya, yaitu disesuaikan dengan hari lahir (neton atau weton : bahasa jawa) si anak. Adapun sarana yang harus disediakan dalam upacara Tedhak Siten di Dusun Kriya Desa Tambak Sari, ialah :
a.      Jambangan (bak mandi) yang diisi dengan air bunga setaman.
b.      Sangkar ayam (kurungan : bahasa jawa).
c.       Benda-benda yang diletakkan dalam kurungan, diantaranya: padi, kapas, alat-alat tulis dan bokor yang berisi beras kuning.
d.      Tikar yang masih baru (ukuran 8 meter x 3,5 meter) sebagai alas kurungan.
e.      Tangga terbuat dari tebu.
f.        Juadah (nasi ketan yang telah dilumatkan), juadah ini terdiri dari tujuh warna : merah, putih, hitam, biru, kuning, ungu, dan merah jambu.
g.      Sajian untuk kenduri yang terdiri dari nasi tumpeng, panggang ayam dan lauk pauk lainnya seperti kulupan. Serta dilengkapi pula seperti : jajan pasar , bubur putih dan bubur sengkala.
Adapun jalannya upacara thedak siten di Dusun Kriya Desa Tambaksari ini lebih sederhana daripada Thedak siten pada umumnya, yaitu setelah segala sarana upacara tersedia maka pemimpin upacara (dhukun bayi) membimbing anak yang diselamati untuk menginjak satu kali setiap jenis juadah dari ketujuh jenis tersebut. Kemudian anak dibimbing untuk menaiki tangga kecil yang terbuat dari pohon tebu yang mempunyai tujuh buah tangga satu kali. Tangga dibuat dari batang tebu rejuna atau Arjuna. Selanjutnya anak di dimasukkan ke dalam kurungan yang dialasi tikar dan didalamnya telah disediakan padi, kapas, alat-alat tulis, serta bokor yang berisi beras kuning dan uang logam.
Di dalam kurungan si anak disuruh memegang (memilih) salah satu barang-barang yang disediakan di dalam kurungan. Pada saat itu hadirin yang mengikuti jalanya upacara diminta untuk menyaksikan benda apa yang dipegang oleh anak tersebut, karena menurut kepercayaan benda yang dipegang anak melambang kan mata pencahariannya (nasib) si anak dikelak kemudian hari. Kemudian uang dan beras kuning yang ditaruh pada bokor, ditaburkan dan diperebutkan oleh anak- anak kecil yang mengikuti upacara. Setelah itu anak dikeluarkan dari sangkar, kemudian di mandikan didalam bak yang diisi air bunga setaman.
Setelah selesai dimandikan si anak diberi pakaian dan perhiasan baru. Kegiatan selanjutnya adalah kenduri yang dipimpin oleh tukang kajat (modin). Dengan adanya kenduri tersebut, maka berakhirlah upacara Tedhak Siten, dan sejak saat itu anak sudah diperbolehkan bermain-main di tanah.
Bagi masyarakat Jawa anak merupakan sesuatu hal yang sangat di dambakan, karena anak dapat memberikan suasana hangat dalam sebuah keluarga dimana kehangatan tersebut  dapat  menentramkan  dan  memberikan  kedamaian  dalam hati. Selain itu anak juga dianggap sebagai jaminan bagi orang tua kelak dihari tua, hal inilah maka banyak sekali upacara adat yang dilaksanakan oleh orang tua terhadap anak pada masyarakat Jawa untuk  seorang anak baik ketika masih didalam kandungan hingga anak sudah  dewasa. Salah satu upacara yang di laksanakan untuk anak dalam suatu keluarga yaitu upacara Tedhak Siten.
Melihat fakta yang ada bahwa masyarakat suku Jawa Dusun Kriya Desa Tambaksari Kecamatan Purwosari Kota Pasuruan ada yang melaksanakan upacara adat Tedhak Siten walaupun masyarakat yang ada kurang memamahi secara menyeluruh makna dan nilai yang terkandung di dalam upacara tersebut,tapi hal ini merupakan suatu fenomena budaya yang patut diteliti, karena masyarakatnya yang beragam ternyata masih menjunjung tinggi adat dan istiadat. Upacara ini sendiri mempunyai makna bahwa anak tersebut mampu berdiri dalam menempuh kehidupan.
Dalam upacara tedhak siten mengandung beragam makna filosofis yang diwujudkan dengan bermacam-macam prosesi dan sesaji. Semuanya itu memiliki tujuan dan harapan agar si anak memiliki tubuh yang sehat, dan bisa menjalan kehidupan dengan baik. Dari prosesi awal, hingga yang terakhir memiliki nila-nilai dan harapan dari si orang tua. Makna filosofis dari berbagai prosesi tedhak siten adalah sebagai berikut :
a.      Berjalan melewati tujuh jadah dengan tujuh rupa.
Jadah merupakan simbol kehidupan yang akan dilalui si anak. Aneka warna memiliki berbagai makna. Merah melambangkan keberanian. Putih bermakna kesucian. Hitam artinya kecerdasan. Kuning merupakan simbol kekuatan. Biru berarti kesetiaan. Merah muda menandakan cinta kasih dan ungu sebagai lambang ketenangan. Makna yang terkandung dalam jadah ini merupakan simbol kehidupan yang akan dilalui si anak. Mulai dari menapakkan kakinya untuk pertama kali ke bumi ini sampai dewasa. Sementara warna-warna tersebut merupakan gambaran dalam kehidupan si anak yang akan menghadapi banyak pilihan dan rintangan yang harus dilaluinya.
Jadah 7 warna yang disusun dari warna gelap ke warna terang menggambarkan masalah yang dihadapai si anak mulai dari yang berat sampai yang ringan. Jumlah jadah yang dibuat yaitu 7 buah (pitu). Harapannya seberat apa pun masalahnya pasti akan ada jalan keluarnya (mendapatkan pitulungan dari Tuhan Yang Maha Esa). Tujuh buah juga melambangkan jumlah hari yang akan dilalui oleh si anak dalam menjalani kehidupannya.
b.      Menaiki tangga tebu
Jumlah anak tangga adalah tujuh buah, dan menggunakan tebu arjuna. Tebu berasal dari kata antebing kalbu, yang berarti penuh tekad dan rasa percaya diri. Dipilih tebu arjuna agar si anak kelak meneladani watak kepahlawanan dan keberanian Arjuna dalam membela kebenaran.
c.       Kurungan (Sangkar ayam)
Kurungan atau sangkar ayam yang dihiasi janur dan kertas warna warni dan diisi oleh berbagai benda-benda. Kurungan ayam menyiratkan tentang gambaran kehidupan nyata yang akan dimasuki si anak jika kelak ia dewasa. Kenapa memakai kandang ayam, karena orang tua berharap agar anak dalam mengarungi kehidupan bisa cepat mandiri layaknya ayam. Sedangkan benda-benda yang ada di dalam kurungan itu menggambarkan pekerjaan yang ingin dijalani oleh si anak kelak.
d.      Menyebarkan Bokor
Makna dari upacara ini adalah pengharapan kedua orang tua kepada si anak agar nantinya bisa mendermakan rezekinya kepada mereka yang membutuhkan.
e.      Melakukan  Siraman
Makna dari siraman ini adalah  pengharapan,  dalam  kehidupannya,  anak ini  nantinya  harum namanya dan  bisa  mengharumkan  nama  baik  keluarganya. Kemudian di dandani  dengan  pakaian  baru  maksudnya  supaya  bayi  mempunyai  jalan kehidupan yang bagus dan bisa membuat bahagia keluarganya.
Dalam acara ini, ada juga perlengkapan pendukung seperti Sesaji, antara lain nasi tumpeng, panggang ayam, lauk pauk, bubur merah putih, jajanan pasar. Bubur merah putih melambangkan sengkala (rintangan). Merah artinya darah, sedangkan putih artinya air mani. Beragam jajanan pasar memiliki makna dalam kehidupan kita akan banyak berinteraksi dengan banyak orang dengan beragam karakter sehingga si anak dapat dengan mudah bersosialisasi pada masyarakat.
Nilai religius yang terkandung dalam setiap rangkaian acara pelaksanaan upacara Tedhak Siten dalam tradisi masyarakat diDusun Kriya Desa Tambaksari Kecamatan Purwosari Kota Pasuruan. Nilai pendidikan keimanan dengan nilai Ilahi di gambarkan dalam prosesi berjalan di atas Bubur Tujuh Warna dengan tujuan  mampu untuk mengatasi segala masalah dan tujuan mampu untuk mengatasi segala masalah.
Nilai-nilai pendidikan ibadah dengan nilai insani dengan digambarkan  menaiki anak tangga diharapkan sang anak makin tinggi dan makin naik. Selanjutnya digambarkan menaiki anak tangga diharapkan sang anak makin tinggi  dan makin naik maka sesuai dengan nilai religius memiliki maksud kerukunan  antar sesama yaitu ketika adanya rasa saling tolong menolong. Kriteria yang digambarkan sebagai gambaran seperti turunnya di tangga tebu anak setelah  dewasa akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya setelah dewasa akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya di dalam kebutuhan hidup ada beberapa yang  dapat dimiliki setiap pelaksana tedhak siten dengan memiliki nilai religius. Menilai dengan maksud gambaran sebagai nilai-nilai religius seperti masuk  kurungan ayam diharapkan terpenuhi kebutuhannya melalui  pekerjaan atau aktivitas. Menyebarkan uang logam, penyebaran uang logam maksud dari hal tersebut kelak suka menolong dan dermawan. Siraman sebagai pengharapan, dalam kehidupannya, anak ini nantinya harum namanya dan bisa mengharumkan  nama baik keluarganya. Memberikan tambahan seperti mendandani dengan  pakaian baru. Supaya bayi mempunyai jalan kehidupan yang bagus dan bisa membuat bahagia keluarganya.
pada upacara Tedak siten dalam tradisi budaya Jawa yang dilakukan ketika anak pertama belajar jalan dan dilaksanakan pada usia sekitar tujuh atau delapan bulan. Secara keseluruhan, upacara ini bermakna untuk mengajarkan konsep kemandirian pada anak. Oleh sebab itu sangat diharapkan apabila seorang anak harus mampu berjalan saat usia 7-12 bulan.
Upacara Tedhak Siten selalu ditunggu-tunggu oleh orangtua dan kerabat keluarga Jawa karena dari upacara ini mereka dapat memperkirakan minat dan  bakat bayi berusia 7 bulan yang baru bisa berjalan. Pernyataan ini disampaikan oleh sesepuh yaitu Ibu Sarlin. “Tedak siten merupakan bagian dari adat  dan tradisi masyarakat jawa, upacara ini dilkukan untuk anak yang baru pertama kali belajar berjalan atau pertama  kali  menginjakkan  pada  tanah  dan  selalu  ditunggu-tunggu  oleh orang  tua  atau  kerabat,  tedak  siten  berasal  dari  dua kata "tedhak" berarti menampakkan  kaki  dan “siten”berasal  dari  kata  "siti"  yang  berarti  bumi, upacara ini dilakukan ketika seorang bayi berusia 7 bulan dan mulai belajar duduk dan berjalan ditanah, secara keseluruhan upacara ini bertujuan agar ia menjadi mandiri dimasa depan”.
Beberapa rangkaian pelaksanaan tradisi tedhak siten yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa  Bendo Kecamatan Kepanjen Kidul Kota Blitar diantaranya: yang pertama, dimulai dengan membuat bubur kemudian  diadakannya doa bersama dan membagikannya kepada para tetangga.
Keinginan orang tua untuk memberikan anaknya yang terbaik sesuai dengan norma-norma adat istiadat yang harus dilestarikan sejak dulu hingga sekarang selalu mengenalkan anak sedini mungkin dengan alam. Sebab hal ini sangat baik untuk perkembangan dan pertumbuhan anak pada tahap mengenal. Pada upacara ini anak pertama kalinya mulai bersentuhan dengan tanah. Saat inilah pengembangan daerah sensorik dan motorik dari korteks serebral memungkinkan  koordinasi  yang  lebih  baik  antara  apa  yang anak  ingin lakukan  dan  apa  yang bisa  mereka  lakukan. Setiap anak yang baru dilahirkan pada awalnya akan merasakan bahwa dunia sekitarnya serba asing, aneh dan tidak dipahami sama sekali tetapi perlahan anak akan mengalami perkembangan. Perkembangan tersebut berlangsung atas bantuan orangtua dan lingkungannya untuk memberikan stimulasi sensorik yang akan mengontrol panca inderanya dan stimulasi motorik untuk mengontrol aktivitas geraknya. Kerjasama antara pola pikir dengan pancaindra anak, yang baru berfungsi dengan baik setelah diasah melalui kekayaan pengalaman hidup, baik yang positif maupun negatif atau dikenal dengan sensomotorik.
Menurut Piaget pada usia sensomotorik berlangsung mulai dari kelahiran sampai berusia 2 tahun, dalam tahap ini bayi membangun suatu pemahaman mengenai dunia dengan cara mengoordinasikan pengalaman-pengalaman sensoris (contohnya melihat dan mendengar) melalui tindakan-tindakan fisik-motorik oleh karenanya diberi istilah sensorismotor. Semakin banyak kesempatan serta pengalaman gerakan motorik anak semakin membuat pola gerak anak menjadi berkesinambungan maka anak menjadi cepat tanggap dan memiliki kesadaran akan pancaindranya dan lebih waspada terhadap rintangan yang mungkin menghambat dalam pencapaian tujuannya serta anak menjadi mampu mengatasi permasalahan yang datang(Santrock,2012).
Jika perkembangan sensomotoriknya kurang lancar atau kurang sempurna sekalipun anak bisa berjalan dan berlari dengan baik, cara kerja sistem indra anak menjadi kurang baik, akibatnya respon anak menjadi sangat lamban dan tidak seimbang dengan pikirannya (sering menangis atau marah-marah kepada orang lain dan dirinya sendiri, tidak bisa duduk diam, suka menabrak-nabrak, merobek-robek atau ingin merusak benda-benda yang dilihatnya tanpa alasan yang jelas). Terkadang anak terlihat berjalan sambil berputar-putar, menjinjit, menginjak benda-benda yang dilewatinya, senang melompat-lompat di tempat, senang mengganggu temannya, emosinya labil dan sering berpikir negatif.
Keterampilan motoriknya pun berkembang baik motorik kasar maupun halus. Keterampilan motorik kasarnya dapat dilihat ketika anak dituntun berjalan pertama kalinya ketanah, ia mulai menyadarkan tubuhnya pada perbedaan antara sebelum dan sesudah menginjak tanah. Pada saat itu anak menggerakan tubuhnya dengan menggunakan otot-otot besar dari tubuh, lengan, hingga kaki untuk menggantikan obyek dalam beberapa. Anak berkembang dari yang  sangat sederhana untuk gerakan lebih kompleks, setiap perkembangan membangun landasan logis untuk keterampilan berikutnya.
Dalam pelaksanaan tedhak siten, anak dirangsang dengan berbagai benda yang disediakan hingga ia dituntun untuk berjalan menyentuh tanah. Dalam pertumbuhan anak sangat baik anak belajar berjalan secara alami karena dapat melatih 100 persen serabut motorik otot.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.     Kesimpulan
Proses  pelaksanaan  Tedhak  Siten  dalamtradisi  masyarakat  di  Dusun Kriya Desa Tambaksari Kecamatan Purwosari Kota Pasuruan. Prosesi dan langkang-langkah yang dilakukan yaitu anak 7 bulan dituntun berjalan diatas bubur tujuh warna. Ini perlambang, anak mampu melewati berbagai rintangan dalam hidupnya. Strata kesadarannya juga selalu meningkat lebih tinggi. Dimulai dari kehidupan duniawi,  untuk menunjang dan mengembangkan diri, terpenuhi kebutuhan raganya,  kehidupan materinya cukup, raganya sehat, banyak keinginannya terpenuhi. Seiring pertumbuhan lahir, keperluan batin meningkat ke kesadaran spiritual.
Anak 7 bulan dituntut menaiki anak tangga tebu merupakan akronim dari tebing  kalbu, mantapnya kalbu, dengan tekad hati yang mantap. Tebu arjuna melambangkan  supaya  bayi  bersikap  seperti  arjuna, seorang yang berwatak satria dan bertanggung jawab. Selalu berbuat baik dan benar, membantu sesama  dan kaum lemah, membela kebenaran, berbakti demi bangsa dan negara. Anak 7  bulan dituntut turun di tangga tebu maksudnya bayi setelah dewasa akan mampu  memenuhi kebutuhan hidupnya. Anak 7 bulan masuk kurungan ayam. Kurungan merupakan perlambang dunia nyata, jadi bayi memasuki dunia nyata dan dalam kehidupannya dia akan dipenuhi kebutuhannya melalui pekerjaan atau aktivitas  yang telah dipilihnya secara intuitif sejak  kecil. Orang tua menyebarkan uang  logam maksudnya bayi sewaktu dewasa menjadi orang yang dermawan, kemudian  melakukan siraman yang maknanya merupakan pengharapan, dalam  kehidupan anak ini nantinya harum namanya dan bisa mengharumkan nama baik keluarganya. Dan terakhir yaitu di dandani dengan pakaian baru maksudnya  supaya bayi mempunyai jalan kehidupan yang bagus dan bisa membuat bahagia keluarganya.
Nilai religius yang terkandung dalam setiap rangkaian acara pelaksanaan upacara Tedhak Siten dalam tradisi masyarakat di Dusun Kriya Desa Tambaksari Kecamatan Purwosari Kota Pasuruan. Nilai pendidikan keimanan dengan nilai Ilahi di gambarkan dalam prosesi berjalan di atas Bubur Tujuh Warna dengan tujuan  mampu untuk mengatasi segala masalah dan tujuan mampu untuk mengatasi segala masalah.
Nilai-nilai pendidikan ibadah dengan nilai insani dengan digambarkan  menaiki anak tangga diharapkan sang anak makin tinggi dan makin naik. Selanjutnya digambarkan menaiki anak tangga diharapkan sang anak makin tinggi  dan makin naik maka sesuai dengan nilai religius memiliki maksud kerukunan  antar sesama yaitu ketika adanya rasa saling tolong menolong. Kriteria yang digambarkan sebagai gambaran seperti turunnya di tangga tebu anak setelah  dewasa akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya setelah dewasa akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya di dalam kebutuhan hidup ada beberapa yang  dapat dimiliki setiap pelaksana tedhak siten dengan memiliki nilai religius. Menilai dengan maksud gambaran sebagai nilai-nilai religius seperti masuk  kurungan ayam diharapkan terpenuhi kebutuhannya melalui  pekerjaan atau aktivitas. Menyebarkan uang logam, penyebaran uang logam maksud dari hal tersebut kelak suka menolong dan dermawan. Siraman sebagai pengharapan, dalam kehidupannya, anak ini nantinya harum namanya dan bisa mengharumkan  nama baik keluarganya. Memberikan tambahan seperti mendandani dengan  pakaian baru. Supaya bayi mempunyai jalan kehidupan yang bagus dan bisa membuat bahagia keluarganya.
B.      Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas maka, dapat diberikan saran-saran sebagai berikut ini:
1.      Sebagai generasi penerus harus menghargai tradisi atau kepercayaan  yang sudah diwariskan oleh nenek moyang sebagai warisan budaya.
2.      Untuk masyarakat jawa agar terus melestarikan budaya atau tradisi yang telah diwariskan oleh nenek moyang secara utuh, karena dalam setiap tradisi yang ada mengandung banyak nilai-nilai yang baik bagi kehidupan.
3.      Untuk masyarakat mempunyai kewajiban untuk menjaga, memelihara, dan melestarikan budaya baik budaya lokal maupun nasional, karena budaya merupakan bagian dari kepribadian bangsa.


DAFTAR PUSTAKA

Bratawidjaja, Thomas Wiyasa. 2000. Upacara Tradisional Masayarakat Jawa. Jakarta: Sinar Harapan.
B.R. Hergenhahn & Matthew H. Olson, Theories of Learning (Teori Belajar), alih bahasa: Tri Daeng Sudirwo. 2000. Kurikulum pembelajaran dalam otonomi daerah. Bandung; Andira
Dahri, Harapandi. 2009. TabotJejakCinta KeluargaNabi di Bengkulu. Jakarta: Citra. Hal. 76
Geertz, clifford.1986 Tafsiran budaya. Diterjemahkan oleh Rohani Sulaiman. Malaysia; Ampang Press Sdn. Bhd.
Hurlock, Elizabeth, B. (1978). Child Development, Sixth Edition. New York : Mc. Graw Hill, Inc.
Janker, Jan dkk. 2011. Metodologi Penelitian. Jakarta : Salemba Empat
Koentjaraningrat. 1997. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia. Hal. 81
Murniatmo,  Gatut.  2000.  Khazanah Budaya  Lokal.  Yogyakarta: Adicipta.
Mohd. Surya, 2003,Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran,Cet. II, Bandung: Yayasan Bhakti
Narwoko  dan  Suyanto.  2009. Sosiologi; Teks Pengantar dan Terapan Jakarta: Rajawali. Winaya, hal. 56
Nawawi,  Hadari  1993.  Metode Penelitian  Bidang  Sosial. Yogyakarta:  Gajah  Mada University Press.
Purwadi. 2005. Upacara Tradisional Jawa. Hal. 1,2
Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Rajawali Pers. 
Santrock, John W. 2002. Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Erlangga
Syani, Abdul. 2007. Sosiologi Sistematika, Teoridan Terapan. Jakarta: PT. BumiAksara.
Santrock, John W. 2002. Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Erlangga
Syani,  Abdul.   2007.  Sosiologi Sistematika, Teori dan Terapan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Wibowo B.S., Cet. III, Jakarta: Prenada Media Group, 2010, hal. 313.
Yana,  M.H.  2010  Falsafah  dan Pandangan  Hidup  Orang Jawa. Yogyakarta: Absolut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar